Bab 127 Mata Emas Tiga
Cian Mengyi menatap jurang yang tercipta oleh tangannya sendiri itu dalam waktu lama, terpaku di tempat.
“Hmm, sepertinya tidak ada yang selamat. Sayang sekali. Padahal awalnya aku tidak berniat membunuh dua orang itu…”
Setelah itu, ia berbalik dan pergi.
Tak lama setelah Cian Mengyi meninggalkan tempat tersebut, Dugu Bo tiba dengan menggendong Dugu Yan di punggungnya.
Matanya membelalak, dipenuhi keterkejutan, saat menatap jurang yang tak terlihat dasarnya itu.
Jurang yang membara tersebut memancarkan hawa panas mengerikan, sementara energi yang masih mengamuk terus berkeliaran dengan liar.
Dugu Bo begitu terkejut sampai tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Di belakangnya, Dugu Yan juga terdiam seribu bahasa…
Setelah membunuh “tikus” yang dahulu berhasil melarikan diri, suasana hati Cian Mengyi segera menjadi jauh lebih lega.
Ia terus menembus hutan lebat, mencari seekor binatang jiwa yang telah hidup selama ratusan ribu tahun.
Tanpa terasa, tiga hari berlalu.
Selama tiga hari, Cian Mengyi telah menjelajahi Hutan Besar Bintang Dou.
Namun, tidak ada hasil sedikit pun. Bahkan bayangan binatang jiwa berusia seratus ribu tahun pun tidak terlihat.
Meski telah tidur beratapkan langit dan beralaskan tanah selama tiga hari, kepercayaan dirinya sama sekali tidak goyah.
Sebaliknya, ia justru mempertahankan sikap tenang.
Tidak tergesa-gesa, mencari perlahan-lahan.
Siapa tahu, pada detik berikutnya, seekor binatang jiwa berusia seratus ribu tahun datang menyerahkan diri?
Dengan pikiran seperti itu, pagi kembali berlalu.
Siang hari.
Di samping tumpukan kayu bakar, Cian Mengyi memegang beberapa tusuk daging yang telah dibersihkan dan menaruhnya di atas api.
Hmm, makan siang hari ini adalah daging panggang.
Api membakar daging, membuat minyaknya mendesis dan menetes keluar.
Kulit daging mulai menguning perlahan.
Mata Cian Mengyi berbinar.
Ia segera mengambil salah satu tusuk sate, lalu mengendusnya.
Benar-benar makanan terbaik di dunia!
Dengan tidak sabar, ia menaburkan bumbu yang telah disiapkan sebelumnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Itu adalah perpaduan sempurna antara jiwa dan daging.
Rasanya seakan-akan seluruh tubuhnya mengalami penyucian.
Sensasi yang luar biasa menggugah lidahnya.
Cian Mengyi tidak pernah menyangka masakannya sendiri bisa seenak ini.
Ia lalu mengambil tusuk sate berikutnya.
Namun, ketika sedang menikmati daging panggang itu dengan lahap, semak-semak di sampingnya tiba-tiba bergoyang.
Cian Mengyi menoleh.
Sebuah kepala muncul dari balik semak-semak.
Kemudian disusul tubuh kecil.
Seekor binatang jiwa yang sangat aneh.
Tiga mata di kepalanya tampak sangat mencolok. Sepasang mata normalnya berkilau keemasan, sedangkan mata vertikal di dahinya berwarna merah darah.
Warna merah itu memancarkan kesan ganjil dan memikat.
Bulu tubuhnya berwarna keemasan, sementara seluruh tubuhnya tampak transparan seperti kristal, memancarkan aura yang luar biasa.
Cakarnya menyerupai cakar naga, bahkan pijakannya diselimuti nyala api emas. Jika diperhatikan dengan saksama, di balik bulu keemasannya ternyata terdapat sisik-sisik emas yang rapat.
Binatang jiwa aneh itu tidak besar.
Dari perkiraan, tingginya sekitar lima puluh sentimeter, sedikit lebih dari satu meter jika berdiri tegak.
Tatapan Cian Mengyi menjadi aneh. Bukan hanya karena penampilan makhluk itu yang unik, melainkan juga karena ia sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
Menurut logika, makhluk selemah itu seharusnya sudah terdeteksi olehnya. Namun, ketika makhluk tersebut telah mendekat sedemikian rupa, barulah ia menyadarinya.
Jelas ada yang tidak beres.
Jangan-jangan aku terlalu berkonsentrasi?
Namun, itu tetap tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin aku sama sekali tidak merasakan apa pun?
Saat Cian Mengyi masih kebingungan, binatang kecil yang aneh itu telah merangkak sampai ke hadapannya. Sepasang matanya menatap penuh harap pada daging yang berada di tangan Cian Mengyi.
Tatapannya sangat hidup. Sama sekali tidak tampak keganasan yang biasa dimiliki binatang jiwa.
Mata kecilnya yang jernih membuat Cian Mengyi semakin tertarik.
Ia mengangkat tusuk sate di tangannya.
“Kau juga ingin makan daging panggang?” tanya Cian Mengyi sambil tersenyum.
Binatang kecil itu ternyata mengangguk.
Cian Mengyi menjadi semakin tertarik.
“Kau ternyata mengerti bahasa manusia! Kalau begitu, beri tahu aku namamu, dan aku akan memberikan makanan ini kepadamu.” Ia kembali mengangkat tusuk sate bambu di tangannya.
Binatang kecil itu tampaknya mengerti, tetapi sepertinya juga tidak.
Ia mengusap kepalanya dan berpikir sejenak.
Kemudian, ia menggelengkan kepala.
Sesudah itu, ia menatap Cian Mengyi dan mengeluarkan dua suara, “Aum! Aum!”
Cian Mengyi merasa hal itu sangat menarik.
Namun, ia tidak mengerti apa yang dikatakan binatang kecil tersebut.
Ia pun membawa daging panggang di tangannya ke mulut, lalu menggigitnya sedikit demi sedikit.
“Kalau kau tidak memberitahuku namamu, aku tidak bisa memberikan daging ini kepadamu. Jadi, lebih baik aku memakannya sendiri,” ujar Cian Mengyi.
Melihat keadaan itu, binatang kecil tersebut tampak mulai panik.
Ia menatap daging panggang itu dengan gelisah.
Cakarnya mengais-ngais tanah dengan terburu-buru, sementara mulutnya mengeluarkan suara mendengus, seolah sedang memohon.
Cian Mengyi menyeringai puas.
“Hei-hei, kau ingin makan, ya? Tapi aku tidak akan memberikannya kepadamu! Ha-ha…”
Dengan sengaja, Cian Mengyi menggoyang-goyangkan tusuk sate di tangannya.
Namun, sebelum ia sempat bersenang-senang lebih lama, mata binatang kecil itu tiba-tiba berbinar.
Kemudian, tubuhnya berubah menjadi kilatan cahaya keemasan.
Dalam sekejap, ia melesat melewati api unggun yang sedang berkobar, lalu menerjang langsung ke semak-semak di sisi lain.
Semak-semak itu bergoyang dua kali, kemudian sosoknya lenyap tanpa jejak.
“Hei! Kau ini!”
Cian Mengyi berteriak. Ia tidak menyangka binatang jiwa itu akan langsung merampas makanan setelah gagal memintanya.
Barusan, makhluk itu telah mencuri tiga tusuk daging panggang miliknya yang sedang matang sempurna.
Namun, Cian Mengyi tidak berniat mengejarnya.
Kalau ia benar-benar menginginkannya, binatang kecil itu pasti sudah berada dalam genggamannya pada saat menerjang tadi.
Akan tetapi, ia tidak melakukan hal tersebut. Meskipun baru pertama kali melihat binatang jiwa yang begitu misterius, ia tidak berniat menjadikannya milik sendiri.
Ia hanya merasa tertarik.
Menggodanya sebentar sudah lebih dari cukup.
Tepat ketika Cian Mengyi mengira makan siangnya akan berlalu dengan tenang, binatang kecil yang tampak begitu ilahi itu kembali.
Kepala bulatnya terlebih dahulu muncul dari balik semak-semak.
Matanya langsung terkunci pada beberapa tusuk daging yang kembali dipanggang oleh Cian Mengyi.
Cian Mengyi segera berdiri. Satu tangannya melindungi daging panggang, sementara tangan lainnya menunjuk ke arah binatang tersebut.
Dengan nada geli sekaligus kesal, ia berkata, “Kau benar-benar rakus, ya! Barusan aku sudah membiarkanmu membawa kabur beberapa tusuk. Sekarang kau masih mau kembali untuk mencuri lagi?”
Mata bundar binatang kecil itu tidak berkedip sedikit pun.
Ia terus menatap lurus daging panggang yang dilindungi Cian Mengyi.
Air liur kental mengalir dari sudut mulutnya.
Seluruh matanya dipenuhi keinginan.
Kemudian, ia bergerak sekali lagi.
Meski tubuhnya kecil dan usianya seharusnya belum tinggi, kecepatannya telah melampaui beberapa ahli jiwa tingkat empat.
Namun kali ini, ia tidak berhasil merebut daging lezat itu dari tangan manusia.
Sebuah tangan besar yang kejam mencengkeram kuat tengkuknya.
Gerakannya terhenti seketika, tubuh kecil itu tergantung di udara.
Daging panggang berada tepat di depan matanya.
Tidak peduli seberapa lebar mulutnya terbuka, seberapa bulat matanya membelalak, ataupun seberapa keras keempat kakinya mengibas, ia tetap tidak mampu mencicipi kelezatan yang begitu dekat.
Air liurnya terus menetes.
“Aum…”
Ia mengeluarkan suara mengeluh penuh kesedihan.
Merasakan perlawanan makhluk itu di tangannya, Cian Mengyi tertawa.
“Wah, tubuhmu memang kecil, tetapi tenagamu ternyata tidak sedikit juga. Hampir saja aku tidak mampu menahanmu.”
Kemudian, dengan tangannya yang lain, Cian Mengyi menjauhkan tusuk sate tersebut.
Binatang kecil itu hanya bisa menyaksikan daging panggang kesayangannya semakin jauh dari jangkauan.
Suara rengekannya pun menjadi semakin menyedihkan.
Cian Mengyi lalu memegang wajah makhluk itu dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke depan mata.
Ia mengamatinya dengan saksama.
“Hmm, benar-benar tampak luar biasa! Mata di dahimu ini memberiku perasaan yang sangat aneh. Meskipun aku tidak tahu siapa namamu, kau pasti seekor binatang ilahi, bukan?”