Bab 119: Desas-desus Serupa
Shen Wang menggebrak meja dengan suara nyaring dan mendadak, membuat Nyonya Cui terperanjat.
"Terlepas dari apakah kabar ini hanya isapan jempol belaka, Shen Mixiang..." Untuk pertama kalinya, Shen Wang memanggil nama lengkap putrinya. Shen Mixiang menyahut, "Ya, Ayah."
"Aku tidak ingin mendengar desas-desus serupa lagi. Demi menjaga nama baik keluarga, untuk sementara waktu jangan pergi ke Toko Dupa Chenxiang." Meski Shen Wang tidak lagi memarahi Shen Mixiang, ucapan ini sama saja dengan mencabut hak putrinya untuk membantu di toko tersebut. Kelak, Shen Mixiang akan sama seperti Shen Nianxiang, hanya seorang putri bangsawan biasa yang tidak pernah keluar rumah.
Mendengar hal itu, Shen Nianxiang dan Nyonya Cui tentu merasa sangat senang. Menurut mereka, keberanian Shen Mixiang melawan mereka selama ini hanyalah karena ia memiliki prestasi di Toko Dupa Chenxiang dan berhasil merebut hati Shen Wang. Jika Shen Mixiang tidak diizinkan lagi ke sana, ia pasti akan kembali menjadi sosok yang mudah mereka tekan.
Shen Mixiang tentu tidak rela, apalagi di saat genting seperti ini. Kompetisi meracik dupa di istana akan segera dimulai. Semua orang sedang sibuk meracik parfum baru. Jika ia dilarang ke Toko Dupa Chenxiang sekarang, bukankah semua usahanya akan sia-sia?
"Ayah, kompetisi meracik dupa di istana akan segera dimulai. Ini adalah kesempatan terbesar kita. Jika dilewatkan..." Sebelum Shen Mixiang menyelesaikan kalimatnya, Shen Wang memotong, "Toko Dupa Chenxiang tetap bisa ikut serta dan memenangkan kompetisi itu tanpamu."
Nada bicara Shen Wang tegas, seolah keputusan itu sudah mutlak. Namun, Shen Mixiang masih mencoba bernegosiasi, "Aku mengerti. Bagaimana jika setelah kita memenangkan kompetisi, aku akan menuruti perkataan Ayah dan tinggal di rumah?"
Tetapi Shen Wang tidak memberikan celah bagi Shen Mixiang untuk menawar, "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Keputusan sudah bulat."
Shen Mixiang hendak berbicara lagi, namun Nyonya Cui segera memotong, "Karena masalah ini sudah selesai, mari kita pergi. Ayahmu terlihat lelah, biarkan dia beristirahat dengan tenang."
Setelah berkata demikian, tanpa menunggu reaksi Shen Mixiang, Nyonya Cui langsung menariknya keluar. Di ruangan itu terdapat banyak orang, namun Nyonya Cui tidak menarik siapa pun selain Shen Mixiang. Shen Yizhu sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, namun melihat raut wajah lelah Shen Wang dan melihat saudarinya diseret pergi, ia pun terdiam. Ia memapah Nyonya Wu dan berkata, "Ibu, sebaiknya kita pergi sekarang."
Melihat situasi tersebut, sulit untuk membuat Shen Wang mengubah pikirannya, sehingga Nyonya Wu pun mengikuti Shen Yizhu pergi. Shen Yizhu dan Shen Nianxiang berjalan di belakang Nyonya Cui. Sebelum keluar ruangan, Nyonya Cui masih memegang lengan Shen Mixiang dengan kasar, lebih tepatnya menyeretnya.
Begitu sampai di luar, Shen Nianxiang berdiri di sisi kiri dan Nyonya Cui di sisi kanan, mengapit Shen Mixiang dengan sikap seolah takut ia akan kembali ke dalam. Shen Yizhu menatap Shen Mixiang dengan cemas. Shen Mixiang yang memahami kegelisahan saudaranya berkata, "Kakak, bawa Ibu pulang dan obati lukanya terlebih dahulu. Aku baik-baik saja."
Meskipun khawatir dengan kondisi Shen Mixiang, Shen Yizhu menyadari usia Nyonya Wu yang sudah lanjut. Ia memandang Shen Mixiang lalu menatap lutut Nyonya Wu, kemudian berkata dengan cemas, "Kalau begitu, kau juga harus mengobati lukamu."
"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka gores. Pemuda sepertiku cepat sembuh. Kakak, lebih baik segera bawa Ibu untuk diobati." Shen Mixiang bahkan sempat melompat kecil untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Setelah Shen Yizhu pergi bersama Nyonya Wu, Shen Nianxiang dan Nyonya Cui terus menyeret Shen Mixiang. Begitu menjauh dari ruang belajar, mereka saling melirik lalu melepas cengkeraman mereka dengan kasar. Shen Nianxiang berkata dengan nada meremehkan, "Masih mau aku papah? Jalan sendiri sana!"
Shen Yilin pun sudah pergi lebih dulu. Meski ia khawatir, tidaklah pantas baginya terus mengikuti seorang gadis. Shen Nianxiang yang tadi berjanji akan merawat Shen Mixiang, segera mendorongnya begitu mereka sampai di tempat sepi.
Shen Mixiang hampir tersungkur, namun ia berhasil menyeimbangkan diri karena sudah bersiap. Meski begitu, gerakan yang drastis tersebut membuat luka yang tadi sudah mulai mengering kembali terbuka, dan noda darah segar mulai merembes ke pakaiannya.
Luka tersebut mungkin bukan luka besar, namun tetap terasa menyakitkan. Di depan Shen Nianxiang dan Nyonya Cui, Shen Mixiang tetap menahan diri. Ia mengatupkan giginya rapat-rapat untuk meredam rasa sakit yang menjalar.
Shen Nianxiang melontarkan ancaman, "Sekarang Ayah sudah melarangmu pergi ke toko, kau tidak punya lagi hak untuk melawanku. Mulai sekarang, bersikaplah patuh."
Begitu Shen Nianxiang selesai bicara, Nyonya Cui maju dan menekan dahi Shen Mixiang dengan kuat hingga ia terhuyung mundur. Nyonya Cui menatap Shen Mixiang yang tampak tak berdaya dengan puas, "Seandainya kau selalu penurut seperti ini, kau tidak akan menderita. Jangan mengira kau bisa berbuat sesukamu hanya karena ada Nyonya Wu yang melindungimu."
Shen Mixiang tetap diam. Setelah merasa puas meluapkan amarah, ibu dan anak itu melepaskan Shen Mixiang dan pergi dengan bergandengan tangan.
Setelah Shen Nianxiang dan Nyonya Cui pergi, Yuanluo yang sejak tadi mengikuti dari belakang keluar sambil menangis, lalu dengan hati-hati memapah Shen Mixiang. Melihat ujung pakaian Shen Mixiang yang ternoda darah, air mata Yuanluo tak terbendung, "Nona, apakah sakit?"
Shen Mixiang menatap Yuanluo dan menyeka air mata di sudut matanya, lalu menenangkan gadis itu, "Aku tidak apa-apa, tidak sakit. Jangan menangis."
Namun, semakin Shen Mixiang menyangkal, semakin sedih perasaan Yuanluo. Melihat lutut Shen Mixiang yang kembali berdarah akibat kejadian tadi, ia tersedu, "Nona, jangan berbohong. Bagaimana mungkin tidak sakit? Darahmu mengalir sebanyak ini."
"Papah aku kembali," ujar Shen Mixiang sambil mengusap wajah Yuanluo, mencoba menenangkan emosinya.
Setelah sampai di kamar, Yuanluo ingin memanggil tabib, namun dicegah oleh Shen Mixiang, "Tidak perlu, ambilkan saja air hangat untuk membersihkan lukanya."
"Itu tidak bisa, Nona. Kita harus memanggil tabib untuk mendapatkan obat, kalau tidak, nanti akan meninggalkan bekas luka." Meski Shen Mixiang melarang, Yuanluo tetap membuka pintu untuk mencari tabib. Namun, ia terkejut melihat Duan Feibai sudah berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang tampak berdebu. Yuanluo menatapnya dengan heran, tidak mengerti bagaimana pria itu bisa menghindari pengawasan begitu banyak orang.
Saat Yuanluo masih melamun, Duan Feibai segera menyingkirkannya dan masuk ke dalam kamar. Ia melihat Shen Mixiang duduk di tepi tempat tidur. Shen Mixiang sedang menyingkap pakaiannya yang ternoda darah; karena darah itu telah mengering sebagian, kain pakaiannya menempel erat pada luka di lututnya.