Bab 113: Mimpi yang Aneh dan Menakjubkan
Nuobao tidak mengerti apa itu pengasingan.
Ia juga tidak paham mengapa Ibu Liu Yan dan putrinya tiba-tiba menangis begitu hebat. Padahal, Ayah sudah berjanji tidak akan membunuh mereka. Namun, melihat Ayah tidak jadi menghabisi Su Yingyu, Nuobao pun tidak lagi memedulikannya. Lagipula, dengan begini orang lain tidak bisa lagi mencaci Ayah sebagai tiran yang membunuh orang tak bersalah.
Setelah satu masalah selesai, suasana hati Nuobao cukup baik. Ia menggoyangkan kaki mungilnya sambil menyantap buah anggur.
Kasim De segera memerintahkan orang untuk membungkam mulut Ibu Liu Yan dan putrinya, lalu menyeret mereka pergi. Aula istana akhirnya kembali tenang.
Namun, Mu Lianjing tidak kunjung beranjak, wajahnya tampak ragu seolah ingin mengatakan sesuatu. Mu Han sedikit mendongak, matanya menatap tajam ke arahnya.
"Ayahanda," ucap Mu Lianjing dengan memberanikan diri, "Ananda mohon ampun, sudilah kiranya Ayahanda mengampuni kediaman Jenderal Weiyuan."
Menyadari tatapan penuh tekanan dari Mu Han, Mu Lianjing seketika merasa terbebani. Namun, ia harus tetap bertahan dan memohon. Bagaimanapun, kediaman Jenderal Weiyuan adalah keluarga dari pihak ibundanya. Selama bertahun-tahun, Selir Su bisa bertindak sewenang-wenang di istana berkat dukungan keluarga Jenderal Weiyuan. Jika keluarga itu jatuh, nasib dirinya dan ibundanya pasti tidak akan lebih baik.
Mu Lianjing tahu perbuatannya ini pasti akan memancing kemarahan Ayahanda, sebab Ayahanda paling membenci kebohongan. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Mu Lianjing tidak berani menatap wajah muram Ayahanda, ia menunduk bersiap menghadapi badai yang akan datang.
Di luar dugaan, Mu Han tidak murka, wajahnya hanya menjadi sedikit lebih dingin. "Menurutmu, aku tidak seharusnya menghukumnya?"
Mu Lianjing membuka mulut, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Ia terdiam. Bagaimanapun, Jenderal Weiyuan telah melakukan dosa besar karena menipu kaisar! Jika ia tidak diberi hukuman, maka semua orang akan menirunya, dan wibawa Mu Han sebagai penguasa akan hilang. Namun, itu adalah kakeknya sendiri, dan Mu Lianjing tidak bisa tinggal diam.
Mu Lianjing mengertakkan gigi, lalu berlutut di lantai dengan suara gedebuk. "Selama Ayahanda bisa mengampuni Kakek sekali saja, Ananda bersedia melakukan apa pun."
"Ayahanda." Putra Mahkota yang entah kapan tiba di sana tiba-tiba bersuara. Mu Junze memberi hormat sejenak, lalu perlahan berkata, "Ananda berpendapat, hukuman mati bagi Jenderal Weiyuan bisa ditiadakan, namun hukuman atas kesalahannya tetap harus dijalankan."
Meski Jenderal Weiyuan kehilangan beberapa kota secara beruntun, ia masih memiliki pengaruh besar di militer. Jika ia dieksekusi begitu saja, dikhawatirkan akan memicu kekacauan. Terlebih lagi, saat Mu Han mengukuhkan takhtanya dulu, Jenderal Weiyuan sempat berjasa. Ayahanda memang sudah tidak disukai rakyat, jika ia mengeksekusi sang jenderal, gelar tiran itu akan benar-benar melekat padanya.
"Pihak Beidi akhir-akhir ini kembali berulah, lebih baik tugaskan Jenderal Weiyuan beserta putra sulungnya untuk menjaga perbatasan." Mu Junze menjeda ucapannya, "Sekaligus memanggil Paman Kesembilan untuk kembali ke ibu kota."
Mendengar itu, tatapan Mu Han tampak tenggelam dalam pemikiran.
"Kalau begitu, lakukan sesuai perkataan Putra Mahkota."
"Baik, Baginda."
Mu Lianjing akhirnya menghela napas lega dan menatap Putra Mahkota dengan penuh syukur. Meski menjaga perbatasan terdengar mulia, sebenarnya itu tidak ada bedanya dengan pengasingan. Mungkin seumur hidup tidak akan bisa kembali ke ibu kota, tetapi setidaknya nyawa mereka terselamatkan.
Paman Kesembilan? Siapa itu? Nuobao mendongak dengan rasa penasaran. Ia merasa suasana hati Ayahanda tampak cukup baik. Mu Han memang merasa senang. Selain bisa mengambil kembali kekuasaan militer dari tangan Jenderal Weiyuan, ia juga bisa memanggil adik kesembilannya kembali ke ibu kota.
...
Peristiwa yang menimpa Su Yingyu memberikan pukulan yang terlalu berat bagi Selir Su. Sejak hari itu, ia jatuh sakit parah dan tidak lagi sempat mengusik Nuobao.
Setelah jatuh sakit, Selir Su tidak ingin menemui siapa pun. Bahkan Mu Lianjing, putra kandungnya sendiri, ditolak masuk. Mu Lianjing tentu merasa cemas, tetapi ia tahu bahwa ini adalah penyakit hati. Untuk bisa bangkit, Selir Su harus mengandalkannya pada dirinya sendiri.
Meski terbaring di ranjang, kabar dari luar tetap sampai ke telinganya. Saat mendengar Jenderal Weiyuan dikirim untuk menjaga perbatasan, Selir Su hanya tertawa sinis. Sejak mengetahui Jenderal Weiyuan memanfaatkannya, ia sudah menyimpan dendam.
"Bagaimana dengan ibu dan anak sundal itu?" tanya Selir Su dengan penuh kebencian. Ia paling membenci Su Yingyu dan ibunya yang telah membohongi perasaannya.
"Mereka telah dibuang ke perbatasan," bisik Tao Xing.
Mendengar itu, Selir Su tidak bicara lagi. Ia memejamkan mata dalam-dalam, dan setetes air mata jatuh di sudut matanya. Sekarang, ia terpaksa menerima kenyataan. Putrinya benar-benar sudah tiada.
Tubuh Selir Su semakin kurus dari hari ke hari dan tak kunjung membaik. Selama masa itu, Mu Han tidak sekalipun datang menemuinya. Hal ini membuat Selir Su semakin putus asa. Ia tahu bahwa karena masalah Nuobao, Kaisar sudah tidak lagi menginginkannya. Namun, Selir Su tidak peduli, ia justru menyalahkan Mu Han. Ia membenci ketidakpedulian pria itu, dan lebih membenci Nuobao.
Terutama saat melihat Permaisuri yang perlahan bangkit dari kesedihannya berkat ditemani oleh Nuobao. Lalu melihat dirinya sendiri... Selir Su merasa tidak terima. Mengapa? Mengapa ia harus mengalami semua ini?
Selir Su meratapi ketidakadilan nasibnya. Mungkin karena obsesinya yang terlalu dalam, pada malam harinya, ia bermimpi aneh. Ia merasa seperti pengamat yang menyaksikan segala sesuatu di dalam mimpinya dengan kesadaran penuh.
Mimpi ini terasa sangat familier. Itu adalah saat di mana Selir Su pergi ke Kuil Qingyun untuk mendoakan keselamatan Mu Han bertahun-tahun silam. Wajah Selir Su berubah, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun ia tahu ini hanyalah mimpi, ia tidak bisa menahan diri untuk berteriak, mencoba menghentikan segalanya.
Sayangnya, ini hanyalah mimpi semu. Segalanya berjalan persis seperti masa lalu. Setelah tiba di Kuil Qingyun, malam itu juga ia bertemu dengan para pemberontak. Dalam ketakutan, ia mengalami kelahiran prematur. Setelah berjuang antara hidup dan mati, ia berhasil melahirkan putrinya. Namun, ia hanya sempat melihatnya sekilas sebelum terpaksa melarikan diri.
Dalam pelarian, mereka terpisah. Selir Su menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat Pengasuh Song menggendong bayinya dan melarikan diri. Para pemberontak mengejar tanpa henti, mengancam akan mengampuni nyawanya jika ia menyerahkan bayi itu. Melihat adegan ini, hati Selir Su terasa terbakar, ia ingin sekali menerjang maju dan membawa pergi putrinya.
Segala hal setelahnya sudah bisa ia prediksi. Di tengah kegelapan dan jalan yang samar, Pengasuh Song berlari tanpa arah. Bayi kecil itu mungkin menyadari situasi bahaya sehingga ia tidak menangis sedikit pun, hanya membuka mata bulatnya yang jernih, melihat ke sekeliling. Namun, seorang wanita tua yang menggendong bayi tidak akan bisa berlari lebih cepat dari para pemberontak.
Saat hampir tertangkap, Pengasuh Song tidak memperhatikan jalan di depannya dan terperosok ke dalam sungai yang arusnya deras.
"Tidak..." seru Selir Su. Ia ingin sekali menolong dan menyelamatkan putrinya, tetapi ia hanyalah kesadaran yang tidak bisa mengubah mimpi tersebut.
"Tidak, jangan..." Wajahnya terasa dingin. Saat ia menyentuhnya, ia sadar air mata telah membasahi wajahnya tanpa henti. Melihat anaknya menemui ajal di depan mata sendiri terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya.
"Mengapa..." Mengapa takdir begitu kejam kepadanya dan anaknya yang malang? Ia seharusnya menjadi satu-satunya putri kerajaan. Orang yang seharusnya menikmati kasih sayang di sisi Mu Han adalah putrinya, bukan Nuobao...
Namun—mimpi itu belum berakhir. Selir Su segera menyaksikan sebuah pemandangan yang luar biasa.