Bab 104: Bisnis Tetap Harus Berjalan
Kepala Pelayan Wang tertawa kian lebar, lalu berkata kepada Shen Mixiang, "Sudahlah, Nak. Bisnis memang harus dilakukan, tetapi makan pun tetaplah kewajiban."
Tanpa memedulikan penolakan Shen Mixiang, dia langsung memanggil pelayan restoran dan memesan satu meja penuh hidangan. Shen Mixiang ingin menyela, namun karena perutnya memang sedang lapar, ia pun membiarkannya. Kepala Pelayan Wang tersenyum dan berujar, "Aku mendengar desas-desus bahwa putri ketiga keluarga Shen ini adalah gadis yang luar biasa."
Ucapan Kepala Pelayan Wang membuat Shen Mixiang bingung harus menjawab apa. Sambil tersenyum, ia bertanya, "Apa maksud Anda berkata demikian?"
"Meskipun kebijakan kekaisaran saat ini sudah lebih terbuka dan banyak putri bangsawan yang tidak lagi hanya berdiam diri di rumah, jumlah mereka tetaplah sedikit. Terlebih lagi, kebanyakan dari mereka hanya membantu urusan rumah tangga dan tidak melakukan hal-hal yang mencolok di depan umum." Shen Mixiang merasa ada yang janggal dengan kata-kata itu. Apakah ini pujian karena ia dianggap berbeda, ataukah teguran karena ia dianggap tidak tahu tata krama lantaran berani tampil di depan umum demi merebut bisnis keluarga He?
Apa pun maksudnya, Kepala Pelayan Wang sudah mengucapkannya. Shen Mixiang tidak berani membantah dan hanya bisa membalas dengan senyuman tipis yang dipaksakan.
Kepala Pelayan Wang ikut tertawa. Entah karena pengaruh statusnya sebagai kasim, suaranya terdengar sangat melengking, bahkan jauh lebih tajam daripada suara wanita pada umumnya. Ia tertawa dua kali, dan bagi Shen Mixiang, suara itu sungguh menusuk telinga. Namun, demi menjaga tata krama, Shen Mixiang tetap duduk tegak dan tersenyum sopan.
Setelah tawanya reda, Kepala Pelayan Wang bertanya, "Aku bilang kau suka mencolok di depan umum, apa kau tidak marah?"
"Itu hanyalah perkara sepele, tidak ada gunanya untuk marah. Lagipula, apa yang Anda katakan memang kenyataannya. Saya memang tampil di depan umum, tetapi saya tidak menganggapnya sebagai hal yang buruk. Sebaliknya, hal itu membuktikan kemampuan saya. Jika Anda memberikan kepercayaan ini kepada saya, saya pasti bisa menyelesaikannya dengan baik." Shen Mixiang memanfaatkan alur pembicaraan untuk tetap menjaga harga diri sang kepala pelayan, sekaligus mencoba kembali membahas peluang kerja sama.
Namun, Kepala Pelayan Wang adalah orang yang bertugas melakukan pengadaan di istana; ia adalah orang yang sangat licik. Shen Mixiang tidak mungkin bisa meyakinkannya hanya dengan satu atau dua kalimat. Kepala Pelayan Wang justru terus mengelak saat membahas bisnis dan malah membicarakan pertandingan polo beberapa hari lalu. "Kudengar penampilanmu sangat memukau di pertandingan polo waktu itu. Tuan Shen sungguh diberkati karena memiliki putri yang begitu hebat."
"Tidak, itu hanya keberuntungan semata." Shen Mixiang merasa kecewa karena Kepala Pelayan Wang sama sekali tidak berniat membicarakan bisnis, namun ia tetap mempertahankan senyumnya.
"Aku mendengar, meskipun pertandingan berakhir seri, penampilanmu sangat menonjol." Kepala Pelayan Wang terus melontarkan pujian. Meski merasa canggung, Shen Mixiang tetap meladeni dengan senyum ramah.
Shen Mixiang tidak tahu apa yang direncanakan oleh pria ini. Bisnis ini sangat penting bagi keluarga Shen, dan ia tidak ingin kehilangan kesempatan hanya karena salah bicara. Oleh karena itu, apa pun yang dikatakan Kepala Pelayan Wang, ia tidak berani bicara banyak dan hanya terus mengikuti alur sang kepala pelayan. Padahal, ia sadar betul bahwa jika terus begini, harapan untuk mendapatkan kontrak tersebut akan sirna.
Shen Mixiang mencoba sekuat tenaga mengalihkan topik kembali ke inti pembicaraan. "Pertandingan polo itu hanyalah permainan, para pemuda bangsawan pun hanya bermain-main, dan saya hanya beruntung. Namun, Kepala Pelayan Wang, percayalah, bisnis keluarga Shen bisa bertahan hingga hari ini bukanlah karena keberuntungan sesaat."
Suara Shen Mixiang terdengar tegas dan meyakinkan. Bahkan Yuanluo yang berdiri di belakangnya tampak sangat antusias; meski tidak bisa bicara, emosinya mengikuti setiap kata yang diucapkan majikannya.
Namun, tampaknya ucapan itu hanya berpengaruh pada Yuanluo. Kasim kecil di samping Kepala Pelayan Wang tidak menunjukkan reaksi, bahkan tampak berusaha menahan tawa. Shen Mixiang melirik sekilas tanpa melakukan tindakan apa pun. Di belakangnya, Yuanluo menatap kasim kecil itu dengan kesal, wajahnya menggembung karena marah.
Kepala Pelayan Wang melirik pengikutnya, dan sang kasim kecil segera memasang wajah datar, menghilangkan sisa tawa di wajahnya. Kepala Pelayan Wang kemudian berbalik dan bertanya kepada Shen Mixiang, "Tahukah kau mengapa dia tertawa?"
Shen Mixiang kembali melirik kasim kecil tersebut, lalu dengan senyum tipis menjawab, "Karena dia tidak memercayai perkataan saya, atau lebih tepatnya, dia tidak memercayai saya."
Kepala Pelayan Wang mengubah sikapnya yang tadinya santai menjadi serius. "Nona Muda Ketiga Shen, aku paham bahwa di bawah kepemimpinanmu bisnis ini memang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Namun, kuharap kau juga mengerti, ini semua hanya karena kau seorang gadis—gadis muda yang cukup cantik. Dibandingkan orang lain yang berbisnis dengan cara biasa, kau memiliki sedikit keunikan dan perbedaan." Suara sang kepala pelayan masih tetap melengking, terasa seperti duri kecil yang menusuk daging Shen Mixiang.
Tidak, lebih tepatnya, kata-kata itu menusuk tepat ke hati Shen Mixiang. Tidak peduli seberapa keras ia berusaha, di mata orang luar, ia hanyalah seorang gadis. Prestasi yang ia raih saat ini dianggap hanya karena keberuntungan, karena ia seorang gadis cantik yang kebetulan bernasib baik.
Shen Mixiang terdiam. Kepala Pelayan Wang melanjutkan, "Aku tahu kau pasti merasa tidak terima mendengarnya. Kau merasa dirimu mampu, tetapi dengarkan aku. Yang akan aku beli adalah rempah-rempah untuk kebutuhan istana, bukan rempah sembarangan yang bisa dipakai siapa saja. Barang ini harus dibuat dari bahan asli, bukan sekadar modal nama besar yang dibangun sesaat."
Semakin lama, nada bicara Kepala Pelayan Wang semakin tegas. Bahkan kasim kecil di belakangnya sampai mundur selangkah saat mendengar nada tinggi di akhir kalimat sang kepala pelayan. Jelas sekali bahwa Kepala Pelayan Wang bukanlah orang yang mudah diajak kompromi. Apa pun latar belakangnya—entah dia pejabat korup atau bukan—Shen Mixiang sadar bahwa mendapatkan pesanan ini tidaklah mudah.
"Saya mengerti apa yang Anda maksud. Saya sadar ini adalah pesanan untuk istana. Jika kami tidak melakukannya dengan baik, bukan hanya kerugian bisnis yang kami alami, tetapi jika ada bangsawan yang merasa tidak puas, taruhannya bisa jadi adalah nyawa kami." Saat mengucapkan kata "taruhan nyawa", Shen Mixiang tampak tenang dan tabah, seolah-olah ia tidak merasa takut sedikit pun.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Shen Mixiang tahu betul bahwa ia sebenarnya sangat takut dan gentar. Ia sangat memahami betapa seriusnya masalah ini. Yuanluo yang berdiri di belakangnya merasa ngeri mendengar ucapan tersebut, ia pun diam-diam mendekat dan menarik ujung pakaian Shen Mixiang.