Bab Tiga Puluh Satu: Saling Berhadapan
Lin Wenqin merasa bingung dan sedikit enggan, "Biarkan aku masuk sebentar untuk meletakkan barang-barangku..."
Lin Wenyin mengernyitkan dahi, lalu berpesan dengan cemas, "Kalau begitu, cepatlah."
"Baiklah, jika kau tidak sabar, pergilah duluan. Kurasa paman dan yang lainnya juga sudah sampai di rumah." Lin Wenqin memegang sabit di tangannya, lalu berbalik masuk ke halaman.
Baru saja pintu didorong dan ia melangkah masuk, ia merasakan sensasi dingin di lehernya. Sebuah pedang panjang telah menempel di bahunya, mengarah tepat ke pembuluh darah di lehernya.
"Kak!" Napas Lin Wenyin tertahan, keranjang di tangannya hampir terjatuh ke tanah.
Lin Wenqin mendongak menatap sang pemegang pedang, lalu bertanya dengan heran, "Kak Ye, apa yang kau lakukan?"
Ye Xuan tidak menjawab. Ia menatap Lin Wenyin dengan dingin dan mengancam, "Segera kembali setelah mengantar makanan. Jika kau terlambat sedikit saja..."
Ia menjeda ucapannya, lalu menekan pedangnya sedikit lebih kuat. Ujung pedang itu menggores kulit Lin Wenqin hingga muncul garis merah darah.
"...aku akan membunuh kakakmu."
Mata Lin Wenyin memerah karena cemas. Ia merasa sangat menyesal karena ketamakan akan uang telah membutakan matanya hingga nekat berurusan dengan orang berbahaya seperti ini.
"Kak Ye, kau!" Lin Wenqin pun segera sadar bahwa kedatangan Ye Xuan kali ini berniat buruk.
Ia pernah menguji kemampuan Ye Xuan dan tahu persis bahwa pria itu lebih kuat darinya. Jika mereka bertarung, ia pasti akan kalah.
"Aku akan pergi sekarang, turunkan pedangmu." Lin Wenyin menggenggam erat keranjang di tangannya, menggigit bibir bawahnya agar tetap tenang.
Ye Xuan tertawa puas, lalu memanggil Xu Ping untuk keluar, "Ikat dia."
Xu Ping mendekati Lin Wenqin sambil membawa tali. Ia sempat melirik Lin Wenyin dengan tatapan rumit. Meski enggan, ia tidak punya pilihan selain mengikat kedua tangan Lin Wenqin di belakang punggung.
Saat Xu Ping hendak mengikatnya, Lin Wenqin sempat berpikir untuk melawan, namun ia melihat senjata rahasia di tangan Ye Xuan yang lain. Jika ia berhasil kabur, senjata itu pasti akan diarahkan kepada Lin Wenyin. Ia tidak berani mengambil risiko.
"Jika ada orang lain yang datang selain kau, bukan hanya kalian berdua yang akan mati," ancam Ye Xuan lagi.
Lin Wenyin merasa sangat kalut melihat situasi tersebut. Setelah Xu Ping selesai mengikat kakaknya, ia segera bergegas menuju rumah pamannya.
Pikirannya terus mengulas detail interaksi mereka selama beberapa hari terakhir. Ia yakin satu hal: mereka tidak mungkin merampok harta.
Kondisi rumahnya yang miskin sudah sangat jelas terlihat, lagipula Xu Ping tidak segan memberikan uang perak dalam jumlah yang cukup banyak.
Selain itu, jika mereka ingin menyandera seseorang, bukankah dirinya lebih mudah ditaklukkan daripada kakaknya yang bisa bela diri? Namun, jika mereka menyanderanya, Lin Wenqin pasti akan panik dan melawan.
Ye Xuan mengikat kakaknya, itu membuktikan bahwa ia sebenarnya tidak ingin berkonflik secara langsung dengan mereka berdua.
Gu Zhengze dan kedua rekannya tiba-tiba bertindak aneh dengan menyandera mereka, pastilah karena mereka tahu bahwa ia telah menguping pembicaraan antara Gu Zhengze dan Xu Ping.
Dalam situasi seperti ini, mereka bahkan membiarkannya memasak terlebih dahulu sebelum menyandera kakaknya; ini jelas bukan karena lapar.
Itu artinya, masih ada ruang untuk bernegosiasi. Setidaknya, mereka tidak berniat membunuh kedua bersaudara itu.
Lin Wenyin terus menenangkan diri. Ia berpura-pura santai saat mengantar makanan ke rumah pamannya, lalu memutar otak mencari alasan agar tidak perlu ikut makan di sana.
Saat ia kembali ke rumah, Ye Xuan benar-benar sedang menunggunya di depan pintu kamar sang ayah.
Pintu kamar terbuka lebar. Gu Zhengze duduk di meja tengah, kertas dan alat tulis sudah terhampar rapi. Xu Ping berdiri di sampingnya, sedang membungkuk untuk menggerus tinta.
Keempat pasang mata tertuju padanya. Lin Wenyin berbalik menutup pintu utama, menguncinya dengan rapat, lalu berjalan pelan ke sisi Lin Wenqin. Ia berdiri di depan kakaknya, menatap ketiganya dengan dingin.
"Kami berdua rasanya tidak pernah memperlakukan kalian dengan buruk, bukan? Mengapa kalian melakukan semua ini?"
Ia menatap lurus ke arah Gu Zhengze. Wajahnya tampak tenang, padahal hatinya sangat gelisah.
Gu Zhengze terkekeh. Kini ia sudah memiliki cukup banyak bukti, dan terus berbelit-belit dengan kedua bersaudara ini tidak akan membuahkan hasil.
Ia memberi isyarat kepada Xu Ping. Xu Ping mengangguk pelan, mengeluarkan sebuah pisau melengkung yang disembunyikan di bawah tempat tidur, lalu mengangkatnya agar bisa dilihat oleh mereka berdua.
Lin Wenyin dan Lin Wenqin saling pandang dengan bingung. Jelas sekali mereka tidak tahu menahu soal keberadaan pisau itu.
"Apakah kalian berdua pernah melihat pisau ini?" tanya Gu Zhengze sambil mengamati reaksi mereka.
"Tidak..." Lin Wenqin hendak menjawab secara naluriah.
"Kami bahkan belum tahu siapa identitas kalian. Jika ingin kami jujur, kalian juga harus berterus terang, bukan?" Lin Wenyin memotong jawaban kakaknya sambil menatap ketiganya.
"Berani menawar denganku?" Gu Zhengze menatap tenang, seolah sudah menduga Lin Wenyin akan bertanya demikian.
"Memangnya tidak boleh?" tanya balik Lin Wenyin sambil menatap tajam ke matanya.
Gu Zhengze tidak menjawab.
"Bukankah kalian bertanya soal pisau itu? Apakah ini bisa dianggap sebagai syarat?" Lin Wenyin menggigit bibir karena tegang, namun ia tidak mau mengalah.
"Jika kau tidak bicara, apa kau tidak takut aku membunuh kalian?" Gu Zhengze mengangkat alisnya, menyandarkan punggung ke kursi.
Tatapan matanya menghina. Meski sedang duduk, ia memberikan tekanan yang membuat orang merasa rendah.
Napas Lin Wenyin sedikit sesak, namun ia tetap memberikan jawaban tegas, "Takut, tapi kau tidak akan melakukannya. Lagipula, kita tidak memiliki dendam atau permusuhan. Tidak ada alasan bagimu untuk membunuh kami."
"Apa permintaanmu?" Gu Zhengze tiba-tiba menyunggingkan senyum, seolah tidak menyangka Lin Wenyin berani menantangnya.
"Lepaskan kakakku." Permintaan Lin Wenyin sangat sederhana.
Kakaknya bukanlah penjahat, diikat seperti itu sungguh keterlaluan.
"Boleh..." Gu Zhengze menyetujui permintaannya.
Lin Wenyin segera membantu melepaskan ikatan Lin Wenqin. Sambil menggerutu dalam hati, ia melepas tali tersebut dengan dahi yang berkerut.
Xu Ping ini benar-benar terlalu kejam, ikatan ini terlalu kencang. Baru sebentar saja, lengan Lin Wenqin sudah memar kebiruan.
Setelah terbebas, Lin Wenqin segera menyembunyikan Lin Wenyin di belakang punggungnya. Ekspresi terkejut dan amarah yang tertahan masih terpancar jelas di wajahnya.
"Sekarang katakan, apakah kalian mengenali pisau ini?" Xu Ping menunjuk pisau tersebut.
"Tidak kenal." Lin Wenyin dan Lin Wenqin menjawab bersamaan dengan nada yang sangat yakin.
"Bahkan belum pernah melihatnya!" tambah Lin Wenyin.
Kali ini, bahkan Ye Xuan tampak kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menggunakan pisau itu sebagai bahan negosiasi, namun mereka bersikeras tidak mengenalnya.
"Gadis kecil, kau ini... katakanlah yang sejujurnya!" Xu Ping panik karena takut Gu Zhengze marah.
Gu Zhengze sendiri tampak tenang, ia hanya terus mengamati ekspresi keduanya.
"Aku bicara jujur. Kami benar-benar tidak pernah melihatnya. Kalian tidak mungkin mengira kami akan mencelakai kalian hanya karena ada pisau di bawah tempat tidur orang tuaku, kan?" debat Lin Wenyin.
"Lagipula... ayahku hanya seorang pemburu dan petani. Untuk apa dia punya pisau seperti itu? Mungkin itu hanya benda yang diletakkan ayah di bawah tempat tidur untuk menolak bala."
Negara Dongnu memang memiliki tradisi seperti itu, dan penjelasannya terdengar sangat masuk akal.
Namun, pisau ini bukanlah pisau biasa.
Gu Zhengze terdiam. Lin Wenyin sangat pandai berkata-kata. Ia tidak merasa gadis itu berbohong, hanya saja kehadiran gadis itu terlalu dominan hingga membuatnya merasa tidak nyaman.