Bab 99: Siapa Bilang Aku Datang Mencarimu
Mu Junze bertanya, “Hm?” Sebenarnya ayahanda telah mengajarkan apa saja pada Nuo Bao? Sekilas terdengar tak masuk akal, tapi kalau dipikir lebih dalam, rupanya ada benarnya juga.
“Kakak Putra Mahkota, percayalah padaku, Nuo...” Si kecil hampir saja keceplosan bicara, untung saja ia cepat-cepat membetulkan ucapannya. Kalimat yang hendak keluar dari mulutnya pun berbelok, “Dia tidak akan menyalahkanmu...” Mu Junze tentu paham, yang dimaksud “dia” oleh Nuo Bao adalah anak yang belum sempat lahir itu.
Ia sendiri tidak terlalu memedulikan ucapan bocah itu, menganggap Nuo Bao hanya sedang menenangkannya. “Hm,” sahutnya pelan.
Melihat reaksi kakaknya, Nuo Bao tahu bahwa sang Putra Mahkota tidak mempercayai kata-katanya. Tapi ia pun tak bisa serta-merta memberi tahu bahwa dirinya adalah anak itu, dan bahwa ia tidak pernah menyalahkan sang Putra Mahkota. Meski ia mengatakannya, kakaknya pasti tak akan percaya, bahkan akan mengira ia sedang mengigau.
Nuo Bao menggaruk kepalanya, lalu menghela napas penuh kekhawatiran. Tampaknya untuk membuka simpul di hati kakak Putra Mahkota ini, ia harus memulainya dari Ibu Suri dahulu.
...
Di luar aula.
Sang permaisuri berdiri mendengarkan semuanya, ekspresinya tampak rumit. “Permaisuri, apakah Anda tidak ingin masuk?” bisik Nyonya Gui.
Barulah sang permaisuri tersadar, lalu melangkah masuk perlahan.
“Salam hormat untuk Ibu Suri.”
Mendengar para pelayan memberi salam, kedua kakak beradik itu menoleh, baru menyadari kehadiran sang permaisuri.
“Ibu Suri~” Mata Nuo Bao bersinar, ia melompat kegirangan bagaikan burung kecil yang ceria.
“Ibu Suri, kenapa datang? Apa ingin menemui Nuo Bao?”
Tubuh mungil Nuo Bao yang harum dan lembut itu langsung memeluk sang permaisuri. Mendekap si kecil yang empuk di pelukannya, sang permaisuri tak kuasa menahan senyum tipis di wajahnya. Bahkan awan kelabu di hatinya perlahan sirna.
“Benar, ayo Nuo Bao pulang bersama Ibu.”
Ia membungkuk sedikit, mengelus kepala Nuo Bao dengan penuh kelembutan, matanya menyiratkan rasa iba yang mendalam. Nuo Baonya terlalu penurut dan dewasa untuk seusianya. Mana mungkin ia tak merasa pilu pada anak ini...
Setelah keguguran kala itu, tubuh permaisuri segera pulih, bahkan tabib istana pun keheranan. Seharusnya, meski nyawanya selamat, tubuhnya pasti akan lemah dan meninggalkan penyakit. Namun, selain tak dapat mengandung lagi, tubuh permaisuri sehat-sehat saja.
Ia pun sadar, itu pasti karena anaknya melindunginya. Mungkin, Nuo Bao menukar nyawanya demi kesehatan sang ibu.
“Putra hamba memberi hormat pada Ibu Suri,” kata Mu Junze sambil memberi salam. Ia membatin, dugaannya benar. Ibu surinya begitu memperhatikan Nuo Bao, ternyata memang sengaja menyusul kemari.
Memikirkan itu, ia merasa dirinya sedikit konyol. Sampai harus memanfaatkan Nuo Bao yang polos, agar bisa bertemu dengan ibunya. Tapi meski sudah bertemu, apa gunanya? Kecuali ia bisa mengembalikan anak yang dulu hilang, seumur hidup pun Ibu Suri takkan mudah melepaskan luka itu.
“Ibu, Nuo Bao tidak mau pulang,” ujar si kecil sambil memutar bola matanya, mendadak mendapat ide cemerlang. “Nuo Bao ingin tinggal di Istana Timur, ingin bersama Kakak Putra Mahkota.”
Sambil bicara, ia memeluk kaki kakaknya erat-erat, seperti kue ketan yang lengket. Ia dan kakaknya ternyata sepikiran. Jika Ibu Suri enggan menemui Putra Mahkota, maka biarlah Ibu Suri yang datang mencarinya.
Walau begitu... ia merasa sedikit bersalah telah memanfaatkan rasa sayang Ibu Suri padanya. Ia pun tak berani mengangkat kepala, tanpa tahu bahwa sang permaisuri sama sekali tidak keberatan, bahkan menatapnya dengan senyum penuh kasih.
“Baiklah.”
Ia bisa menebak maksud kecil Nuo Bao, tapi tak sedikit pun menyalahkannya. “Selama itu keinginanmu, Ibu akan mengabulkannya.” Ucapannya lembut.
Kini Nuo Bao sudah kembali ke sisinya, mungkin ia juga harus belajar untuk tak terus terbelenggu masa lalu.
“Ibu Suri memang baik~” seru Nuo Bao gembira, menggesekkan pipinya manja ke permaisuri. “Ibu, jangan lupa menjenguk Nuo Bao setiap hari, ya.” Bocah itu mengingatkan dengan cemas. Itulah tujuannya, takut kalau sang ibu tidak datang menemuinya.
Wajah permaisuri tersenyum lembut. “Baiklah.”
Nuo Bao diam-diam menarik lengan Mu Junze. Kakak Putra Mahkota, cepat katakan sesuatu!
Mu Junze segera tersadar dan berkata, “Ibu, hari sudah petang, bagaimana kalau makan malam bersama sebelum pulang?”
Setelah kalimat itu terucap, sang permaisuri tak langsung menjawab. Mu Junze mengepalkan jari-jarinya, diam-diam tegang. Di saat ia hampir putus asa, mengira ibunya takkan mengiyakan, tiba-tiba sang permaisuri mengangguk.
Mu Junze tertegun.
“Kakak Putra Mahkota.” Nuo Bao mengingatkannya, barulah ia benar-benar sadar.
“Akan segera kusuruh menyiapkan makan malam.”
Meski sang permaisuri hanya bersedia tinggal demi Nuo Bao, tapi biasanya ia bahkan tak mau melihat wajah sang Putra Mahkota. Kini mereka bisa duduk semeja, bukankah itu tanda hati sang ibu perlahan luluh?
...
Hidangan makan malam yang disiapkan Mu Junze, selain menu kesukaan permaisuri, juga ada yang jadi favorit Nuo Bao.
Awalnya Nuo Bao masih ingat tugasnya, harus membantu memperbaiki hubungan ibu dan kakaknya. Namun, begitu hidangan tersaji, pipinya langsung tertanam dalam mangkuk, makan dengan lahap hingga semua urusan lain terlupa.
Sang permaisuri diam-diam memperhatikan makanan apa yang disukai Nuo Bao dan mencatatnya dalam hati. Ia mengambil sepotong udang dengan sumpit umum, lalu meletakkannya di mangkuk Nuo Bao. Setelah itu, ia juga mengambilkan lauk kesukaan Putra Mahkota.
“Ibu ingat, kau kurang suka udang dan lebih menyukai rasa asam manis. Cobalah daging ceri asam manis ini.” ucap sang permaisuri lembut.
“Apa ibu tidak keliru?” lanjutnya.
Mata Mu Junze berkedip haru. “Benar, terima kasih, Ibu.”
Sudah lama ia tak merasakan suasana seperti ini. Seolah-olah kembali ke masa ketika hubungan ibu dan anak belum ada jarak. Ia pun menggenggam sumpit erat-erat, menundukkan kepala untuk menutupi perasaannya.
Tatapan sang permaisuri penuh kehangatan. Dengan anak-anak di sisinya, hatinya sudah sangat bahagia. Ia bahkan menyuruh para pelayan meninggalkan aula, tak ingin momen itu diganggu orang lain.
Soal Mu Han... saat itu, baik ibu maupun anak-anak, mereka seakan melupakan keberadaannya.
...
“Paduka Kaisar tiba!”
Baru saja disebut, langsung datang. Mu Han melangkah masuk dengan aura dingin menyelimuti dirinya.
“Hamba memberi hormat pada Paduka Kaisar.”
“Putra hamba memberi salam hormat pada Ayahanda.”
Sang permaisuri dan Putra Mahkota segera memberi salam, keduanya agak gugup. Di benak mereka muncul pikiran yang sama: Untuk apa dia datang? Jangan-jangan, Paduka Kaisar menyesal dan hendak membawa pulang Nuo Bao?
Mendadak mereka jadi tegang.
“Ada perlu apa Paduka Kaisar datang kemari?” tanya permaisuri.
Tatapan Mu Han yang tajam menyapu wajah mereka, memperhatikan setiap perubahan ekspresi, hatinya mendengus dingin.
“Apa aku tak boleh datang kalau tak ada urusan?”
Padahal istri dan anak-anaknya ada di sini, tak satu pun yang menyambutnya. Namun, sang kaisar tak sadar diri, langsung mengibaskan jubah dan duduk.
“Eh, Ayah, kenapa datang ke sini?” Akhirnya Nuo Bao rela mengangkat kepala dari mangkuk, mulutnya masih mengunyah udang.
“Ayah ke sini mencari Nuo Bao? Ayah sudah rindu Nuo Bao ya?”
Mu Han langsung mendengus, alis matanya tampak dingin dan acuh. “Siapa bilang aku kemari mencarimu?”
Ia tak suka melihat si kecil ini terlalu bangga.
“Aku ke sini menemui Putra Mahkota.”
Ucapan itu membuat Paman De dalam hati tertawa geli. Bahkan Mu Junze pun tak bisa menahan tawa tipis. Ayahanda sendiri pun pasti tak percaya, selain saat ia pernah terluka parah, sebelumnya tak pernah sekalipun ayah datang ke Istana Timur. Lagi pula, ayah mencari dirinya, mana mungkin ada urusan baik?