Bab 58: Keluarga Ini Tak Bisa Tanpanya
Nuo Bao juga mulai merasa tak sanggup lagi. Ia segera meletakkan Mu Fei Mo ke atas ranjang, lalu terengah-engah kelelahan. Nuo Bao mengibaskan lengannya yang pegal, lalu menggerutu dengan nada tak senang, “Kakak kelima, berat sekali kau ini.”
Wajah Mu Fei Mo seketika berubah antara pucat dan kemerahan. “Siapa suruh kau menggendongku, aku bisa sendiri!”
Nuo Bao pun tak membantah ucapannya yang keras kepala.
Ramuan obat yang tadi sudah menjadi dingin.
Dengan tangan bergetar, Nuo Bao membawa mangkuk itu ke depan Mu Fei Mo.
Aroma obatnya sangat tajam, rasa pahit yang pekat menusuk hidung.
Nuo Bao terpaksa menutup hidung dengan satu tangan, lalu dengan suara sengau mendesak, “Kakak kelima, cepat minum obatnya, supaya cepat sembuh.”
Wajah Mu Fei Mo penuh penolakan. Walau kakinya sangat sakit, ia tetap enggan meneguk obat hitam pekat itu.
Saat hendak menyuruh Nuo Bao membawanya pergi, ia mendongak dan melihat si bocah kecil itu seperti hampir pingsan karena bau.
Mu Fei Mo langsung merasa geli.
“Kau takut minum obat?”
Nuo Bao mengangguk keras, wajah kecilnya mengerut seperti pare.
Dia benar-benar tak tahan dengan bau itu.
Nuo Bao masih ingat pernah melihat nenek permaisuri minum obat, dan karena penasaran, ia pernah mencicipi satu teguk diam-diam.
Hampir saja ia merasa pahit sampai melayang ke langit.
Si kecil itu merasa sangat beruntung, untung saja bukan dia yang harus minum.
Melihat Mu Fei Mo tak kunjung bergerak, Nuo Bao menampilkan ekspresi heran.
“Kakak kelima, jangan-jangan kau juga takut minum obat ya?”
“Tentu saja tidak!” Mu Fei Mo tiba-tiba mengeraskan suara.
“Jangan bercanda, lelaki sejati mana mungkin takut minum obat, cuma sedikit pahit saja, bukan masalah!”
Nuo Bao menatap curiga, “Lalu kenapa kau tidak minum?”
Hari ini ia akan berdiri di sini, menyaksikan sendiri kakaknya minum sampai habis.
“Baik, aku minum.” Mu Fei Mo mengangkat mangkuk dan langsung menenggak isinya sampai habis.
“Tuh, sudah habis kan?”
Ekspresinya tetap tenang, mangkuknya bersih tanpa sisa.
“Wah!” Nuo Bao berseru kagum, menepuk-nepuk tangan kecilnya dengan penuh semangat.
“Kakak kelima hebat sekali!”
Mu Fei Mo tampak tenang.
Namun saat Nuo Bao membalikkan badan, ia tak mampu lagi menahan ekspresi di wajahnya, berubah menjadi penuh siksaan.
Sialan, obat ini lebih pahit dari maut!
Ling Xiao yang menyaksikan semuanya: …
Benar-benar kakak beradik, sama-sama keras kepala, lebih mementingkan harga diri daripada kenyamanan.
Setelah menaruh mangkuk, Nuo Bao tiba-tiba berbalik.
Wajah Mu Fei Mo yang menyeringai belum sempat ia sembunyikan.
…
Ia pucat pasi, mengira Nuo Bao pasti akan menertawakannya.
Seperti dulu ia menertawakan Nuo Bao sebagai bocah lemah tak berguna.
Tak disangka, Nuo Bao justru tidak menertawakannya.
Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah permen berbentuk ketan amber dari kantong kelinci kecil di pinggangnya.
“Kakak kelima, makan permen ini, supaya tidak pahit lagi.”
Nuo Bao menyelipkan permen ke mulutnya. Rasa manis lembut segera mengusir getir di lidahnya.
Mu Fei Mo tertegun, memandangnya dengan tatapan rumit.
Hatinya tiba-tiba dipenuhi perasaan aneh.
Ketika permen itu meleleh, manisnya mengalir ke tenggorokan, seolah menembus hingga ke dasar hati.
“Kakak kelima, kakimu masih sakit?”
Melihat tatapan Nuo Bao yang penuh perhatian, Mu Fei Mo tak sanggup lagi marah seperti tadi.
Ia mengangguk pelan, jarang sekali ia menunjukkan sisi lemahnya, nadanya terdengar agak pilu, “Sakit…sakit sekali…”
Mana mungkin tak sakit?
Namun lebih dari rasa sakit di kaki, jauh lebih perih yang ia rasakan di hati.
“Kalau begitu, biar Nuo Bao tiupkan, ditiup nanti tidak sakit lagi.”
Suara Nuo Bao lembut menenangkan.
Padahal dirinya sendiri saja masih balita, namun sudah bisa membujuk orang seperti orang dewasa.
Mu Fei Mo tampak canggung, “Aku bukan anak kecil lagi.”
Hanya anak tiga tahun yang percaya omongan seperti itu.
Namun, saat tangan mungil Nuo Bao menyentuh kakinya—
Rasa sakit yang semula menyiksa perlahan berkurang.
Awalnya ia kira hanya perasaan saja, namun setelah ia rasakan sungguh-sungguh—
Ia terkejut, benar-benar tidak separah tadi.
“Kau…,” Mu Fei Mo menatapnya dengan terkejut, “Apa yang kau lakukan?”
Mengapa rasa sakit di kakinya bisa langsung berkurang?
Nuo Bao mengedipkan mata pelan-pelan, berbisik lirih, “Ssst~ Kakak kelima, ini rahasia kita, jangan bilang siapa-siapa ya.”
Ling Xiao: apakah aku bukan manusia?
Menyadari tatapan Ling Xiao, Nuo Bao buru-buru menambahkan dengan suara kecil, “Kakak Tang Yuan bukan orang lain.”
Ling Xiao pun mengalihkan pandangan, wajah tetap tenang, namun sudut bibirnya terangkat samar.
“Baik, aku tidak akan bilang siapa-siapa.”
Mu Fei Mo segera pulih dari keterkejutannya, langsung mengiyakan.
Walau ia tak tahu apa yang Nuo Bao lakukan, nyatanya rasa sakit di kakinya berkurang.
Jangan-jangan…
Benarkah ia punya cara menyembuhkan kakinya?
Memikirkan itu, napas Mu Fei Mo jadi lebih cepat, tatapan yang semula redup perlahan kembali bersinar.
Nuo Bao juga sangat ingin segera menyembuhkan kaki kakak kelimanya.
Sayangnya, kekuatan spiritualnya hanya bisa meringankan rasa sakit, belum mampu memperbaiki tulang dan urat yang patah.
Namun Nuo Bao ingat, ia punya banyak pil obat di ruang cincin spiritualnya.
Jika ia bisa membuka ruang itu, ia pasti bisa menyembuhkan kaki kakak kelimanya.
Nuo Bao diam-diam berjanji akan rajin berlatih.
Awalnya, Nuo Bao hanya ingin hidup santai seperti ikan asin.
Sekarang, keinginan itu tampaknya harus pupus.
Keluarga ini, tak bisa tanpa dirinya!
…
Begitu mendengar adik lelakinya bangun tapi tak mau makan dan minum, Mu Fei Bai langsung murka.
Ia segera bergegas ke tenda tempat Mu Fei Mo dirawat.
“A Mo, kau…”
Mu Fei Bai awalnya mengira akan melihat adiknya yang putus asa.
Namun Mu Fei Mo tampak tenang.
Melihatnya datang, ia malah menyapa dengan sikap santai, seolah tak terjadi apa-apa.
Namun sikap pura-pura baik-baik saja itu justru membuat Mu Fei Bai semakin cemas.
“A Mo, aku tahu hatimu pasti sedang sangat sedih. Kau boleh bicara padaku, jangan dipendam sendiri.”
Mu Fei Bai berjongkok di depan adiknya, matanya menatap kaki Mu Fei Mo yang tertutup selimut, seolah hatinya ikut tertusuk.
“Tak apa-apa, di hadapanku kau tak perlu menutupi perasaanmu. Aku kakakmu, satu-satunya orang yang bisa kau percaya dan andalkan di dunia ini.”
Mu Fei Bai membujuk perlahan.
Dibanding adiknya menahan beban sendirian tanpa bicara, ia lebih berharap Mu Fei Mo mau meluapkan semuanya.
Tatapan Mu Fei Mo berubah, bibirnya bergerak-gerak.
“Kak, aku sungguh tidak apa-apa, kau tak perlu khawatir.”
Sejak Nuo Bao datang, Mu Fei Mo memang mulai berubah pikiran.
Jika ia menyerah begitu saja, bukankah itu berarti ia membiarkan orang di balik semua ini menang?
“Tenanglah, bagaimanapun caranya, aku pasti akan menyembuhkan kakimu. Kudengar di dunia persilatan ada seorang tabib sakti, aku sudah mengutus orang mencarinya, mungkin saja dia bisa menyembuhkanmu.”
Mu Fei Bai menghela napas.
Ia mengira adiknya masih sedih karena itu.
Mu Fei Mo membuka mulut, namun kata-katanya urung terucap.
Sudahlah…
Ia sudah berjanji, tak boleh mengatakan apa pun.
Kalau ternyata tidak berhasil, bukankah kakaknya hanya akan berharap kosong?
Namun dari ekspresi ragu Mu Fei Mo, Mu Fei Bai merasa ada yang disembunyikan, lalu bertanya, “Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”
Mu Fei Mo menggeleng, “Tidak.”
Walau diceritakan, kakaknya pasti tidak akan percaya.
Bahkan dirinya sendiri sulit percaya, hanya berharap kecil, sekadar berusaha sekuat tenaga.
“Kalau begitu, kau istirahatlah.”
Mu Fei Bai tak berkata lagi, menepuk bahu adiknya dengan lembut, lalu berbalik keluar dari tenda.
“Pangeran keempat.”
“Tadi, apakah ayahanda sempat datang ke sini?”
Langkah Mu Fei Bai terhenti, ia bertanya pada penjaga di luar.
Orang satu-satunya yang ia pikir bisa membuat adiknya begitu tenang hanya ayahanda mereka.
Penjaga itu menggeleng, “Paduka belum datang, yang datang tadi adalah putri kecil.”
“Nuo Bao?” Mu Fei Bai sangat terkejut, “Apa yang ia bicarakan?”
“Hamba tidak tahu.”
Mu Fei Bai mengernyit tipis.
A Mo pasti menyembunyikan sesuatu darinya.
Perasaan kehilangan kendali seperti ini membuat hatinya tak nyaman.
Sebab selama ini, antara Mu Fei Mo dan dirinya tak pernah ada rahasia.
Tapi sekarang, adiknya mulai merahasiakan sesuatu.