Bab 146: Qian Mengyi Melawan Malaikat Yan
Yan memandangi sosok yang mengaku sebagai malaikat di hadapannya, dengan kebingungan terpancar dari matanya.
“Malaikat dari dunia lain?”
Qian Mengyi mengangguk.
“Lalu, bagaimana kau akan membuktikan semua ini?” Sudut bibir Yan sedikit terangkat. Tiba-tiba, sebilah pedang yang diselimuti kobaran api muncul di tangannya.
Senjata Pembantai Dewa Sejati, Pedang Api Berkobar.
Ujung pedang itu diarahkan tepat kepada Qian Mengyi.
Senyum pun muncul di wajah Qian Mengyi.
Di tangannya juga muncul sebilah pedang yang terbakar api.
Pedang Suci Malaikat.
“Kenapa? Ingin menguji kekuatanku?”
“Nama malaikat tidak boleh dinodai. Karena kau mengaku sebagai malaikat, biarkan aku mengakuimu!” Mata Yan dipenuhi hawa dingin dan semangat bertarung.
Qian Mengyi tidak mau kalah.
“Aku akan membuatmu mengakuiku...”
Suasana di tempat itu seketika membeku.
Tatapan keduanya bagaikan kilat, seolah-olah bertabrakan di udara dan memercikkan bunga api dahsyat.
Detik berikutnya, Qian Mengyi bergerak lebih dahulu.
Sosoknya melesat seperti hantu.
Dalam sekejap, ia menerjang Yan.
Pedangnya menggoreskan lengkungan indah, tetapi dengan mudah ditepis oleh Yan. Keduanya pun berpapasan.
Qian Mengyi langsung menerobos keluar melalui jendela kaca besar yang telah pecah.
Tanpa berhenti sedikit pun di udara, ia berubah menjadi seberkas cahaya kelabu dan melesat menuju awan.
Tatapan aneh melintas di mata Yan.
Ia juga segera menerobos keluar.
Seberkas cahaya putih mengejarnya dari belakang.
Orang-orang di dalam ruangan menyaksikan pemandangan itu dengan wajah tercengang, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Qiangwei bergegas menuju jendela.
Ia memandang ke luar.
Namun, kedua sosok itu sudah tidak terlihat.
Sambungan telepon kembali dibuka.
“Jenderal Dukao, telah terjadi keadaan darurat! Sepertinya dua malaikat itu mulai bertarung!”
“Di mana mereka?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya melihat mereka terbang ke langit, lalu menghilang di balik awan.”
“Baik, aku mengerti. Tetap pertahankan sambungan telepon dan bersiaplah setiap saat.”
“Siap, Komandan!”
Di atas cakrawala, pemandangan kota yang dipenuhi bangunan padat sudah lama menghilang. Yang terbentang hanyalah lautan awan putih tanpa ujung.
Keduanya kini telah berdiri di atas awan.
“Kenapa? Tidak mau lari lagi?” Tatapan Yan terasa dingin.
“Aku tidak pernah berniat melarikan diri. Hanya saja, pertarungan kita terlalu mengejutkan bagi orang-orang di bawah sana. Jika mereka melihatnya, mereka akan merasakan kekejaman dunia ini terlalu dini.” Qian Mengyi terkekeh pelan.
“Bukankah semut memang seharusnya menengadah dan menyaksikan wujud dewa? Rasa iba darimu tidak ada artinya.” Nada bicara Yan sangat dingin.
“Sesungguhnya, dunia ini tidak membutuhkan dewa.”
Tiba-tiba, sepasang sayap di punggung Yan mengepak hebat.
Pada detik berikutnya, Pedang Api Berkobar menebas dari atas kepala.
“Benarkah!”
Rambut keemasannya berkibar tertiup angin.
Qian Mengyi mengangkat pedangnya untuk menahan serangan itu.
“Benar, memang begitulah!”
Matanya menatap lawannya tanpa berkedip.
Yan menarik pedangnya, lalu kembali mengayunkannya dengan ganas.
“Kau benar-benar tidak tampak seperti seorang malaikat! Yang lemah tidak pantas mendapatkan belas kasihan.”
Qian Mengyi kembali menahan serangan itu.
Ia dapat merasakan dengan jelas bahwa kekuatan lawannya kali ini jauh lebih besar.
Energi mengerikan meledak dari bilah pedang Yan.
Energi itu merebak seketika.
Tubuh Qian Mengyi terdorong mundur oleh kekuatan besar tersebut.
“Apakah aku malaikat atau bukan, bukan kau yang berhak menentukannya!”
Cahaya dingin berkilat di mata Yan.
Ia terus mengejar.
Kedua sayap di punggungnya mengepak dengan dahsyat.
Dalam sekejap, kecepatannya mencapai puncak.
Ia menembus hambatan suara.
Udara meledak, menghasilkan jeritan nyaring yang menusuk telinga.
Sebuah kerucut tak kasatmata yang dapat terlihat dengan mata telanjang menerobos maju dengan kekuatan tak terbendung.
Udara runtuh dan membentuk tekanan angin dahsyat.
Qian Mengyi tiba-tiba merasakan tekanan mengerikan datang dari segala penjuru.
Pada saat itu, ia teringat pada jurus Ditian. Setiap serangan Ditian membuatnya mustahil menghindar, sekaligus memberinya tekanan yang luar biasa.
Pedang Yan kali ini juga tampaknya tidak dapat dihindari.
Namun, kekuatannya tetap tidak sebanding dengan Ditian.
Pada saat yang sangat genting, Qian Mengyi tiba-tiba menarik tubuhnya ke belakang.
Pakainnya terkoyak oleh badai angin.
Beberapa goresan pedang juga muncul di dadanya.
Darah merah segar mengalir keluar.
Sementara itu, Yan telah melewatinya dan kini berada di belakangnya.
Ia tiba-tiba berhenti melayang di udara.
Melihat Qian Mengyi yang keringat dingin mulai mengalir di dahinya, Yan terkekeh.
“Setelah bertempur selama tujuh ribu tahun, kau sungguh lemah dan menyedihkan.”
“Jangan terlalu sombong. Terlalu banyak membual bisa membuat lidahmu tergigit!” Darah di dada Qian Mengyi seketika berhenti mengalir.
Pada saat yang sama, lukanya mulai menutup dengan kecepatan yang dapat dilihat mata.
“Sepertinya, hari ini aku harus mengajarimu cara menjadi manusia!”
Yan kembali mengangkat pedangnya.
“Kalau begitu, ayo!”
Qian Mengyi justru tersenyum.
Pada saat yang sama, cahaya keemasan melintas di mata Yan.
Kedua sayapnya mengepak.
Sekali lagi, ia berubah menjadi kilat.
Pedang Api Berkobar di tangannya menggoreskan garis tipis di udara dalam sekejap.
Kali ini, ia memilih menebas.
Qian Mengyi merasakan tekanan angin kembali menerjang. Perhatian dan seluruh tubuhnya dibebani tekanan mengerikan itu.
Namun, warna aneh melintas di matanya.
Detik berikutnya, aura mengerikan meledak.
Gelombang energi yang sangat besar menyebar berlapis-lapis.
Tekanan angin hancur berkeping-keping.
Cahaya tajam memancar dari mata Qian Mengyi.
Ia mencabut pedangnya!
Lalu menebas!
Seolah-olah meteor melintas di langit.
Cahaya merah menyala sesaat, lalu lenyap.
Dentang keras senjata beradu menggema.
Yan hanya merasakan kekuatan besar mengalir melalui kedua tangannya hingga telapak tangannya robek.
Tubuhnya langsung terpental jauh.
Qian Mengyi tetap melayang di udara dan tidak mengejarnya.
Namun, senyum aneh muncul di wajahnya.
Malaikat cantik ini ternyata tidak mengenakan celana dalam.
“Aku melihatnya! Renda putih! Ternyata kau cukup berkelas juga!”
Suara menggoda itu menggema di udara.
Malaikat Yan, yang baru saja menghentikan tubuhnya, tetap memasang wajah tenang tanpa riak.
“Lalu?”
Qian Mengyi terdiam sejenak.
“...Apa kau tidak punya reaksi lain?”
“Makhluk rendah yang dangkal. Jantan sepertimu, yang pikirannya hanya dipenuhi hasrat kawin, membuatku merasa jijik.”
Tiba-tiba, niat membunuh memancar dari tubuh Yan.
Qian Mengyi seketika merasakan punggungnya meremang.
Entah mengapa, ia justru merasa bersemangat.
“Sepertinya kau benar-benar membosankan. Kalau begitu, aku akan mulai serius!”
Cincin jiwa ketujuh di tubuhnya berkilau.
Pada detik berikutnya, cahaya berputar-putar di sekelilingnya.
Di bawah sinar matahari, muncul sosok setinggi dua hingga tiga meter.
Tubuhnya berwarna perak keabu-abuan, dan di bawah cahaya matahari warna itu mengalir seperti riak air.
Dua belas pasang sayap terbentang di punggungnya.
Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang diselimuti api kelabu, tampak gelap dan sama sekali tidak memantulkan cahaya.
Aura aneh memancar dari tubuhnya.
Wujud Malaikat Cahaya dan Kegelapan.
Inilah salah satu wujud yang jarang digunakan Qian Mengyi.
Ada dua alasan utama.
Pertama, dalam wujud ini, konsumsinya dua kali lipat dibandingkan dua wujud biasanya. Memang, kekuatan serangannya juga berlipat ganda, tetapi ia tidak dapat bertahan lama.
Alasan lainnya adalah ia tidak dapat menggunakan teknik jiwa dalam keadaan ini. Benar-benar tidak bisa. Ia hanya dapat menggunakan serangan biasa dan kekuatan mental.
Karena itulah, wujud ini terasa tidak terlalu berguna baginya.
Itulah sebabnya, ketika dahulu menghadapi Ditian, ia terus bertarung menggunakan Malaikat Kegelapan. Bahkan dalam situasi hidup dan mati, ia tidak menggunakan wujud Malaikat Cahaya dan Kegelapan.
Bukan karena ia menyembunyikan kartu truf.
Memang, ia sudah tidak memiliki kartu truf lain.
“Kalau begitu, biarkan aku melihat seberapa besar kekuatanmu sebenarnya!”
Tubuh Yan juga memancarkan aura keras kepala, disusul ledakan tekanan dahsyat.
Di dalam kehampaan, energi kegelapan dalam jumlah tak terhitung berkumpul di sekitar tubuh Yan.
Pedang di tangannya tampak semakin berkilauan.