Bab 28
Meskipun sopir itu cerewet, kelebihannya adalah keterampilan mengemudinya yang cakap. Ia mengantar Jiang Que dengan mulus sampai ke lembaga penelitian.
Mobil mengerem perlahan, menimbulkan getaran halus yang membuat Jiang Que tersadar dari lamunannya.
Ia melepaskan tentakel yang tadi dipeluknya, lalu mendongak ke luar jendela. Tanpa disadari, ia telah tiba di kawasan hutan pegunungan yang hijau. Gunung di depannya perlahan terbelah tanpa suara, membuka terowongan sempit yang cukup untuk dilewati sebuah mobil.
Sungguh ajaib. Inikah yang mereka sebut sebagai "Departemen Investigasi Kemampuan Luar Biasa"?
Jiang Que merasa sedikit lebih waspada terhadap kemampuan organisasi ini. Ia kembali memantapkan tekad untuk menuruti perkataan Shen Tazhi, bersikap kooperatif, dan tidak menimbulkan masalah bagi Shen Tazhi.
Ia tidak tahu berapa lama lagi hingga "satu hari" berakhir. Namun, saat ia bersama Shen Tazhi sebelumnya, waktu "satu hari" selalu berlalu dengan sangat cepat. Rasanya tidak lama lagi Shen Tazhi akan datang menjemputnya.
Jiang Que menyemangati dirinya sendiri sambil tak kuasa menahan diri untuk memeluk erat tentakelnya kembali.
Setelah mobil memasuki perut gunung, kendaraan mulai turun ke bawah. Baru saat itulah Jiang Que menyadari bahwa gunung tadi hanyalah kamuflase; pangkalan sebenarnya dari Departemen Investigasi Kemampuan Luar Biasa berada di bawah tanah.
Langit-langit di atas perlahan meredup, kecerahan di sekitarnya berangsur turun ke kegelapan yang akrab baginya. Tepat saat Jiang Que ragu apakah harus melepas kacamata hitamnya, pintu di depannya terbuka tiba-tiba, dan cahaya lampu pijar yang dingin menyinari ruangan.
Jiang Que buru-buru membetulkan letak kacamata hitamnya.
Ini adalah ruang bawah tanah berwarna perak. Di dalamnya terdapat sebuah kamar kaca transparan berisi tempat tidur kecil dan wastafel sederhana. Di luar kamar kaca itu, terdapat sebuah meja panjang dan dua kursi.
Apakah ini mirip dengan penjara yang pernah ia lihat sebelumnya?
Jiang Que mengabaikan sopir yang membukakan pintu untuknya serta dua peneliti yang berdiri menunggu dengan gelisah di tempat. Dengan susah payah, ia mencoba memanggil kembali sedikit pengetahuannya tentang manusia dari dalam ingatannya.
Detik berikutnya, mobil kedua juga turun ke bawah tanah. Itu adalah kendaraan milik Xi Jing dan Duan Yasu.
Melihat sopir yang terjebak dalam situasi canggung serta anggota departemen investigasi yang tampak bingung di sampingnya, mereka berdua segera memahami apa yang sedang terjadi.
Keduanya saling bertukar pandang. Xi Jing melangkah maju lebih dulu, mengetuk pintu mobil, dan tersenyum:
"Jiang Que, ini adalah tempat tinggal yang kami siapkan untukmu sementara. Apakah ada yang tidak memuaskan sehingga kau tidak mau turun?"
Jiang Que baru tersadar dan menyadari bahwa ia telah membuat semua orang menunggu cukup lama.
Ia turun dari mobil dengan tenang, seolah tidak menyadari betapa tidak sopannya membiarkan orang lain menunggu karena ia tenggelam dalam dunianya sendiri.
Sebenarnya, ia memang tidak menyadarinya. Bagaimanapun, Shen Tazhi tidak pernah menyalahkannya karena ia sering asyik dengan dunianya sendiri dan mengabaikan orang lain.
Sementara itu, Xi Jing berpikir dengan logika manusia normal. Ia menganggap perilaku Jiang Que sebagai cara untuk mengungkapkan ketidakpuasannya, sehingga nadanya menjadi lebih lembut: "Jika kau tidak puas, kami bisa menggantinya kapan saja."
"Kenapa tiba-tiba kau memanggilku 'Jiang Que'? Bukankah sebelumnya kau selalu memanggilku R-021?" Jiang Que melontarkan pertanyaan yang tiba-tiba.
Ia tidak bermaksud mengabaikan pertanyaan Xi Jing; ia hanya benar-benar bingung, jadi ia harus mengungkapkan kebingungannya terlebih dahulu.
Ia juga berbicara seperti ini di depan Shen Tazhi, dan Jiang Que merasa perilakunya sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Namun di mata orang lain, pemuda acuh tak acuh itu baru saja dengan santai melewatkan topik tentang tempat tinggal, lalu beralih menggunakan "panggilan nama" untuk menyudutkan Xi Jing. Hal ini membuat Xi Jing berada di posisi yang salah, sekaligus mengungkapkan ketidakpuasan Jiang Que dengan cara yang menyulitkan lawan bicaranya.
Sungguh seni berbicara yang hebat. Anggota departemen investigasi yang hadir saling berpandangan.
Apakah ini benar-benar monster yang legendaris, yang membenci manusia dan tidak memiliki emosi? Ini lebih mirip seperti seekor rubah licik yang dididik oleh Shen Tazhi.
Xi Jing tersenyum kaku dan berusaha menutupi suasana dengan tawa canggung: "Karena sebelumnya kami hanya tahu nomor kode-mu, tidak tahu kalau kau punya nama..."
"Itu artinya kau bisa mendengar apa yang kubicarakan di dalam mobil? Apakah itu alat penyadap?" tanya Jiang Que dengan tulus.
Ia menggelengkan kepalanya di tengah kalimat: "Tidak, sepertinya bukan. Sebelumnya, orang-orang yang dibawa Shen Tazhi pernah memanggil namaku. Kau seharusnya tahu. Apakah kau sebelumnya mengira tentakelku yang bernama Jiang Que?"
Ia bertanya dengan sangat sungguh-sungguh, namun terdengar sangat menyindir bagi yang mendengarnya.
Xi Jing, yang baru saja disindir habis-habisan oleh Jiang Que, merasa sangat malu hingga ingin menghilang dari sana. Ia melemparkan pandangan meminta tolong kepada Duan Yasu, namun Duan Yasu hanya membalas dengan tatapan yang menunjukkan bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Siapa suruh kalian bersikeras mengusik pasangan kekasih itu? Nah, sekarang Jiang Que marah dan balik menyindirmu.
Xi Jing menyerah dengan lesu: "Mengenai kejadian sebelumnya, saya minta maaf. Kami akan segera menyiapkan kamar dengan privasi lebih untukmu. Terima kasih atas kerja samamu di sepanjang jalan. Apakah kau ingin pergi ke kantin untuk makan terlebih dahulu, atau beristirahat di kamar?"
Jiang Que tidak mengerti mengapa lawan bicaranya tiba-tiba meminta maaf, tetapi ia memang merasa lapar, jadi ia menjawab: "Aku ingin makan."
Ia paling suka makanan manusia.
Xi Jing berkata: "Baik, silakan ikuti saya."
Jiang Que mengikutinya. Saat melewati pintu sempit yang didesain untuk manusia, ia terpaksa melipat tentakelnya dan berjalan sambil mendekapnya.
Tepat saat melipat tentakelnya, sebuah pemikiran melintas di benak Jiang Que: "Aku mengerti. Kau meminta maaf tadi karena mengira nama tentakelku adalah Jiang Que? Tidak apa-apa, aku tidak akan marah karena hal sepele seperti itu."
Xi Jing: ...
Xi Jing benar-benar ingin menangis.
Ia sudah mengganti kamar untuk Jiang Que dan meminta maaf dengan tulus, kenapa Jiang Que masih saja menyindirnya!!
Di belakang mereka, Duan Yasu dan dua petugas investigasi yang seharusnya menyambut mereka saling berpandangan tanpa kata.
Setelah lama terdiam, salah satu peneliti akhirnya memecah keheningan: "Inikah... R-021 yang kalian bilang tidak punya emosi?"
Teknik menyindirnya itu, baru saja bertemu sudah membuat ketua tim terdiam seribu bahasa, bahkan manusia pun jarang ada yang seperti itu!!
"...Ya," aku Duan Yasu dengan berat hati. "Kurasa data kita mungkin ada yang keliru. Jiang Que bahkan menyukai Shen Tazhi."
Kedua petugas investigasi: ?!?
Mereka memasang ekspresi terkejut yang sama seperti Xi Jing tadi.
Menyukai Shen Tazhi? Suka yang seperti apa???
Duan Yasu meninggalkan kedua petugas yang masih tenggelam dalam keterkejutan itu. Ia mengambil buku catatan yang tadi lupa dibawa Xi Jing dari mobil, lalu membantu mencentang poin ketiga dalam daftar tes.
[Tes poin ketiga: Apakah memiliki rasa malu terkait privasi]
Lihatlah, kenapa harus bersikeras menindas orang lain? Jiang Que telah menahan provokasi sopir sepanjang jalan, lalu turun dari mobil dan melihat kamar yang tidak menghormatinya. Hanya menyindir saja sudah bisa dianggap sebagai temperamen yang baik.
.
Jiang Que, yang sedang berjalan dengan gembira menuju kantin, tidak tahu bahwa citranya di mata orang-orang menjadi semakin misterius. Ia sedang mengingat konsep waktu yang pernah dikatakan Shen Tazhi kepadanya.
Ia ingat bahwa setelah makan dua kali dan tidur sekali, satu hari akan berlalu. Sekarang ia sedang pergi makan, apakah itu berarti ia selangkah lebih dekat menuju berakhirnya satu hari?
Bagus, selama ini ia berperilaku sangat baik, ia harus terus melanjutkannya.
Jiang Que mengikuti Xi Jing masuk ke kantin. Sambil berpikir demikian, ia memberikan senyuman ramah kepada Xi Jing.
Xi Jing menggigil.
Kenapa ia masih diberi senyuman dingin yang mengancam? Apakah masalah tadi belum selesai??
Ini adalah kantin karyawan Departemen Investigasi Kemampuan Luar Biasa. Saat ini sedang jam makan siang, kantin cukup ramai. Sebagai ketua tim, Xi Jing yang masuk bersama Jiang Que dengan delapan tentakel mengerikan di punggungnya, tidak diragukan lagi menarik perhatian sebagian besar karyawan di kantin.
Kantin menjadi hening sejenak, kemudian para petugas investigasi yang sudah sering melihat berbagai monster aneh dalam pekerjaan mereka, kembali melanjutkan aktivitas mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ketua tim membawa objek penahanan baru lagi? Tapi kenapa dibawa ke kantin?"
"Entahlah, ayam goreng hari ini enak sekali."
"Ngomong-ngomong, objek penahanan ini terlihat agak familiar ya."
"Memang agak..."
Saat Jiang Que mengikuti Xi Jing mengantre makanan, akhirnya ada seseorang yang teringat kenapa wajah itu tampak familier.
"Sial! Bukankah itu R-021 yang sudah disiapkan untuk ditahan oleh ketua tim beberapa waktu lalu!"
Teriakan itu membuat kantin kembali terdiam sepi. Sesaat kemudian, orang-orang mulai meninggalkan nampan makanan mereka dan lari terbirit-birit.
Mereka tidak bisa disalahkan karena baru menyadarinya. Masalahnya, Xi Jing memang pernah membawa objek penahanan ke kantin untuk makan sebelum pergi, namun objek-objek itu biasanya adalah makhluk kecil dengan tingkat bahaya di bawah tiga ribu. Sekarang, tiba-tiba muncul objek penahanan berbentuk manusia dengan tingkat bahaya di lima puluh besar, siapa yang tidak takut.
Memang benar ketua tim sudah memberi peringatan sebelumnya, namun di foto yang dibagikan, R-021 tampak seperti anak kecil berambut hitam dengan pipi yang masih tembam. Bagaimana tiba-tiba berubah menjadi pemuda setinggi 170 cm ke atas??
Ditambah lagi dia memakai kacamata hitam, siapa yang bisa langsung mengenalinya!!
Dalam sekejap, orang-orang di kantin berhamburan lari. Jiang Que menatap bingung ke arah para petugas yang melarikan diri ke sana kemari, lalu menoleh bertanya pada Xi Jing yang berdiri di belakangnya:
"Kenapa mereka lari? Apakah aku menakuti mereka?"
Padahal baru saja ia merasa penampilannya sudah cukup baik, bagaimana bisa tiba-tiba semuanya gagal?
Xi Jing memaksakan senyum: "Tidak, mereka hanya terlalu penakut."
Ia sekarang tidak berani lagi memberi tahu Jiang Que bahwa ini adalah poin tes keempat, yaitu menguji reaksinya setelah memicu kepanikan di tengah kerumunan.
"Begitu ya, aku juga berpikir begitu, aku kan tidak akan memakan mereka." Ucap Jiang Que sambil menatap bibi penjual makanan, "Aku juga mau ayam goreng."
Tadi ada manusia yang bilang, ini enak.
Bibi penjual makanan yang sudah bekerja di departemen selama lebih dari sepuluh tahun itu tampak sangat tenang: "Hanya ayam goreng saja?"
Jiang Que ragu sejenak, lalu menjawab jujur: "Aku tidak tahu apa nama makanan yang lainnya, apakah ada yang enak lagi? Aku juga mau."
"Tidak tahu apa nama makanan yang lainnya?" tanya bibi itu bingung.
"Ya," Jiang Que mengangguk, lalu berkata dengan jujur, "Dulu aku belum pernah memakannya, jadi aku tidak tahu nama maupun rasanya."
Tatapan bibi itu terhadap Jiang Que tiba-tiba berubah menjadi sangat iba. Sendok besarnya bergerak dengan cepat: "Anak ganteng seperti ini, kalau tidak makan bagaimana bisa? Bibi ambilkan ya, lihat ini, ini ikan bandeng masak kecap, ini udang goreng mentega, ini iga babi asam manis..."
"Baik, terima kasih," ucap Jiang Que sopan.
Xi Jing yang berada di belakangnya terdiam entah untuk keberapa kalinya hari ini.
Orang ini bahkan bisa bersikap menyedihkan dan mencari perhatian di depan bibi kantin. Ia sudah bekerja di sini belasan tahun, belum pernah melihat bibi itu begitu antusias!!
Sebenarnya siapa yang memberikan data palsu yang mengatakan bahwa Jiang Que tidak memiliki emosi?!?
Tiba-tiba, Xi Jing teringat sesuatu dan bertanya:
"Tunggu, Jiang Que, bukankah kau hanya memakan emosi manusia?"