Bab 118: Sekadar Rumor
Begitu Shen Wang angkat bicara, Nyonya Cui tentu saja tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya bisa mengerucutkan bibir dengan kesal.
Pada saat itu, Shen Nianxiang dan Shen Yizhu juga berdiri di depan pintu. Shen Nianxiang sebenarnya hendak masuk, tetapi Shen Yilin menahannya. Dengan wajah serius, Shen Yilin menggelengkan kepala kepada Shen Nianxiang, memberi isyarat agar ia tidak masuk. Shen Nianxiang memang agak tidak puas. Ia sebenarnya ingin masuk dan memperkeruh keadaan, tetapi karena Shen Yilin sudah memperingatkannya demikian, ia pun hanya berdiri di luar tanpa bergerak.
Shen Wang memandang beberapa orang yang berdiri di luar pintu dan berkata dengan dahi berkerut, “Apa yang kalian lakukan berdiri di luar? Kalian masih merasa belum cukup mempermalukan diri sendiri?”
Mendengar itu, Shen Nianxiang tentu saja merasa senang. Sejak tadi ia sudah sangat ingin masuk. Begitu masuk, ia bertukar pandang dengan Nyonya Cui, lalu berdiri di belakang wanita itu. Shen Yilin kemudian masuk, sedangkan Shen Yizhu menjadi orang terakhir yang masuk. Setelah itu, ia menutup pintu ruang kerja. Kedua orang itu berdiri di dekat pintu, memandangi Shen Mixiang yang sedang berlutut.
Shen Yizhu mengerutkan kening. “Ayah, bagaimana kalau Adik Ketiga berdiri dulu sebelum kita membicarakan masalah ini? Semua itu hanya rumor.”
Nyonya Cui justru takut Shen Wang akan membiarkan masalah itu berlalu begitu saja. Ia pun mengipasi api dari samping, “Hal semacam ini memang harus dibicarakan baik-baik. Kalau tidak ditangani, kelak ketika dia menikah dan terjadi sesuatu di keluarga suaminya, orang-orang akan mengatakan bahwa keluarga Shen tidak mampu mendidik anak dengan baik. Meskipun sejak kecil Gadis Ketiga sudah kehilangan ibunya, keluarga Shen kita…”
Belum sempat Nyonya Cui menyelesaikan ucapannya, Nyonya Wu langsung memotong, “Maksud ucapan Adik adalah aku tidak mendidiknya dengan baik?”
Sejak memasuki ruangan, Nyonya Wu hanya mengucapkan satu kalimat itu, tetapi kalimat tersebut sudah cukup membuat Nyonya Cui panik. Ia segera menjawab, “Bukan begitu. Maksudku, Gadis Ketiga yang tidak mau mendengarkan nasihat. Apa hubungannya dengan Kakak? Lihat saja, kedua anak Kakak begitu penurut.”
Nyonya Cui takut tanpa sengaja menyinggung Nyonya Wu, terlebih lagi di hadapan Shen Wang. Karena itu, ia segera memuji wanita tersebut. Namun, Nyonya Wu sama sekali tidak meliriknya. Ia justru berjalan ke sisi Shen Mixiang dan membantu gadis itu berdiri.
Semua orang memandangi tindakan Nyonya Wu. Bahkan Shen Mixiang sendiri menatap mata Nyonya Wu dengan bingung, tidak memahami maksudnya. Meski begitu, ia tetap membiarkan dirinya dibantu berdiri.
Tak disangka, begitu Shen Mixiang berdiri, Nyonya Wu malah hendak berlutut. Bagaimana mungkin Shen Mixiang membiarkan Nyonya Wu berlutut? Demi menopang tubuh Nyonya Wu agar wanita itu tidak jatuh berlutut di atas pecahan keramik, Shen Mixiang pun kembali menjatuhkan diri dengan suara gedebuk.
Kali ini, lutut Shen Mixiang tepat menghantam pecahan-pecahan keramik itu. Karena ia berlutut dengan sangat kuat, pecahan tersebut segera menembus pakaiannya dan menusuk dagingnya. Dalam sekejap, bagian bawah lututnya telah berlumuran darah.
Meskipun demikian, Shen Mixiang tetap tidak berhasil mencegah Nyonya Wu. Nyonya Wu juga ikut berlutut di atas pecahan keramik itu.
“Ibu!” seru Shen Yizhu dengan cemas.
Namun, Shen Yizhu tetap terlambat selangkah. Nyonya Wu telah berlutut di atas pecahan keramik. Kondisinya sedikit lebih baik daripada Shen Mixiang; hanya ada sedikit garis darah yang merembes keluar. Sementara itu, seluruh lutut Shen Mixiang mengeluarkan darah, hingga sebagian besar pakaiannya berubah merah.
Shen Yizhu hanya bisa merasa cemas. Ia mencoba membantu kedua orang itu berdiri, tetapi tidak berhasil. Pada akhirnya, ia pun ikut berlutut di hadapan Shen Wang.
Nyonya Wu segera melihat luka di lutut Shen Mixiang. Namun, Shen Mixiang seolah-olah tidak merasakan sakit sama sekali. Ia terus menarik Nyonya Wu, berusaha membantu wanita itu berdiri.
Shen Wang sebenarnya sudah sangat marah. Namun, melihat semua orang berlutut di hadapannya, terlebih Nyonya Wu juga ikut berlutut, amarahnya semakin berkobar. Ia menunjuk Shen Mixiang dan bertanya, “Apa yang sedang kau lakukan? Kau berniat melindunginya?”
Dibandingkan Shen Wang yang terbakar amarah, Nyonya Wu justru jauh lebih tenang. Bahkan ketika berlutut di lantai, ia tetap tampak seteguh gunung.
“Tuan, itu semua hanya rumor. Jika hanya karena rumor seperti ini kau menghukum putrimu sendiri sedemikian rupa, orang luar justru akan semakin percaya bahwa masalah ini benar adanya.”
Setelah memikirkannya, Shen Wang merasa ucapan Nyonya Wu memang masuk akal. Terlebih lagi, berlutut beramai-ramai seperti ini benar-benar tidak pantas. Ia melambaikan tangan kepada Nyonya Wu dan berkata, “Kalian berdiri dulu, baru kita bicarakan lebih lanjut.”
Begitu Shen Wang selesai berbicara, Shen Yizhu segera berdiri dan membantu Nyonya Wu bangkit. Barulah ia menyadari bahwa Nyonya Wu juga terluka. Dengan cemas, ia menatap lutut ibunya yang berlumuran darah.
Nyonya Wu memahami kekhawatiran Shen Yizhu. Ia menggelengkan kepala, memberi isyarat agar putranya mengendalikan emosi dan tidak membantah Shen Wang. Shen Yizhu menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Shen Mixiang tentu saja melihat semua ekspresi Nyonya Wu dan Shen Yizhu. Meskipun Nyonya Wu bukan ibu kandungnya, wanita itu selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Hati Shen Mixiang pun terasa hangat, dan rasa sakit di lututnya seakan berkurang.
Shen Wang memandangi pemandangan ibu dan anak yang begitu dekat itu. Ia merasa sedikit terhibur, tetapi ketika mengingat rumor tentang Shen Mixiang, dahinya kembali berkerut. Ia menunggu Nyonya Wu melanjutkan ucapannya.
“Ini hanya rumor. Kau, sebagai ayahnya, tentu tahu seperti apa watak dan sifat Gadis Ketiga. Bagaimana mungkin orang lain tidak tahu, sementara kau sendiri tidak?”
Ucapan Nyonya Wu terdengar tajam, bahkan sarat teguran. Shen Wang ingin berbicara, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Bagaimana mungkin ia tidak tahu seperti apa Shen Mixiang? Namun, kabar dari mulut ke mulut memang menakutkan, sementara gadis itu sama sekali tidak menganggap serius masalah semacam ini.
Shen Wang memang tidak berkata apa-apa, tetapi ekspresinya sudah jauh lebih tenang. Nyonya Cui yang berada di sampingnya justru mulai gelisah. Dengan nada sinis, ia berkata, “Apa yang Kakak katakan memang tidak salah. Namun, anak-anak akan tumbuh dewasa dan manusia bisa berubah. Sebagai orang tua, kita tetap harus mendidik mereka dengan baik. Bukankah begitu, Tuan?”
Shen Wang tidak menjawab. Ia hanya melirik Shen Mixiang yang masih tampak seolah-olah masalah itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, lalu bergumam pelan, “Hmm.”
Hanya satu gumaman ringan dari Shen Wang sudah membuat Nyonya Cui seolah-olah menerima titah. Ia segera berkata kepada Nyonya Wu, “Kakak, aku tahu Kakak menyayangi anak ini. Tetapi Kakak juga harus memikirkannya baik-baik. Rumor tidak mungkin muncul tanpa alasan, bukan? Aku dengar, beberapa hari lalu ketika seseorang datang membuat keributan di Kedai Chenxiang, Duan Feibai bahkan berlari jauh-jauh untuk membantu Gadis Ketiga.”
Nyonya Wu memandang Shen Wang, seolah-olah tidak mendengar ucapan Nyonya Cui sama sekali.
Nyonya Cui tentu saja tidak tahan diperlakukan seperti itu, sehingga ia melanjutkan, “Lalat tidak akan mengerubungi telur yang tidak retak. Kudengar bukan hanya Duan Feibai, He Lian juga ada di sana. Semua orang tahu bahwa He Lian adalah musuh bebuyutan keluarga kita. Gadis ini ternyata begitu dekat dengan mereka. Entah apa yang…”
“Sebagai orang yang lebih tua, kau seharusnya mempertimbangkan kedudukanmu sebelum berbicara. Apakah pantas kau mengatakan hal seperti itu? Di dunia perdagangan, tidak ada musuh yang kekal, hanya kepentingan yang kekal. Itu hanyalah hubungan bisnis yang wajar. Mengapa di mulutmu semuanya terdengar begitu kotor?”
Jika sebelumnya ucapan Nyonya Wu masih sebatas peringatan, kini ujung pedangnya sudah diarahkan langsung kepada Nyonya Cui.
Nyonya Cui tentu saja tidak rela. Namun, seberapa pun tidak relanya, Nyonya Wu tetaplah istri utama. Setelah bertahun-tahun menahan diri, Nyonya Cui akhirnya memilih diam.