Tanpa Inovasi, Bukan Sastra Daring (Kesan Setelah Terbit)
Hari ini novel ini mulai dijual, dan sesuai kebiasaan internasional, harus ada sedikit aksi manis atau curhat sedih, kalau tidak, dari mana datangnya uang? Dunia novel daring sebenarnya tak berbeda dengan dunia hiburan; tren utamanya adalah tampil menggemaskan, curhat sedih, mengikuti arus, meniru, dan memakai pola yang sudah ada.
Aku bukan tipe orang yang sok keren, sebenarnya dalam novel ini aku punya pemahaman yang jelas soal mengikuti tren. Mengikuti tren itu bukan hal buruk, yang buruk adalah mengikuti tanpa berpikir. Sementara itu, yang namanya mimpi dan niat awal seringkali terkikis oleh hal-hal remeh dalam keseharian.
Sebagian besar penulis novel pasti punya impian tentang kata-kata, aku pun begitu. Tapi jujur saja, menulis beberapa ribu kata setiap hari, sehari dua hari sih tidak masalah, tapi setelah setahun atau lebih, siapa yang masih ingat mimpi besar itu? Uang di rekening jauh lebih nyata.
Sudah tahu harus belajar pola-pola penulisan, meniru kreativitas orang lain biar bisa dapat uang, berapa banyak orang yang bisa bertahan keras kepala sampai akhir? Tapi aku selalu merasa, novel daring itu sejatinya setara dengan inovasi.
Aku mulai mengenal novel daring sejak SMP, sama seperti banyak orang lain, waktu itu membacanya di persewaan buku. Sejak kecil aku suka membaca, bacaanku pun beragam, dari karya klasik sampai komik, dari kisah silat hingga akhirnya novel daring.
Yang paling awal kubaca mungkin "Legenda Raja Iblis" atau "Klan Naga", aku sendiri lupa yang mana, lalu ada "Perjalanan Melayang", "Prajurit Kecil", "Sungai Ungu", dan masih banyak lagi. Waktu itu aku sendiri heran, gaya penulisan novel-novel itu sangat buruk, logikanya kacau, alurnya sederhana dan kasar, tak sebanding dengan novel-novel yang kubaca sebelumnya, tapi kenapa rasanya sangat menarik?
Aku rasa, mayoritas pembaca sama seperti aku, suka novel daring bukan karena alasan yang muluk-muluk, hanya karena suka saja. Setelah agak dewasa, aku mengerti, suka novel daring itu karena kebebasan dan inovasinya.
Menulis novel itu sebenarnya ingin menunjukkan dunia dalam pikiran kita kepada semua orang, dan kebahagiaan berbagi inilah yang hampir selalu jadi niat awal para penulis. Dibandingkan dengan karya cetak, inti dari novel daring adalah kebebasan dan inovasi; kamu boleh menulis dengan gaya yang masih kasar, alur yang kaku, logika yang berantakan, tapi kamu tidak boleh tidak berinovasi. Begitu kehilangan inovasi, kamu sudah tak punya apa-apa.
Seringkali hidup itu membosankan dan menyiksa, kita semua mencari sesuatu yang berbeda, dan novel daring berhasil mengisi kekosongan itu. Aku pernah melihat pria paruh baya yang matang, berumur tiga atau empat puluh tahun, tapi suka membaca novel sederhana karya mahasiswa atau pelajar. Kenapa? Karena itu adalah dunia yang dilihat penulis, kehidupan yang berbeda, seberapa kekanak-kanakan pun, itu tetap milik mereka, sesuatu yang berbeda, terasa segar.
Tapi perlahan-lahan, dunia novel daring berubah. Seperti industri mana pun, ketika sudah besar dan keuntungan makin kompleks, muncullah masalah standarisasi dan pola baku.
Kalau soal kualitas, novel-novel sekarang jauh lebih baik dari generasi awal novel daring, tapi sudah hilang semangatnya, kehilangan kebebasan dan inovasi. Karena ada yang sukses, ada yang kaya dari novel daring, maka penulis-penulis berikutnya mulai mempelajari cara meniru, cara menghasilkan uang dengan cara yang sama.
Muncullah pola, muncullah template. Untuk dunia novel daring, ini adalah kemajuan, standarisasi adalah bukti nyata kemajuan industri. Tapi bagi pembaca, ini adalah duka besar. Yang sudah tiga atau empat tahun membaca novel, hampir pasti pernah merasa kekurangan bacaan, apalagi para pembaca lama.
Dalam novel ini aku juga pernah bilang, biaya inovasi di dunia hiburan terlalu tinggi, pendatang baru yang berinovasi seperti mencari mati, di dunia novel daring pun sama saja. Buku ini, kalau di awal tidak kutambahkan beberapa adegan tertentu, mungkin bahkan tidak akan lolos kontrak.
Sebuah buku, kontrak adalah standar paling dasar. Jika tidak dikontrak, sebagus apa pun tulisanmu, tak ada yang akan membacanya. Dalam novel ini juga kusebutkan satu kekeliruan, para pekerja hiburan selalu bilang, "Kami buat film jelek karena penonton memang suka tontonan murahan," anehnya banyak yang percaya.
Hal yang sama juga sering terdengar di dunia novel daring, "Kalau aku tidak menulis sesuai pola, tak ada yang baca, pembaca memang sukanya begitu." Sebenarnya, apa pembaca punya pilihan? Baik penonton maupun pembaca, selamanya hanya bisa pasrah. Jika di depanmu hanya ada tumpukan apel busuk, kamu hanya bisa memilih yang paling tidak busuk, masa harus menanam apel sendiri?
Lalu kenapa penulis suka menjadikan selera pembaca sebagai alasan? Dalam novel ini aku juga sudah bilang, karena itu mudah. Kalau bisa dapat uang tanpa repot, kenapa harus bersusah payah berinovasi?
Bicara inovasi itu mudah, prakteknya sangat sulit. Ide itu murah, bahkan sistem kreativitas pun murah, ujung-ujungnya tetap tergantung kemampuan penulis. Aku sendiri contoh buruk, andai aku menulis novel dunia paralel hiburan dengan cara yang sederhana, mungkin hasilnya tidak akan seburuk ini. Tapi aku sendiri yang mencari masalah, memaksakan sistem yang rumit, sementara kemampuanku tak sampai, akhirnya tak bisa kukendalikan.
Hasil novel ini buruk, benar-benar salahku sendiri, karena kemampuanku menulis terlalu lemah. Tapi dari segi kreativitas, sebenarnya tak kalah. Aku menyesal telah menyia-nyiakan ide bagus, terutama pada kritik dari beberapa pembaca, aku benar-benar merasa sedih.
Sebagai pembaca lama, aku sangat paham perasaan beberapa teman pembaca: jarang sekali menemukan novel dengan ide bagus dan layak dibaca, tapi ternyata kemampuan penulisnya payah, benar-benar bikin kesal.
Maaf, sungguh, ini permintaan maaf dari sudut pandang pembaca untuk pembaca. Aku bisa meminta maaf, tapi aku tidak akan berubah. Kemampuan menulis bisa ditingkatkan perlahan, tapi niat awal tak boleh hilang. Setelah novel ini selesai, aku tetap akan berinovasi, tetap akan menulis sesuatu yang berbeda.
Mungkin novel berikutnya juga belum tentu hasilnya bagus, tapi aku akan selalu berinovasi, itu janjiku. Aku tak punya mimpi besar, aku hanya ingin berinovasi, hanya ingin menulis sesuatu yang berbeda, agar ketika kesal membaca novel orang lain, aku tak perlu mendengar omongan seperti "pembaca sekarang memang sukanya novel seperti ini, aku bisa apa", "kalau kamu bisa, silakan coba", "kamu tahu seberapa keras aku berusaha?"
Mau bagaimana lagi, aku memang keras kepala. Aku selalu percaya, kemampuan menulis bisa diasah, tapi niat awal yang hilang takkan pernah bisa kembali. Tanpa inovasi, bukan novel daring, sesederhana itu.
Tunggu... sepertinya ada yang lupa...
Bukankah ini seharusnya pesan peluncuran novel? Tidak minta langganan atau suara bulanan, benar-benar boleh begitu?
Yah, aku tetap harus mengulurkan mangkuk, minta langganan! Minta suara bulanan! Berharap dapat uang dari novel ini jelas mustahil, setidaknya jangan sampai kematianku terlalu memalukan! Terima kasih untuk semua saudara dan saudari!