Kepulangan yang Menggempahkan 031. Pelakor Datang Menyerang

Putri Racun Berbakat Riasan bunga mengukir tulang 6845kata 2026-03-31 22:04:06

Tiga orang pria sedang duduk di satu meja, minum-minum dan mengobrol santai.

"Apakah yang kalian bicarakan itu putri sulung Lembah Raja Obat?" tanya salah satu dari mereka.

"Betul! Sekarang banyak orang yang pergi ke sana, aku juga sedang bersiap untuk berangkat." Suara ini adalah suara pria yang berbicara pertama kali.

"Tetapi, kabut beracun di luar sana..." wajah pria lainnya menunjukkan keraguan.

Bisa dibilang Lembah Raja Obat ini cukup misterius di mata orang luar. Bahkan jika tidak berniat mengikuti sayembara untuk mencari jodoh, beruntung bisa masuk sekadar untuk ikut menonton keramaian pun sudah bagus!

Namun, semua orang tahu bahwa bagian luar Lembah Raja Obat dikelilingi oleh kabut beracun yang tebal sepanjang tahun. Tak seorang pun tahu seberapa jauh luas kabut itu, karena tidak satupun orang yang nekat menerobos berhasil kembali.

Oleh karena itulah, Lembah Raja Obat tampak semakin misterius di mata orang luar. Meskipun demikian, tak seorang pun yang berani meremehkan Lembah Raja Obat.

Mendengar kata kabut beracun, pria yang berbicara tadi langsung memutar bola matanya dan berkata, "Kau ini bodoh! Namanya juga sayembara mencari jodoh, orang yang pergi pasti sangat banyak. Nanti pihak Lembah Raja Obat tentu punya cara untuk mengatasi kabut beracun itu."

Mendengar sampai di sini, Hua Yunxi berdiri dan bertanya, "Apakah siapa saja boleh pergi?"

Ketiga pria yang tadinya sedang berbicara itu tiba-tiba mendengar suara seorang wanita menyelak, dan serempak menoleh dengan rasa penasaran. Saat melihat wajah Hua Yunxi, mereka seketika tertegun.

Hari ini, karena tergesa-gesa di perjalanan, jubah putih yang dikenakan Hua Yunxi tampak sedikit kusut. Wajah kecilnya yang jelita juga tidak bisa menyembunyikan rasa lelah yang nyata. Namun meskipun demikian, di wajahnya yang sekecil telapak tangan itu, bagian-bagian wajahnya tetap terlihat begitu memukau dan mampu membuat jantung siapa saja berdegup kencang.

Saat ketiganya sadar dari keterpanaannya, mereka melirik ke arah meja Hua Yunxi. Ketika melihat dua pria berparas luar biasa tampan di sebelah meja itu, mereka langsung mengurungkan niat lain di dalam hati.

Salah satu dari mereka berdiri dan berkata dengan hormat, "Pertanyaan Nyonya sangat tepat. Sayembara pencarian jodoh di Lembah Raja Obat tentu saja tidak bisa dihadiri oleh sembarang orang." Pria itu merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sebuah undangan berwarna merah.

"Lihat, ini adalah undangan yang dikeluarkan oleh Lembah Raja Obat. Siapa pun yang memiliki undangan ini bisa masuk, dan bahkan boleh membawa tiga orang pendamping ke dalam."

Mata jeli Hua Yunxi melirik sekilas ke arah undangan merah itu. Secercah cahaya melintas di dasar matanya, sudut bibirnya terangkat, dan ia tersenyum kepada pria itu. "Terima kasih atas penjelasan Tuan Muda."

Membalikkan badan, Hua Yunxi kembali duduk di kursinya.

Pada saat itu, ketiga pria di meja sebelah telah selesai makan dan naik ke lantai atas.

Pandangan Hua Yunxi melintasi Xiao Zhan, Hufeng, Helian Sheng, dan Tianwen... Alis halusnya sedikit mengernyit. Sepertinya jumlah orangnya agak terlalu banyak, lagipula belum tentu juga Hua Xiaomi dihitung sebagai satu orang. Hua Yunxi mendongak, menatap punggung ketiga pria yang sudah pergi itu dengan penuh pemikiran.

Makan malam pun usai dalam suasana hati masing-masing yang tidak jelas.

Setelah kembali ke kamarnya, Hua Yunxi dengan cepat memandikan Hua Xiaomi, lalu membujuknya tidur. Menatap wajah kecil yang sedang terlelap itu, Hua Yunxi mengulurkan tangan untuk mengusap lembut pipi mulus tersebut. Secercah tekad yang kuat melintas di matanya. Ia dengan sigap bangkit, mengeluarkan seperangkat pakaian malam berwarna hitam dari buntalannya, lalu mengenakannya.

Berjalan ke dekat jendela, Hua Yunxi membuka celah kecil pada jendela untuk melihat ke luar. Saat itu hari sudah gelap, pejalan kaki di jalanan luar tampak cukup banyak. Para tamu di lantai bawah penginapan, ada yang sudah tidur dan ada pula yang pergi, membuat suasana di sekitarnya ikut meredup.

Saat ini, ketika malam begitu gelap dan sunyi, adalah waktu yang tepat bagi orang-orang tertentu untuk beraksi.

Sudut bibir Hua Yunxi terangkat. Ia dengan cepat membuka jendela, bergelantung di luar jendela, dan perlahan-lahan bergerak menuju kamar yang berjarak satu ruangan darinya. Sebelumnya, ia telah mengamati dengan teliti bahwa pria yang memegang undangan itu tinggal di kamar tersebut.

Tiba-tiba, suara gesekan kecil terdengar dari belakangnya. Hua Yunxi mengerutkan kening dan menoleh, lalu melihat sesosok 'raksasa' sedang merayap perlahan mengikuti jalur yang baru saja ia lewati.

Menyipitkan matanya sedikit, Hua Yunxi mengamati dengan jeli. Ketika ia melihat dengan jelas apa 'raksasa' itu sebenarnya, ia pun tertegun seketika.

Huh?

Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan?

Tampak sosok 'raksasa' itu mendekat. Ternyata itu adalah Tianwen yang sedang menggendong Helian Sheng di punggungnya. Dua pria bertubuh tinggi besar yang saling menumpuk seperti itu memang tampak seperti sesosok raksasa.

Hua Yunxi melirik Tianwen sekilas dengan datar. Ia melihat napas pria itu tidak teratur, tetapi pipinya tampak memerah secara tidak normal. Alisnya sedikit berkerut, dan Hua Yunxi merasakan simpati yang mendalam kepada Tianwen. Meskipun Helian Sheng adalah seorang pria yang berpenampilan lemah lembut, berat badannya setidaknya mencapai enam puluh hingga tujuh puluh kilogram! Tianwen juga memiliki postur tubuh yang kurang lebih sama, tetapi ia harus menggendong Helian Sheng sambil memanjat dinding, sungguh pekerjaan yang sangat melelahkan.

Mengangkat alisnya ke arah Helian Sheng, Hua Yunxi berbisik, "Untuk apa kau datang?"

"Tentu saja untuk ikut menonton keramaian!" Pandangan Helian Sheng menyapu tubuh Hua Yunxi. Hua Yunxi yang seperti ini tampak sangat berbeda dari biasanya. Pakaian hitam ketat yang ia kenakan membuat lehernya yang seputih giok tampak semakin cerah, dan bahkan kegelapan malam pun tidak mampu menutupi kilau dari kulitnya yang putih bersih bagai lemak domba.

Hatinya berdesir, Helian Sheng perlahan mengalihkan pandangannya.

Aduh, bagaimana ini bisa terjadi? Baru saja berhasil menemukan seorang wanita yang begitu menarik, tetapi ternyata wanita itu adalah kekasih sahabatnya sendiri. Lagipula mereka bahkan sudah memiliki anak! Sungguh menyedihkan! Sungguh memilukan!

Hua Yunxi tentu saja tidak bisa menebak isi hati Helian Sheng. Mendengar jawabannya, wajahnya berubah agak gelap. Bagus sekali, demi ikut menonton keramaian, orang ini bahkan rela digendong orang lain, benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata.

Melihat dua pria dengan tinggi badan hampir setara di hadapannya, di mana yang satu menggendong yang lain, sudut bibir Hua Yunxi sedikit berkedut. Bagaimana pun ia melihatnya, pemandangan di depannya ini terasa sangat konyol.

Enggan berkata-kata lagi, Hua Yunxi berbalik dan melanjutkan perbuanannya merayap menuju kamar sebelumnya. Setibanya di dekat jendela, ia baru saja hendak mengulurkan tangan ketika jendela itu tiba-tiba terbuka dari dalam.

Tubuhnya menegang, Hua Yunxi refleks merogoh ke dalam dadanya untuk mengambil sesuatu, tetapi tangannya terhenti.

Jendela di hadapannya terbuka lebar, memperlihatkan sesosok wajah yang sangat familiar. Siapa lagi kalau bukan Xiao Zhan?

Hua Yunxi sedikit mengernyit, lalu melompat masuk ke dalam ruangan. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan dan akhirnya jatuh ke atas ranjang. Pria yang tadi siang berada di lantai bawah itu telah dipukul hingga pingsan.

Tianwen yang menggendong Helian Sheng menyusul melompat masuk ke dalam ruangan. Begitu menginjak lantai, Helian Sheng langsung turun dari punggung Tianwen, merapikan pakaiannya, dan kembali menjadi seorang tuan muda yang anggun.

Sepasang mata berwarna cokelat tua melirik ke arah Xiao Zhan, dan Helian Sheng mencebikkan bibirnya. Selama ada pria ini, sama sekali tidak akan ada tontonan menarik yang bisa disaksikan. Sungguh sangat membosankan!

Sambil menggelengkan kepalanya, Helian Sheng melirik Hua Yunxi sekali lagi sebelum berjalan menuju pintu.

Xiao Zhan melirik Helian Sheng dengan dingin, sementara secercah kilat dingin melintas di matanya. Ia pun bersuara, "Bukankah kau masih punya urusan yang harus diurus? Berangkatlah besok!"

Alisnya terangkat, Helian Sheng menoleh ke belakang. Ia mengeluarkan sebuah kipas berlapis emas dari pinggangnya, membukanya, lalu mengipaskannya perlahan sambil berkata, "Siapa bilang aku punya urusan? Aku tidak punya urusan apa-apa, jadi aku memutuskan untuk pergi bersama kalian ke Lembah Raja Obat untuk ikut meramaikan suasana."

Tatapan matanya berbinar, Helian Sheng mengedipkan sebelah mata kepada Hua Yunxi. Meskipun awalnya ia memang memiliki beberapa urusan saat datang ke Xishang, namun sekarang ia telah mengubah keputusannya.

Hua Yunxi langsung mengabaikan arti dari tatapan mata Helian Sheng. Ia berjalan ke hadapan Xiao Zhan dan bertanya dengan alis terangkat, "Mana undangannya?"

Xiao Zhan mengeluarkan sebuah undangan merah dari balik lengan bajunya, yang tak lain adalah undangan sore tadi. Hua Yunxi mengambilnya, membukanya untuk melihat sebentar, lalu menyimpannya ke dalam bajunya.

Mengangkat alisnya sambil menatap Xiao Zhan, Hua Yunxi menekan pertanyaan yang ada di dalam hatinya. Ia tidak menyangka bahwa Xiao Zhan benar-benar akan datang untuk mencuri undangan tersebut. Di dalam hatinya, ia tentu mengira bahwa Xiao Zhan adalah sosok yang terlalu angkuh untuk melakukan hal semacam itu.

Namun, proses tidak lagi penting; yang terpenting adalah hasilnya, dan ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Kembali melirik ketiga orang di dalam kamar itu, Hua Yunxi melompat keluar melalui jendela dan kembali lewat jalur semula.

Helian Sheng melihat tidak ada lagi keromantisan atau keramaian yang bisa disaksikan, maka ia langsung berjalan keluar lewat pintu utama, diikuti oleh Tianwen di belakangnya.

Di dalam kamar, hanya tersisa Xiao Zhan dan pria yang pingsan itu. Sepasang mata gelapnya menatap sekilas ke arah jendela yang terbuka, dan secercah cahaya cemerlang melintas di dasar mata Xiao Zhan.

◇◆◇◆◇◆ Selir Beracun Lembah Raja Obat*Eksklusif Xiaoxiang ◇◆◇◆◇◆

Keesokan harinya.

Rombongan tersebut menikmati sarapan terlebih dahulu sebelum keluar dari penginapan.

Helian Sheng menatap Hua Yunxi dan Xiao Zhan dengan ekspresi penuh rahasia, lalu berkata, "Aku menerima surat merpati tadi malam. Bisnis di pihak Nanshu mengalami sedikit masalah yang memerlukan kepulanganku untuk menyelesaikannya. Sepertinya aku tidak bisa pergi bersama kalian ke Lembah Raja Obat."

Hua Yunxi mengangguk pelan dan berkata, "Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah di jalan."

Sementara Xiao Zhan melirik Helian Sheng dengan dingin dan melontarkan empat patah kata dengan datar—"Hati-hati di jalan! Tidak perlu diantar!"

Sudut bibir Helian Sheng terangkat, dan ia pun tertawa, "Tidak perlu diantar! Kita jalan bersama saja!" Sambil memainkan sehelai rambut ikal di depan dadanya, Helian Sheng menatap Xiao Zhan dengan senyuman yang semakin dalam, "Kenapa terburu-buru mengusirku? Bukankah kau lupa kalau perjalananku kembali ke Nanshu searah dengan kalian? Haha."

Dengan suasana hati yang sangat baik, Helian Sheng mendahului naik ke atas kereta kuda.

Alis Hua Yunxi sedikit berkedut. Ia menggendong Hua Xiaomi yang masih tertidur lelap menuju kereta kuda, namun Helian Sheng yang sudah berada di atas kereta tiba-tiba berbalik dan mengambil alih Hua Xiaomi, "Biar aku saja!"

Keraguan melintas di wajahnya. Hua Yunxi berpikir bahwa memang agak merepotkan naik ke kereta kuda sambil menggendong Hua Xiaomi, jadi ia pun melepaskannya begitu saja. Melihat Helian Sheng masuk ke dalam kereta kuda, ia pun menyusul naik.

Tepat di belakang mereka berdua, sepasang mata penuh amarah menatap tajam ke arah punggung mereka, sementara tangannya mengepal erat hingga berbunyi kriet-kriet.

Hufeng melirik ekspresi Xiao Zhan, menggelengkan kepalanya tanpa berdaya, lalu melirik ke dalam kereta kuda sebelum berbisik, "Yang Mulia, hamba rasa Anda harus lebih berinisiatif. Jika terus begini, Nyonya akan segera direbut orang lain."

Alisnya terangkat, Xiao Zhan melirik Hufeng sekilas, lalu dengan cepat mengangkat kakinya menyusul naik.

Lima hari kemudian.

Saat ini, Hua Yunxi dan rombongannya sudah berada dalam jarak lima mil dari luar Lembah Raja Obat.

Sejak pagi-pagi sekali, di sepanjang jalan mereka terus berpapasan dengan orang-orang yang juga berniat menuju Lembah Raja Obat. Padahal di dalam undangan tertulis dengan jelas bahwa hari sayembara masih sepuluh hari lagi, yang menunjukkan betapa banyaknya orang yang datang kali ini.

Helian Sheng turun dari kereta kuda, lalu dengan tatapan 'penuh keengganan berpisah' ia berbalik kembali, menatap Hua Yunxi dan bertanya, "Perpisahan hari ini, entah kapan kita bisa bertemu lagi di masa depan?"

Hatinya sedikit bergetar, Hua Yunxi menarik sudut bibirnya dan tersenyum, "Jika ada jodoh, kita pasti akan berjumpa lagi! Sampai jumpa di lain kesempatan!"

"Sampai jumpa lagi!"

Mengambil alih seekor kuda dari tangan Tianwen, Helian Sheng melompat ke atas punggung kuda dalam sekali gerakan. Sebelum akhirnya melirik Hua Yunxi sekali lagi, ia sengaja melirik ke arah di belakang wanita itu, dan lengkungan di sudut bibirnya semakin melebar.

"Derap!"

"Derap!"

Menepuk perut kuda dengan tumitnya, Helian Sheng dan Tianwen melesat cepat menuju jalur ke arah selatan.

Hua Yunxi menarik kembali pandangannya dan menurunkan tirai kereta. Saat ia mengalihkan pandangannya, ia tiba-tiba beradu pandang dengan sepasang mata yang penuh amarah. Alisnya berkerut, dan ia pun mengalihkan pandangannya dengan datar.

Pria ini entah angin apa yang sedang merasukinya, bersikap sangat aneh selama beberapa hari ini! Sejak hari mereka mendapatkan undangan itu, Xiao Zhan tidak pernah berbicara lagi dengannya. Untung saja ada Helian Sheng selama beberapa hari terakhir ini, kalau tidak, ia pasti sudah merasa bosan setengah mati.

Menurunkan pandangannya, Hua Yunxi mengulurkan tangan untuk merapikan selimut tipis di tubuh Hua Xiaomi dengan tatapan penuh rasa sayang. Sebagai orang dewasa, mereka tentu tidak masalah, tetapi yang patut dikasihani adalah si kecil Xiaomi yang masih begitu mungil harus ikut mereka berdua duduk di dalam kereta kuda selama belasan hari, hingga anak itu hampir selalu menghabiskan hari-harinya dengan tidur.

Xiao Zhan melihat Hua Yunxi yang secara terang-terangan mengabaikan tatapannya, membuat kemarahan di dalam matanya semakin berkobar.

Sialan!

Hari demi hari belakangan ini, ia harus melihat Helian Sheng dan Hua Yunxi mengobrol dengan begitu akrab, seolah-olah keberadaannya di sana sama sekali tidak ada! Yang lebih menjengkelkan lagi, mereka berdua bahkan bermesraan di depan Hua Xiaomi, benar-benar keterlaluan!

Di dalam kereta kuda, Xiao Zhan merasa kesulitan bernapas. Akhirnya, didorong oleh rasa kesal yang memuncak, ia menyingkap tirai kereta dan keluar untuk duduk di kusir bersama Hufeng.

Hufeng melirik Xiao Zhan sekilas, menghela napas, lalu kembali fokus mengendalikan kereta.

Di sisi lain. Helian Sheng yang memacu kudanya dengan kencang sejauh beberapa mil akhirnya memperlambat laju kudanya dan berhenti. Ia menoleh ke belakang dan melihat kereta kuda Hua Yunxi perlahan-lahan sedang melaju ke arah Lembah Raja Obat.

Tianwen berhenti di samping Helian Sheng, bibirnya bergerak-gerak seolah ingin mengatakan sesuatu, sebelum akhirnya bertanya secara blak-blakan, "Tuan, wanita itu adalah seorang wanita yang bersuami, mengapa Anda..."

Kepribadian Tianwen memang lurus dan blak-blakan, namun bahkan dirinya pun bisa melihat bahwa tuannya memperlakukan wanita itu secara khusus. Orang lain tentu juga bisa menyadarinya, hanya saja ia tidak mengerti mengapa tuannya bisa begitu memerhatikan seorang wanita yang sudah bersuami?

Menarik kembali pandangannya, Helian Sheng melirik Tianwen dan menjawab dengan santai, "Hanya merasa menarik saja!" Menjepit perut kudanya dengan kedua kaki, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan ke depan.

Namun, hati Helian Sheng justru terasa sedikit kacau.

Apakah benar hanya karena merasa menarik?

Bayangan adegan pertemuan pertama mereka melintas di benaknya; wanita itu mengenakan pakaian pria dan tampil begitu memesona tiada tara!

Kecerdasannya, ketajamannya, pembawaannya, suaranya...

Seperempat jam kemudian.

Kereta kuda akhirnya tiba di luar Lembah Raja Obat.

Hua Yunxi menyingkap tirai kereta untuk melihat ke luar. Saat itu, sudah cukup banyak orang yang berkumpul di sana, jumlahnya tidak sedikit, bahkan mencapai lebih dari seratus orang. Ini baru yang datang hari ini, lalu bagaimana dengan kemarin atau lusa? Ia sungguh tidak bisa membayangkan berapa banyak orang yang datang untuk sayembara kali ini.

Hua Yunxi mengamati sekeliling kerumunan dan mendapati bahwa kelompok orang ini benar-benar lengkap dari berbagai kalangan! Ada para pendekar dunia persilatan yang berbicara dengan suara melengking, para pelajar yang membawa buku-buku, dan yang paling aneh adalah bahkan ada ahli nujum yang membawa kompas bagan delapan penjuru. Tentu saja, para tabib yang membawa kotak obat di punggung mereka juga tidak sedikit jumlahnya.

Melihat beragam jenis orang yang berkumpul di sana, ekspresi Hua Yunxi justru berubah menjadi serius. Saat ia menarik kembali pandangannya, ia beradu pandang dengan Xiao Zhan dan Hufeng, dan ekspresi mereka berempat serempak berubah menjadi tegang.

Hufeng melirik Xiao Zhan dan berbisik, "Yang Mulia, hamba rasa sayembara pencarian jodoh di Lembah Raja Obat kali ini tidak sesederhana itu."

Mengangguk pelan, Xiao Zhan menatap Hua Yunxi dan berkata dengan suara lembut, "Hati-hatilah."

Menangkap kilau perhatian yang melintas di balik sepasang mata gelap itu, hati Hua Yunxi sedikit berdesir. Sudut bibirnya perlahan terangkat, dan ia menganggukkan kepalanya.

Seketika itu pula, Hua Yunxi menggandeng tangan Hua Xiaomi yang ada di dalam kereta, dan keempat orang itu pun turun dari kereta kuda.

Rombongan mereka ini benar-benar memanjakan mata; para prianya berwajah tampan, sang wanita berparas jelita, serta anak yang begitu menggemaskan. Oleh karena itu, secara alami kehadiran mereka langsung menarik sebagian besar perhatian orang-orang begitu turun dari kereta.

Xiao Zhan sejak awal sudah menyadari keberadaan seorang pencatat data di kerumunan itu. Tanpa menoleh ke samping, ia memimpin ketiga orang itu melangkah maju.

Semakin mereka mendekat ke arah sana, Hua Yunxi semakin bisa merasakan bau menyengat tertentu di udara yang menggelitik indra penciumannya. Alisnya yang halus mengerut, Hua Yunxi buru-buru mengulurkan tangan untuk menarik lengan baju Xiao Zhan.

Mengambil sebuah botol porselen putih dari pinggangnya, Hua Yunxi menuangkan empat butir pil dari dalamnya. "Ini adalah pil penawar racun. Meskipun tidak secara khusus ditujukan untuk kabut beracun, namun obat ini memiliki khasiat tertentu," ucapnya. Sebelum berangkat, ia memang sengaja membawa beberapa pil penawar racun, tetapi seumur hidup ia belum pernah melihat yang namanya kabut beracun, sehingga ia tidak bisa meracik pil yang secara khusus menawar racun kabut tersebut.

Xiao Zhan mengulurkan tangan mengambil sebutir, tanpa ragu sedikit pun langsung memasukkannya ke dalam mulut, dan Hufeng mengikuti tindakannya.

Hua Yunxi melihat tindakan mereka berdua, lalu berjongkok untuk menyuapi Hua Xiaomi sebutir pil, sebelum akhirnya menelan satu butir untuk dirinya sendiri. Setelah itu, keempatnya baru melangkah maju menghadap petugas pencatat tersebut.

Petugas itu tadinya sedang sibuk mencatat sesuatu. Mendengar suara langkah kaki, ia mengangkat kepalanya dan seketika tertegun saat melihat paras keempat orang di hadapannya, sebelum akhirnya bertanya dengan nada standar, "Apakah kalian juga datang untuk berpartisipasi dalam sayembara mencari jodoh? Apakah membawa undangan?"

Hua Yunxi mengeluarkan undangan dari balik lengan bajunya dan menyerahkannya kepada petugas tersebut. Pria itu mengambilnya dan memeriksanya, lalu matanya melirik sekilas ke arah Hua Xiaomi. Ia sempat tertegun sejenak, namun pada akhirnya tidak mengatakan apa pun.

Seseorang yang bisa bertugas menyambut tamu di tempat ini tentu saja memiliki kemampuan membaca situasi.

Entah dari pakaian yang dikenakan maupun pembawaan rombongan Hua Yunxi, semuanya tampak berbeda dari orang kebanyakan. Petugas itu tentu tidak akan cukup bodoh untuk mencari masalah dan menyinggung mereka.

Terlebih lagi, petugas itu mengangkat kepalanya untuk mencuri pandang ke arah Xiao Zhan dua kali. Pria ini sangat tampan! Selama beberapa hari bertugas menyambut tamu di sini, pria inilah yang paling tampan di antara semuanya. Terlebih lagi, aura yang terpancar dari tubuhnya juga luar biasa, tampaknya ia berasal dari latar belakang yang tidak biasa. Hanya saja... Petugas itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Hua Yunxi dan Hua Xiaomi, lalu bertanya dengan nada bingung, "Hubungan antara Nyonya dengan Tuan Muda ini adalah..."

Alisnya berkedut, Hua Yunxi buru-buru memotong dan berkata, "Ini adalah kakakku. Aku ikut bersama kakakku untuk melihat putri Lembah Raja Obat, jika dirasa cocok..." Kelanjutan kalimatnya sudah sangat jelas tanpa perlu diucapkan.

Mengangguk penuh pemahaman, petugas itu akhirnya merasa tenang.

"Baiklah kalau begitu! Silakan menunggu sebentar, nanti kita akan masuk ke dalam lembah secara bersama-sama."

Xiao Zhan mendengus dingin, lalu mendahului melangkah kembali ke arah kereta kuda. Wanita sialan itu, sekarang menjadi kakaknya lagi? Hubungan kekeluargaan ini berubah dengan sangat cepat!

Meskipun merasa tidak puas di dalam hati, Xiao Zhan juga tahu bahwa saat ini hanya itulah satu-satunya cara, jadi ia terpaksa menelan kekesalannya dan memilih untuk bersabar.

Hua Yunxi mengangkat alisnya, menoleh ke arah Hufeng, dan bertanya, "Apakah tuanmu sedang mengalami panas dalam beberapa hari ini? Kenapa amarahnya begitu besar? Masuk ke dalam lembah nanti, belikan dia teh herbal untuk meredakan panas dalam."

Tertawa getir di dalam hatinya, Hufeng menggelengkan kepala tanpa berdaya.

Keempat orang itu kembali ke dalam kereta kuda dan menunggu selama sekitar satu jam, hingga mereka mendengar seseorang berteriak dari kerumunan di luar.

"Sudah waktunya masuk ke dalam lembah."

Kerumunan orang segera bergerak menuju ke satu arah. Rombongan Hua Yunxi pun turun dari kereta kuda dan berjalan mengikuti barisan di belakang kerumunan.

Anehnya, kabut beracun yang tadinya sesekali terlihat kini telah sepenuhnya menghilang. Sekelompok orang itu mengikuti pemandu di barisan paling depan dan dengan cepat memasuki area lembah.

Begitu melangkah masuk ke dalam lembah, pemandangan di hadapan mereka seketika berubah total; dipenuhi kicauan burung dan wangi bunga, dikelilingi pepohonan rimbun, pegunungan hijau serta aliran air jernih, serta ladang jerami dan gubuk-gubuk pedesaan.

Hanya saja, tanaman yang tumbuh di ladang-ladang itu bukanlah sayuran, melainkan berbagai jenis bahan obat-obatan.

Hua Yunxi menghirup aroma obat yang pekat di udara, dan seketika ia merasa seolah-olah seluruh pori-pori di tubuhnya terbuka, menghirup aroma tersebut dengan serakah.

Membalikkan badan, Hua Yunxi menoleh ke belakang untuk melihat sekilas. Tanpa disadari, bagian belakang mereka kini telah dipenuhi oleh kabut beracun yang tebal, berwarna putih kelabu, membuat jalan yang baru saja mereka lewati sama sekali tidak terlihat lagi.

Namun, sayup-sayup ia bisa mendengar suara yang terdengar familier dari arah belakang.

"Undangan kami benar-benar hilang, biarkan kami masuk ya."

"Tidak bisa! Siapa yang bisa percaya perkataan kalian? Bagaimana jika kalian berniat masuk untuk membuat kekacauan?"

"Memfitnah! Di mana tampang kami yang mirip orang jahat? Kami hanya ingin masuk untuk ikut menonton keramaian..."

Kalimat-kalimat selanjutnya sudah tidak bisa didengar jelas lagi oleh Hua Yunxi. Mengikuti rombongan orang-orang di depan, mereka semua segera berjalan menuju sebuah area terbuka yang luas.

Pandangan Hua Yunxi menyapu sekeliling, dan matanya tiba-tiba menangkap sesosok bayangan berwarna merah muda.

Seorang wanita mengenakan gaun panjang berwarna merah muda, dengan rambut hitam panjang yang tergerai santai di punggungnya, serta mengenakan sebuah lingkaran bunga yang dianyam dari bunga segar di atas kepalanya. Karena wanita itu mengenakan cadar penutup wajah, wajah aslinya tidak terlihat, namun sepasang mata jernih dan berbinar yang tereksp luar tampak sangat indah.

Wanita itu sedang dengan penasaran mengamati sekeliling kerumunan, ketika pandangannya tiba-tiba terpaku pada satu titik. Tanpa ragu, ia langsung melangkah menghampiri arah tempat Hua Yunxi berada.

Hua Yunxi mengerutkan kening melirik Xiao Zhan di sampingnya, lalu menggandeng tangan Hua Xiaomi dan perlahan mundur lima hingga enam langkah ke belakang.

Benar saja, wanita berpenutup wajah itu berjalan lurus menghampiri Xiao Zhan, menatap wajah Xiao Zhan dengan mata jernihnya selama tiga detik, sebelum akhirnya bertanya dengan nada penuh keheranan: "Kau... apakah Kakak Zhan?"

Suara ini terdengar begitu merdu dan jernih, bagaikan suara burung bulbul di pegunungan.

Kakak Zhan?

Alisnya berkedut, secercah emosi ganjil melintas di lubuk hati Hua Yunxi.

Ujung mata Xiao Zhan melirik Hua Yunxi sekilas, lalu ia menganggukkan kepalanya. Ia pernah datang ke tempat ini untuk memulihkan diri sebelumnya, jadi tentu saja ia mengenali Xue Ningxiang. Waktu itu mereka berdua masih anak-anak, sehingga Xue Ningxiang memanggilnya dengan sebutan Kakak Zhan.

Tanpa diduga, sedetik kemudian, wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangan dan memeluk Xiao Zhan erat-erat, lalu berkata dengan penuh antusias, "Kakak Zhan, akhirnya kau datang! Ningxiang sudah menunggumu sangat lama! Bagus sekali! Bagus sekali!" Mungkin karena terlalu bersemangat, Xue Ningxiang berbicara tanpa henti karena diliputi kegembiraan. Meskipun wajah kecilnya tersembunyi di balik cadar, bagian yang terekspos di luar tampak merona merah muda, terlihat begitu memikat.

Namun, ekspresi Xiao Zhan justru berubah menjadi dingin. Secercah kilat dingin melintas di matanya, dan ia langsung mengulurkan tangan untuk mendorong orang yang ada di pelukannya dengan kasar. Merasakan aroma bedak asing yang melekat di tubuh wanita itu, Xiao Zhan mengerutkan keningnya dalam-dalam, sementara niat membunuh terpancar jelas di matanya.

Xue Ningxiang yang sedang diliputi kegembiraan sama sekali tidak menduga reaksi kasar Xiao Zhan. Ia menjerit tertahan dan langsung terhuyung jatuh ke belakang, namun untunglah tubuhnya segera ditopang oleh sepasang telapak tangan yang hangat.

"Raja Beiyu baru saja tiba di Lembah Raja Obat tapi sudah langsung melakukan tindakan kekerasan pada putri orang tua ini, apa kalian menganggap Lembah Raja Obat ini sudah tidak ada orang lagi?"