Bab 52: Pemeliharaan Kawanan Serangga
Segera setelah gerombolan serangga merayapi kapal pesiar, di bawah naungan suara lembut nyanyian Robin, bayangan kematian dari kawanan serangga itu menyelimuti benak setiap orang.
Diiringi jeritan ketakutan yang bersahut-sahutan, perlahan-lahan beberapa orang mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Kerumunan orang berangsur-angsur keluar dari kapal pesiar dan naik ke atas dek.
Namun, ketika melihat lambung kapal yang mulai ternoda oleh darah serta gerombolan serangga mengerikan yang muncul di hadapan mereka, mereka pun tak kuasa menjerit histeris.
"Cepat kembali! Halau serangga-serangga itu di luar!"
Semua orang berlari tunggang-langgang menerobos masuk ke dalam kapal pesiar. Namun, kawanan serangga yang telah mengecap bau darah itu telah menjadi benar-benar banta dan mulai mengayunkan sabit tajam mereka, melakukan pembantaian massal di tengah kerumunan.
Tak lama kemudian, lambung kapal pesiar yang begitu besar permukaannya sudah tertutup rapat oleh serangga-serangga.
Gerombolan serangga berdesakan di pintu dan jendela, menggunakan sabit tajam mereka untuk terus memukul-mukul.
Suara bising yang dihasilkan saat sabit menggores jendela mengoyak saraf setiap orang, bagaikan peringatan dini kematian dari neraka.
Xie Xuan, yang bersembunyi di dalam kapal pesiar bersama kerumunan orang, juga menyadari keanehan dari serangga-serangga di luar jendela tersebut.
Serangga-serangga ini tidak sepenuhnya berjalan di jalur asimilasi kepunahan; sebaliknya, di dalam tubuh mereka, kekuatan dari jalur takdir lainnya sepenuhnya memegang peran dominan.
"Keharmonisan..."
Nyanyian Robin bergema sayup-sayup dari kejauhan di atas permukaan laut, sementara kapal pesiar terus melaju ke tempat yang jauh, semakin menjauh dari saat fajar tiba, dan dengan cepat menghilang dari pandangan.
"Pasti Robin yang ingin mencelakai kita! Serangga-serangga ini pasti sengaja dipelihara olehnya di sini!"
Di tengah isak tangis yang tertahan, seorang pria bertubuh kurus tiba-tiba berdiri dan berkata dengan gigi gemeretak.
Perhatian semua orang langsung tersedot oleh ucapannya ini.
"Atas dasar apa kau mencurigai serangga-serangga ini dipelihara oleh Nona Robin? Lagi pula kita hanyalah orang biasa, tidak punya permusuhan apa pun dengannya yang seorang bintang besar, untuk apa dia mencelakai kita?"
Seorang penggemar berat Robin berdiri untuk membantah.
Pria kurus itu memelototinya dan mencibir, "Hah, orang bodoh yang masih membantu menghitung uang untuk orang yang telah menjualnya..."
"Aku tanya padamu, bukankah hari ini Robin muncul di tepi pantai? Dia sangat jarang datang ke sini, muncul secara tiba-tiba saja sudah aneh, ditambah lagi dia menyamar secara sembunyi-sembunyi, jelas-jelas dia datang untuk melihat serangga-serangga ini!"
"Adapun acara kali ini, kemungkinannya besar juga diatur bersama olehnya dan ketua klub penggemar itu, tujuannya adalah untuk memancing kita ke tengah laut, menjauh dari alam mimpi, melepaskan diri dari pengawasan Keluarga, agar kita bisa dijadikan sebagai makanan untuk memberi makan gerombolan serangga yang dipeliharanya di dasar laut!"
"Robin itu pasti ingin memanfaatkan kawanan serangga peliharaannya untuk membantunya atau membantu kakaknya menjadi penguasa Penacony!"
Pria itu berbicara dengan nada penuh keyakinan. Saat semua orang diliputi rasa gugup dan sensitif akibat teror kawanan serangga, omongannya ini dengan cepat mendapat kepercayaan dari banyak orang.
Seketika itu pula, tangisan di dalam kapal pesiar tidak lagi terdengar, berganti dengan makian dan hujatan yang ditujukan kepada Robin dan Sunday.
"Semua, aku jamin pada kalian, mengenai kejadian malam ini, aku sungguh tidak tahu apa-apa!"
Tiba-tiba, di tengah cacian tersebut, sosok Robin mendadak muncul di hadapan pandangan semua orang.
Saat ini, ia masih mengenakan mantel berwarna krem itu, sementara topi pet dan masker wajahnya telah dibuang ke samping.
Ia berdiri di sana, menarik pandangan setiap orang dan menjadi pusat perhatian.
"Semua orang, hari ini aku muncul saat fajar menyingsing karena aku mendengar bahwa matahari terbit di sini sangat indah, jadi aku datang secara diam-diam, murni hanya untuk menikmati pemandangan yang indah."
"Lagipula, acara pelayaran kali ini pun baru aku ketahui saat waktu fajar tiba. Mengenai gerombolan serangga di dasar laut, aku benar-benar tidak tahu apa-apa! Jika tidak, aku juga tidak akan muncul di atas kapal pesiar ini!"
Ucap Robin. Menghadapi tatapan dari orang-orang, ia sama sekali tidak merasa gentar, nadanya tetap tenang saat menjelaskan kepada semuanya.
Pria kurus yang tadi melontarkan spekulasi tersebut justru mencibir, "Orang bisa tahu wajahnya tapi belum tentu hatinya, siapa yang tahu apakah di balik penampilan gemilangmu itu tersembunyi jiwa psikopat yang ingin melihat serangga-serangga mencabik-cabik tubuh kami?"
Robin menarik napas dalam-dalam, mata indahnya menatap lurus ke arah pria itu, "Apa yang harus kulakukan agar kau percaya bahwa segala hal di sini sama sekali tidak ada hubungannya denganku?"
Pria itu mendengus dingin sambil membuang muka, mengarahkan jarinya ke pintu yang tertutup rapat, "Keluar sana. Jika serangga-serangga itu menyerangmu, maka kami akan percaya bahwa kau tidak ada hubungan dengan mereka."
"Keluarga telah mengatakan bahwa tidak ada kematian di dalam alam mimpi. Sebagai anggota Keluarga, berilah kami contoh."
Gerombolan serangga di luar semakin mengamuk. Pada saat di mana orang-orang seharusnya memikirkan cara untuk menyelamatkan diri dari bahaya, kerumunan itu justru melampiaskan seluruh kebencian yang bersumber dari tebakan semata kepada seorang gadis muda.
Situasi seperti ini, bahkan bagi Xie Xuan yang telah melintasi satu demi satu dunia, adalah kali pertama ia menyaksikannya.
"Lempar dia keluar, lihat apakah dia benar-benar satu komplotan dengan serangga-serangga ini!"
Pria itu membentak dengan keras, "Semua jangan takut, ini adalah alam mimpi, dan Keluarga telah berjanji tidak akan ada kematian di dalam mimpi. Kematian Robin di sini, jika dibawa ke kenyataan, dia paling-paling hanya bermimpi buruk, jangan takut!"
Didorong oleh hasutan dari sang pria, rasa takut luar biasa yang timbul akibat menghadapi gerombolan serangga seketika berubah menjadi amarah yang meluap-luap.
Pada saat ini, mereka tidak lagi peduli siapa sebenarnya Robin, tidak peduli apakah dia adalah bintang terkenal di alam semesta, atau apakah dia adalah anggota penting dari Keluarga.
Di dalam mimpi, tidak ada kematian.
Namun wanita inilah yang telah mengubah mimpi indah semua orang menjadi mimpi buruk dalam sekejap.
Jika masalah ini memang ada hubungannya dengan wanita itu, setelah terbangun dari mimpi, semua orang bisa mendatangi Keluarga untuk meminta kompensasi yang besar.
Bahkan jika tidak ada hubungannya dengan dia, hanya dengan kemunculan gerombolan serangga yang mengancam keselamatan jiwa mereka saja, mereka sudah bisa mendapatkan sejumlah uang kompensasi tertentu.
Mereka akan langsung melompat dari pekerja kelas bawah menjadi keluarga kelas menengah di Penacony.
Adapun balas dendam?
Demi menjaga reputasi mereka sendiri, Keluarga pasti akan bungkam seribu bahasa, apalagi memikirkan tentang balas dendam.
Secara keseluruhan, tidak mungkin rugi.
Menghadapi kerumunan orang yang perlahan-lahan mendekatinya, Robin mundur perlahan, ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu lagi, namun begitu bibirnya terbuka, yang terdengar hanyalah deru batuk, dan tetesan darah segar merembes keluar dari sudut bibirnya.
Menjauh dari kerumunan, Xie Xuan perlahan berjalan ke arah Robin.
Menyongsong tatapan penuh permohonan dari gadis itu, ia sedikit berbalik badan dan menatap ke arah kerumunan.
"Bagaimana? Berniat menjadi pahlawan di depan bintang besar, meninggalkan kesan yang baik, lalu melompat menjadi naga?"
Pria itu memandang Xie Xuan yang berdiri menghalangi kerumunan, lalu mencibir, "Percaya atau tidak, bahkan jika kami memukulumu sampai mati hidup-hidup di sini, setelah terbangun dari mimpi, bintang besar ini bahkan tidak akan ingat seperti apa wajahmu atau pakaian apa yang kau kenakan?"
Menggelengkan kepalanya, Xie Xuan sama sekali tidak berniat membuang kata-kata untuk meladeni mereka.
Titik-titik cahaya keemasan, bagaikan seberkas cahaya yang terpencar, mulai muncul dari udara kosong di tengah kerumunan, menyerupai kunang-kunang di jalan setapak hutan yang berterbangan ke segala arah.
Beberapa orang merasa bingung, lalu mengulurkan tangan untuk menangkap butiran-butiran cahaya tersebut dengan lembut di telapak tangan mereka.
Bahkan sebelum mereka sempat mengamati benda apa sebenarnya itu, cahaya yang terkumpul di tangan mereka mulai membakar tanpa peringatan. Diiringi jeritan kesakitan mereka, dalam sekejap mata seluruh orang berubah menjadi berkas cahaya biru muda dan lenyap di tempat.
Xie Xuan melirik sekilas ke arah Robin di belakangnya. Gadis itu membungkukkan badan, kedua tangannya dengan lembut memijat lehernya, sementara batuk kecil terus meluncur tanpa henti dari tenggorokannya.
Dan di atas tanah, sudah terdapat genangan darah kecil.
"Brak——!"
Seiring dengan sabit tajam gerombolan serangga yang merobek kaca kokoh kapal pesiar, seketika itu pula seluruh serangga mendesak masuk berebut.
Melihat kawanan serangga yang semakin mendekat, Xie Xuan sedikit mengerutkan keningnya.
Kumbang di atas bahunya mengeluarkan desisan, ukuran tubuhnya seketika membesar seukuran anak sapi, lalu berubah wujud menjadi sabit biru yang menerjang ke arah gerombolan serangga yang terus mendekat.
Namun jumlah serangga itu sangat banyak. Setelah membantai satu gelombang demi gelombang, kumbang yang saat itu belum sepenuhnya tumbuh besar tersebut dengan cepat jatuh dalam posisi terdesak.