Bab 18: Ayah Tiran yang Memanjakan Anak Perempuan dan Mengabaikan Anak Laki-laki
"Nuobao, aku dengar sebelumnya kau adalah seorang pengemis kecil, jadi bagaimana caranya kau bisa mengenal Ayahanda Kaisar?"
Wajah Mulian Jing tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Nuobao mengangguk, lalu menceritakan bagaimana ia dan ayahnya bertemu.
Ketika mendengar bahwa Nuobao berani menghadang kereta kuda Ayahanda Kaisar, Mulian Jing sontak menghirup napas dalam-dalam karena kaget.
"Nuobao, kau... kau tak takut, ya?"
Mulian Jing berbisik pelan, "Ayahanda Kaisar itu kan menakutkan..."
Ayahanda Kaisar itu terkenal kejam, sedikit saja bicara tak sesuai hati, langsung ada yang dipenggal.
Bahkan Mulian Jing sendiri tak berani berbicara banyak di hadapan Mulhan.
Setiap kali bertemu ayahandanya, ia selalu gemetar dan was-was.
Baginya, Nuobao yang berani menghadang kereta kuda itu benar-benar seperti seorang pemberani.
"Tidak takut," jawab Nuobao sambil menggelengkan kepala.
"Ayah itu tidak menakutkan, kok. Dia cuma tampak galak dari luar, padahal aslinya ayah sangat baik."
Wajah Nuobao serius, suaranya jernih, "Ayah adalah orang yang baik."
Kalau bukan karena ayah, mungkin Nuobao sekarang masih terlantar di jalanan.
"Orang baik?" suara Mulian Jing tak sengaja meninggi, matanya menatap dengan ketakutan seolah melihat hantu.
Ayahmu dan ayahku, sepertinya berbeda?
Mulian Jing benar-benar tak bisa membayangkan, benarkah ayah yang diceritakan Nuobao adalah Ayahanda Kaisar?
"Kakak, aku mau bilang rahasia padamu," bisik Nuobao, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan hati-hati.
Ia mendekat ke telinga Mulian Jing, lalu berbicara pelan.
"Sebenarnya, ayah itu cuma kelihatan dingin di luar, padahal hatinya hangat, tidak galak seperti yang kau kira."
"Benarkah?" Mulian Jing setengah percaya, setengah ragu.
Akal sehatnya berkata, Nuobao pasti salah.
Mana mungkin Ayahanda Kaisar adalah orang yang lembut hatinya.
Tapi...
Tanpa sadar, ia teringat saat ayahnya memeluk Nuobao.
Meski pemandangan itu terasa aneh, Mulian Jing harus mengakui,
di dalam hatinya, ada sedikit rasa iri.
Kalau saja Ayahanda Kaisar mau memeluknya juga, tentu ia bisa membanggakan diri di depan kakak-kakaknya untuk waktu yang lama.
Mendadak, Mulian Jing punya ide nekat.
Bagaimana kalau...
Lain kali ia juga coba?
...
Hari itu, Nuobao menghabiskan waktu seharian di Istana Yauhua.
Mulian Jing yang tak bisa bergerak hanya bisa rebahan di ranjang untuk memulihkan luka.
Setiap kali Nuobao hendak pulang, Mulian Jing akan menatapnya dengan pandangan memelas.
Membuat Nuobao jadi tidak tega.
Ia merasa kakaknya seperti anak anjing kecil yang ditinggalkan.
Karena iba, Nuobao pun tetap menemaninya.
Dengan adik perempuan di samping, meski hanya mengobrol, Mulian Jing sudah sangat puas.
Melihat langit di luar sudah benar-benar gelap, barulah Nuobao ingat kalau ia seharusnya pulang untuk makan malam bersama ayahnya.
"Nuobao, tetaplah di sini untuk makan malam," pinta Mulian Jing, tak rela membiarkan adiknya pergi, buru-buru membujuk dengan makanan enak.
"Sup tahu putih istana kita, ikan asam manis ala Danau Barat, kepala singa kepiting, daging kukus daun teratai... semua itu masakan unggulan. Sayang sekali kalau kau tidak mencobanya."
Mendengar deretan nama hidangan itu, Nuobao tak bisa menahan diri menelan ludah.
Mau!
"Tapi, ayah..."
"Setelah makan, baru kau pulang ke Ayahanda Kaisar," Mulian Jing segera membujuk saat melihat Nuobao ragu.
Toh, Ayahanda Kaisar tidak kekurangan teman makan, banyak sekali selir yang ingin menemaninya.
Meminjam Nuobao sehari saja, kenapa tidak?
Kalau bukan karena beda jenis kelamin, Mulian Jing bahkan ingin Nuobao menginap malam ini.
Saat Nuobao masih bimbang, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari pelayan muda di luar—
"Paduka Kaisar dan Permaisuri Agung tiba!"
"Ayah!" seru Nuobao, matanya langsung berbinar, melompat lincah seperti burung kecil yang senang.
"Ayah, datang untuk mencari Nuobao, ya?"
Mulhan datang membawa hawa dingin, baru saja melangkah ke dalam istana, langsung dipeluk erat oleh Nuobao di kakinya.
Melihat mata kecil yang bersinar itu, sang penguasa hanya mendengus dingin.
"Kalau aku tidak datang, kau memang tidak berniat pulang malam ini?"
"Tidak, kok, Nuobao memang mau pulang cari ayah," jawab Nuobao sambil mendongak, lalu merentangkan kedua tangannya ke arah Mulhan, seolah itu hal yang wajar.
"Ayah, peluk!"
Melihat anak kecil itu menatapnya penuh harap, matanya seolah hanya memantulkan sosok ayahnya.
Wajah suram Mulhan pun sedikit melunak.
Ia menundukkan badan, mengangkat Nuobao dari lantai.
Benar saja, setiap kali bersama Nuobao, arwah-arwah jahat itu tidak berani mendekatinya lagi.
Nuobao mengibaskan tangan di samping ayahnya, sekilas seperti mengusir nyamuk.
Padahal hanya Mulhan yang tahu, anak kecil itu sedang membantunya mengusir roh-roh penasaran.
Mungkin karena tadi malam Nuobao menunjukkan kekuatan, para arwah itu jadi takut.
Hari ini, tak banyak arwah jahat yang mengganggu Mulhan.
Hanya satu dua arwah yang berkeliaran tanpa arah.
Dengan kibasan kecil Nuobao, mereka segera terusir.
Sekaligus mengusir hawa gelap yang mengelilingi ayahnya.
Namun, di mata orang lain yang tak tahu apa-apa, pemandangan itu adalah ayah dan anak yang penuh kasih dan harmonis.
Nuobao tiba-tiba merasakan tatapan tajam.
Saat menoleh, ia melihat Permaisuri Su menatapnya dingin.
Senyuman palsu di wajah Permaisuri Su hampir tak bisa dipertahankan.
Melihat keakraban ayah dan anak itu benar-benar menusuk hatinya.
Ternyata, Kaisar benar-benar telah melupakan anak mereka.
Memperlakukan seorang anak kecil yang sama sekali tak punya hubungan darah dengan begitu baik.
Kalau saja anaknya yang malang melihat ini dari surga, betapa pedih hatinya.
Memikirkan itu, hati Permaisuri Su dipenuhi kepedihan.
Ia menyimpan dendam pada ketidakpedulian Mulhan, dan juga menyalahkan kemunculan Nuobao.
Tatapannya pada Nuobao pun jelas-jelas tidak ramah.
Nuobao memeluk leher ayahnya, lalu dengan sengaja menjulurkan lidah ke arah Permaisuri Su.
Ia memang anak kecil yang pendendam.
Siapa suruh Permaisuri Su tadi ingin mem-bully Kakak Yue Zhi.
Seperti yang diduga, tatapan Permaisuri Su makin dingin.
Karena Mulhan ada di sana, ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya menatap Nuobao penuh kebencian.
Anak kecil, tunggu saja balasanku.
"Ayahanda Kaisar..."
Mulian Jing tak melihat ekspresi ibunya yang sudah geram.
Melihat Mulhan memeluk Nuobao, hatinya terasa perih.
"Ayahanda, aku juga mau dipeluk," katanya sambil tersenyum lebar, berani mengulurkan tangan pada Mulhan.
Senyumnya mirip sekali dengan anjing kecil yang sedang kegirangan.
Namun sang penguasa hanya melemparkan tatapan dingin.
Pandangan matanya setajam pisau.
Seolah berkata, kau mau cari mati?
Mulian Jing buru-buru menarik kembali tangannya.
Sial! Hampir saja lupa, Ayahanda Kaisar itu bukan orang baik.
Kenapa tadi ia percaya pada ucapan Nuobao!
Ayahanda Kaisar itu kejam, tidak masuk akal, lebih sayang anak perempuan daripada laki-laki!
Sang penguasa menatapnya dingin, "Apa yang kau katakan?"
Setahunya, yang dihukum adalah pantat Mulian Jing, bukan kepalanya.
Anak ini kenapa bertingkah aneh di sini?
Mulian Jing sampai-sampai nyaris tergigit lidah karena ketakutan.
"Ti-tidak, tak ada apa-apa..."
Dengan wajah kecewa, Mulian Jing melirik Nuobao, seakan berkata, kau bohong padaku.
Apanya yang dingin di luar, hangat di dalam? Semua omong kosong!
Kata-kata itu sama sekali tak ada hubungannya dengan ayahnya.
Nuobao berkedip-kedip kikuk.
Tapi, ayah benar-benar baik padanya, lho.
Siapa sangka pada kakaknya malah galak.
Kedua anak itu tak tahu, di dunia ini ada yang disebut standar ganda.
Mulian Jing merasa hatinya benar-benar hancur gara-gara sikap ayahnya.
Hanya ciuman dari Nuobao yang bisa membuat hatinya sembuh.
Melihat tatapan sedih kakaknya, Nuobao buru-buru menyelipkan permen ke tangannya.
Tak ada jalan lain.
Kakak sendiri, harus dihibur sendiri.