Bab Empat Puluh Delapan: Warna Musim Semi
Malam itu sangat dingin.
Namun, hati Qin Nan jauh lebih dingin.
Setibanya di paviliun kecil, Ziyer segera membantu Qin Nan melepas mantel. Qin Nan duduk lesu di kursi sandar dan berkata, "Ziyer, bawakan aku arak."
Ziyer terkejut mendengarnya. Ia tahu Qin Nan selama ini tak pernah menyentuh minuman keras. Kenapa setelah pulang dari kediaman Tuan Muda Ximen, ia terlihat begitu putus asa?
Meski begitu, Ziyer tetap mengambilkan sebotol arak. Qin Nan langsung mengambilnya dan meneguk tanpa ragu. Ini kali pertama Qin Nan minum arak, sehingga ia langsung terbatuk, namun tetap saja ia memaksa arak itu masuk ke mulutnya.
Apa yang bisa menghapus duka? Hanya araklah jawabnya!
Qin Nan mencoba melupakan kesedihan dengan minum. Satu botol arak habis dalam satu tegukan, wajahnya pun memerah. Jika bukan karena kekuatan dalam tubuhnya, ia pasti sudah tumbang karena mabuk.
Ziyer segera merebut botol dari tangan Qin Nan, raut wajahnya cemas. Ia berkata lembut, "Kakak Qin, ada apa denganmu? Apa Tuan Muda Ximen memarahi Kakak? Meski begitu, tak seharusnya Kakak merusak tubuh sendiri seperti ini. Kakak bisa celaka!"
Qin Nan yang sudah agak mabuk setelah menenggak arak, tersenyum pahit. "Andai Tuan Muda Ximen hanya memarahiku, aku tak akan kesal. Tapi dia mengancamku dengan nyawa keluargaku untuk memaksaku melakukan sesuatu. Sungguh menyebalkan. Padahal aku sangat berterima kasih pada Tuan Besar Ximen. Tanpa dia, aku takkan jadi seperti sekarang, ayah dan adikku pun bisa hidup layak. Tapi Tuan Muda Ximen benar-benar membuatku kecewa!"
Ziyer terdiam mendengar itu. Lama ia terdiam, lalu berkata, "Apakah tugas yang diberikan Tuan Muda Ximen sangat sulit bagi Kakak? Jika iya, mengapa Kakak tidak pergi saja dari keluarga Ximen?"
Qin Nan tersenyum dingin. "Tugasnya tidak sulit. Tapi aku paling benci diancam. Kalau dia memintaku baik-baik, aku pasti tak akan menolak. Tapi dia secara halus mengancam keluargaku. Apakah aku tipe orang yang mau diancam begitu saja?"
Ziyer memang tidak paham semua permasalahannya, tapi ia bisa merasakan beban di hati Qin Nan. Ia sendiri tak punya orang tua, hidup sebatang kara dan menderita. Karena itu, ia memahami perasaan Qin Nan saat ini.
Ziyer pun bangkit, mendekati Qin Nan, lalu merangkul lehernya dan berbisik lembut, "Kakak Qin, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisimu."
Aroma harum khas gadis muda menyapa hidung Qin Nan. Menatap wajah Ziyer yang cantik, Qin Nan pun tertegun.
Saat itu, pengaruh arak semakin terasa. Qin Nan tiba-tiba mencium bibir Ziyer.
"Kakak Qin!" Ziyer terkejut, bibirnya tertutup oleh Qin Nan, tubuhnya langsung kaku.
Saat itu, Ziyer merasa seluruh darah di tubuhnya mengalir ke kepala, pikirannya kosong. Namun ia tidak melawan. Setelah sekian lama bersama, Ziyer memang sudah menganggap dirinya milik Qin Nan. Kalau tidak, saat di kota kecil di luar kota dulu, ia tak akan membiarkan Qin Nan tidur di sampingnya.
"Ziyer!"
Aroma harum gadis muda semakin menusuk hidung, hasrat dalam diri Qin Nan menyala. Ia memeluk Ziyer, tangannya perlahan menyusuri tubuh gadis itu yang laksana pahatan giok.
"Ah!" Ziyer menjerit malu, tapi bibirnya telah terkunci oleh Qin Nan, membuatnya tak bisa bicara.
Tangan Qin Nan bergerak ke dada Ziyer, meremas lembut dua bukit muda yang menandakan kedewasaan perempuan. Meski Ziyer masih muda, tubuhnya sudah mulai berkembang.
Qin Nan meremas puncak bukit Ziyer, membuat wajah gadis itu memerah, dan suara lirih pun keluar dari bibirnya.
Suara itu membakar seluruh tubuh Qin Nan, hingga ia merobek gaun ungu Ziyer. Tubuh Ziyer yang indah segera tersingkap di depan mata Qin Nan.
Ziyer semakin malu, ia memeluk Qin Nan erat-erat, wajahnya merah padam.
Namun sikap Ziyer justru membuat Qin Nan yang setengah mabuk semakin tergila-gila. Qin Nan mengangkat Ziyer dan membawanya masuk ke kamar di lantai atas.
Malam semakin larut.
Cahaya lampu minyak di atas meja bergetar terkena angin, seakan akan padam setiap saat, dan dari paviliun kecil itu terdengar suara lirih penuh kemesraan. Malam itu, benar-benar menjadi malam tanpa tidur.
Keesokan harinya, Qin Nan perlahan membuka mata. Ia merasa kepalanya berat, jelas akibat terlalu banyak minum semalam.
Tangan Qin Nan tanpa sengaja menyentuh tubuh halus dan lembut di sampingnya. Ia terkejut, menoleh, dan mendapati Ziyer tertidur di sampingnya, tanpa sehelai benang pun, selimut menutupi sebagian tubuhnya, dan noda merah perawan tertinggal di sprei.
Qin Nan langsung teringat kejadian semalam, dan ia menyesal dalam hati. Sungguh, karena mabuk semalam, ia telah melewati batas bersama Ziyer.
Saat itu, Ziyer pun terbangun. Melihat raut wajah Qin Nan, ia tahu apa yang dipikirkan Qin Nan.
"Kakak Qin, maafkan aku, ini semua salahku," ujar Ziyer pelan, menundukkan kepala, tak berani menatapnya.
Qin Nan segera berkata, "Bukan! Ini semua salahku, akulah yang telah merusakmu!"
Ziyer buru-buru menimpali, "Jangan! Bisa melayani Kakak Qin adalah anugerah bagiku. Kakak tak perlu memikirkannya. Aku akan tetap menjadi pelayan Kakak Qin, selama Kakak tak mengusirku, aku sudah sangat bahagia."
"Ziyer!"
Qin Nan terharu mendengarnya, ia memeluk Ziyer erat-erat.
Wajah Ziyer pun jadi merah padam.
Qin Nan memeluk Ziyer dan berkata, "Setelah tugas ini selesai, kita tinggalkan kediaman Ximen. Kau ikut aku pulang. Aku yakin ayah dan adikku pasti akan menyukaimu, bagaimana?"
Mendengar itu, air mata menetes di mata Ziyer, ia mengangguk malu-malu.
Qin Nan melihat ke luar jendela, hari sudah pagi. Kalau ia tidak bergegas, pasti akan terlambat, apalagi ayah dan adiknya masih dalam kekuasaan keluarga Ximen. Qin Nan menggigit bibirnya dan berkata, "Ziyer, aku pergi dulu. Tunggu aku!"
Ziyer mengangguk patuh. Qin Nan menatap Ziyer dengan lembut, lalu mengenakan pakaian dan keluar dari paviliun kecil.
...
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya terbit, dunia masih gelap. Namun di halaman besar kediaman Ximen, sepuluh lelaki telah berkumpul.
Mereka adalah orang-orang yang ditugaskan kali ini, dan Qin Nan salah satunya.
Qin Nan teringat Ziyer, hatinya terasa hangat. Diam-diam ia memutuskan, setelah tugas ini selesai, ia akan membawa Ziyer pergi dari tempat penuh masalah ini.
Seorang lelaki tua berbadan kurus berjubah biru berjalan mendekat—dialah Sun Gangzheng. Ia memandang semua orang dengan wajah serius dan mengangguk, lalu berkata, "Baik! Semua sudah lengkap, kita berangkat!"