Bab 85: Seorang Pangeran Agung, Makanannya Lebih Buruk dari Anjing
Tempat tinggal Mu Luochen terletak sangat terpencil. Awalnya, di sepanjang jalan masih bisa melihat para pelayan istana yang berlalu-lalang, namun semakin jauh berjalan, suasana pun makin sunyi dan tak terurus. Lama-kelamaan, bahkan bayangan manusia pun tak tampak lagi. Kalau bukan karena arahnya berbeda, Nuobao nyaris mengira Kakak Enam hendak membawanya ke Istana Dingin.
“Kita sudah sampai,” ucap Mu Luochen tiba-tiba, lalu mendorong pintu besar yang tampak tak terlalu kokoh.
Nuobao mendongak, menyadari bahwa itu adalah sebuah halaman kecil. Halaman itu bersih sekali, bahkan sehelai daun pun tak tampak berserakan.
Mu Luochen baru hendak melangkah masuk, saat tiba-tiba terdengar suara pertengkaran dari dalam.
“Nenek tua busuk, cepat minggir!”
“Kalian... kalian sungguh terlalu!”
“Pokoknya cuma ini, mau makan syukur, nggak mau juga terserah!”
Seorang kasim melangkahi ambang pintu dan keluar sambil mengomel, masih sempat menoleh dan meludah.
“Cih! Sok penting, padahal cuma pangeran tak disayang. Sudah dikasih makan aja harusnya bersyukur, masih juga banyak protes...”
Begitu berbalik, kasim itu langsung bertemu wajah Mu Luochen yang suram, sontak ia terkejut. Namun, tak tampak sedikit pun rasa bersalah di wajahnya, malah tampak garang dan pongah.
“Lihat apa, cepat minggir!”
Jelas dari sikapnya yang tak menghargai orang, kejadian seperti ini sudah sering terjadi.
Tatapan hitam Mu Luochen menyorotkan bahaya.
Saat itu, kepala kecil Nuobao tiba-tiba muncul dari belakangnya, menatap kasim itu dengan marah.
“Berani sekali!” Suara bocah itu terdengar imut, nyaris tanpa wibawa.
Awalnya kasim itu tak menganggapnya penting, tapi begitu melihat pakaian yang dikenakan Nuobao, ia langsung sadar...
Bocah kecil secantik patung itu pasti bukan anak sembarangan, pasti dari keluarga terhormat.
“Hamba sungguh bodoh, tidak tahu tuan kecil datang, mohon ampun, Tuan Putri.”
Kasim itu langsung berubah sikap, tersenyum menyanjung dengan wajah penuh basa-basi.
Nuobao mendengus kesal. Jangan kira ia tak dengar, tadi kasim itu bicara apa tentang Kakak Enam.
“Guk guk...”
Qiuqiu menggonggong galak ke arah kasim itu, memperlihatkan taring-taringnya dengan ganas. Andai saja tak dipeluk Nuobao, Qiuqiu mungkin sudah menerkam dan menggigit orang itu.
Kasim itu mundur selangkah dengan takut, dalam hati memaki sial. Suatu hari nanti, anjing sial ini akan ia kuliti juga.
“Yang Mulia, Anda sudah pulang...”
Mendengar suara di luar, seorang pengasuh tua dengan rambut memutih dan punggung bungkuk keluar.
“Nenek Liu.” Mu Luochen buru-buru maju membantu pengasuh itu.
Nenek Liu menghela napas, sepasang matanya yang keruh menatap Nuobao, lalu segera memberi hormat, “Hamba hormat pada Tuan Putri.”
“Nenek, tak perlu banyak basa-basi.” Nuobao melambaikan tangan kecilnya, suaranya nyaring dan bening.
Ia melihat Kakak Enam begitu menghormati nenek tua itu, tahu betul kedudukannya di hati Kakak Enam tidak rendah.
“Nenek, tadi sebenarnya terjadi apa?” tanya Nuobao penuh perhatian.
Baru saja ia mendengar, Nenek Liu dan kasim itu tampaknya bertengkar.
Nenek Liu menghela napas, “Hari ini mereka lagi-lagi mengantar sisa makanan ke sini. Yang Mulia memang tak disayang, tapi bagaimanapun tetap seorang pangeran, darah daging Sri Baginda. Mana pantas makan...”
“...makan makanan yang lebih buruk dari ampas dapur!” Nenek Liu berkata sambil mengusap air mata, hatinya pedih.
Kasihan sekali Pangeran Enam!
“Ampas dapur?” Nuobao memiringkan kepala. Bocah itu tak begitu paham apa itu ampas dapur, tapi jelas terdengar sebagai sesuatu yang buruk.
Nuobao langsung masuk ke dalam. Begitu melihat jelas apa yang terhidang di meja, wajah kecilnya memerah karena marah.
“Kalian cuma kasih Kakak Enam makan ini?” Nuobao menunjuk makanan di atas meja, menuntut kasim itu dengan nada geram.
Ada sisa lauk yang dicampur dengan nasi, beberapa lembar sayuran hijau, tak tampak sedikit pun lauk daging. Nuobao mencari-cari, bahkan menemukan tulang ayam di sana.
Jelas sekali, itu semua adalah sisa makanan para pelayan istana, dicampur jadi satu lalu asal diberikan pada Pangeran Enam.
Satu-satunya yang masih layak dilihat hanya sebongkah mantou. Tapi mantou itu kerasnya sudah bisa untuk memecahkan kepala orang.
Dilempar ke lantai, Qiuqiu saja enggan memakannya.
“Kau kira Kakak Enam tak punya pelindung, jadi bisa diperlakukan seenaknya?” Nuobao hampir meledak karena marah.
Bagaimana bisa mereka memperlakukan Kakak Enam seperti ini! Dan jelas, ini bukan kali pertama terjadi.
Saat Nuobao belum mengetahuinya, entah sudah berapa banyak penderitaan yang harus dialami Kakak Enam.
Seorang pangeran, malah hidupnya lebih buruk dari anjing.
“Ini...” Kasim itu mendengar ucapan itu, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Selesai sudah, jangan-jangan Tuan Putri kecil ini benar-benar akan menuntutnya?
Meski tak tahu pasti siapa Nuobao, tapi melihat kain sutera mewah yang dikenakannya, dan Lingxiao yang berdiri di sampingnya dengan tatapan dingin menusuk, kasim itu tahu, ia sungguh tak sanggup menanggung akibatnya.
“Hamba sungguh tak punya cara lain. Pangeran Enam tak disayang, jadi dapur istana pun tak memberikan makanan layak.”
Melihat kasim itu masih saja berkelit, Nuobao semakin marah.
“Oh begitu? Kalau begitu aku akan lapor pada Ayahanda, biar kalian semua dipenggal.”
Kasim itu pun langsung bisa menebak siapa Nuobao sebenarnya—sang Putri Kecil yang paling disayangi Kaisar.
Mendengar itu, lututnya langsung lemas, ia pun jatuh berlutut dengan suara keras.
“Hamba mengaku salah, mohon ampun, Tuan Putri!”
Kaisar mungkin tak peduli nasib Pangeran Enam, tapi ucapan Putri Kecil pasti didengarnya.
Kalau sudah begini, masih bisakah ia selamat?
Mengingat reputasi Sang Kaisar yang kejam, wajah kasim itu pucat ketakutan sampai menggigil.
Kasim itu sambil menangis memohon-mohon pada Nuobao, merangkak ingin memeluk kakinya.
Namun sebelum sampai, Lingxiao sudah menendangnya hingga terpelanting.
Kasim itu jatuh terguling-guling, menjerit-jerit kesakitan.
Tendangan itu begitu memuaskan.
Nuobao akhirnya tak semarah tadi.
“Kenapa belum pergi juga? Segera siapkan makanan layak untuk Kakak Enam!” bentak Nuobao.
“Baik, baik, hamba segera pergi, hamba segera pergi...” Kasim itu menahan sakit sambil cepat-cepat bangkit dan kabur terbirit-birit.
“Terima kasih, Tuan Putri, terima kasih...” Nenek Liu baru tahu siapa Nuobao, ia pun menangis terharu dan berlutut mengucap syukur.
Nuobao buru-buru menahan lengannya, “Nenek, jangan khawatir, aku takkan biarkan mereka menyakiti Kakak lagi.”
“Terima kasih, Tuan Putri. Budi baik Tuan Putri ini hamba takkan lupa seumur hidup,” ujar Nenek Liu dengan mata berkaca-kaca.
Ia yang selama ini mengasuh Pangeran Enam, membesarkannya dengan tangannya sendiri, sudah menganggap anak itu seperti cucu kandungnya sendiri.
Ia sempat khawatir, usianya sudah tua, entah berapa lama lagi bisa hidup. Kalau suatu hari ia pergi, bagaimana nasib Pangeran Enam?
Saat itu, takkan ada lagi yang mengurus Tuan Muda kecil itu. Tak ada yang peduli, tak ada yang memperhatikan apakah ia kedinginan, kelaparan, atau kesakitan.
Tapi kini, melihat perhatian Nuobao pada Pangeran Enam, beban di hati Nenek Liu seolah terangkat.
Dengan Putri Kecil yang peduli, hari-hari Pangeran Enam pasti akan lebih baik.
Memikirkan hal itu, hati Nenek Liu makin dipenuhi rasa syukur kepada Nuobao.
“Kakak Enam, jangan takut, mulai sekarang aku takkan biarkan mereka menyakitimu lagi,” kata Nuobao, makin lama makin iba.
Andai saja ia tahu lebih awal, Kakak Enam tak perlu menderita sebanyak ini.
Ternyata hidup Pangeran Enam begitu nestapa, tak heran jika kelak hatinya menjadi gelap...
“Aku tidak takut,” jawab Mu Luochen datar.
Sejak kecil hidup seperti ini, sudah merasakan dingin dan panasnya dunia, ia sudah terbiasa.
Mu Luochen memang tak takut. Ia hanya memikirkan, bagaimana caranya membereskan para pelayan keparat yang suka menindasnya itu.
Sayangnya...
Di istana, menjilat dan menginjak sudah jadi kebiasaan. Bunuh satu, yang lain akan muncul.
Akar masalahnya, karena ia lahir dari darah rendah, tak mendapat kasih sayang.
Semua orang tak menganggapnya, sehingga berani menindasnya semaunya.
Mu Luochen tersenyum miris, matanya dingin tanpa cahaya.
Dalam hatinya hanya tersisa satu tekad.
Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk naik ke puncak, ke tempat yang tak bisa dicapai siapa pun.
Agar semua yang menindasnya menerima balasan setimpal!
Untuk tidak ditindas, seseorang hanya bisa menjadi kuat.