Bab 74: Bukan Satu Keluarga, Takkan Masuk Satu Pintu
“Mengapa mereka harus mem-bully Kakak Enam?”
Pipi Nuobao menggembung marah, ia berkata dengan geram, “Kakak Enam itu seorang pangeran.”
Melihat pakaian Muluochen, Nuobao bisa menebak Kakak Enam mungkin hidupnya tidak terlalu baik.
Namun tak pernah menyangka, ternyata Kakak Enam hidupnya begitu malang, selalu jadi sasaran penghinaan.
“Itu karena asal-usulnya rendah, tak disukai Ayahanda Kaisar, jadi diperlakukan seperti itu sudah biasa, bukan?”
Mulianjing mengangkat bahu, tampak sudah terbiasa dengan hal semacam itu.
Mungkin Nuobao tidak tahu, tapi ia tahu betul.
Istana ini memang begitu, memuja yang tinggi, menginjak yang rendah, menilai orang sesuai statusnya.
Pangeran yang tak disayang tak lebih berharga dari rumput liar di pinggir jalan.
Bahkan jika mati pun, sepertinya tak banyak yang peduli.
Karena itu, Mulianjing beruntung, ia lahir dari rahim seorang selir terhormat.
Nuobao pun beruntung, meski tak punya ibu, ia mendapat seluruh kasih sayang Ayahanda Kaisar.
Muluochen duduk di sudut, tempat itu gelap tanpa cahaya, sosoknya memancarkan kesendirian.
Seolah-olah ia hidup di luar lingkaran cahaya.
Nuobao mengerucutkan bibir, tiba-tiba merasa iba pada Kakak Enam.
“Pokoknya, kamu jangan terlalu dekat dengannya. Kakak Enam tidak sepolos kelihatannya,”
Mulianjing melirik ke arahnya, menurunkan suara.
“Aku perhatikan orang-orang yang dulu suka mem-bully dia, semua mati secara misterius.”
Kecuali beberapa anak bangsawan yang keluarganya terlalu berpengaruh untuk dihadapi.
Yang lain, yang mem-bully Muluochen, ada yang mati, ada yang cacat.
Tak ada satupun yang berakhir baik.
Selain Mulianjing, tampaknya tak ada orang lain yang memperhatikan hal ini.
Kalaupun ada yang sadar, mereka tak pernah mencurigai Pangeran Enam.
Intuisi Mulianjing mengatakan, semua kejadian itu pasti ada kaitannya dengan Pangeran Enam.
“Ingat ya?” Mulianjing mengingatkan dengan waspada.
Nuobao yang polos, hati-hati jangan sampai dimakan habis oleh Kakak Enam.
Nuobao menangguk patuh, “Ya, aku tahu.”
Barulah Mulianjing merasa lega.
...
Sosok kurus Muluochen berjalan di koridor istana.
Begitu keluar dari ruang pelajaran, para pelayan yang menunggu di luar segera menghampiri, mengawal tuan mereka pergi.
Sedangkan ia sendiri berjalan sendirian, tanpa ada pelayan pembawa buku di sisi.
Tampak miskin, sama sekali tidak seperti seorang pangeran.
“Yang Mulia Pangeran Enam, mohon berhenti sebentar...”
Tiba-tiba terdengar suara memanggil dari belakang, terdengar cemas.
Muluochen berhenti, agak heran dan menoleh.
Yang memanggilnya adalah seorang pelayan istana berwajah cantik.
Muluochen mengenalinya, dia pelayan yang selalu bersama Nuobao.
“Ada apa?” tanyanya datar, wajahnya tampak dingin dan jauh.
“Yang Mulia, ini titipan dari Putri kami untuk Anda.”
Yuezhi menyerahkan sebotol salep padanya.
“Salep ini berkhasiat melancarkan darah dan menghilangkan memar.”
Muluochen tertegun, lalu menerima dengan tangan, berkata pelan, “Terima kasih.”
“Permisi, hamba undur diri.” Yuezhi selesai menyerahkan barang lalu pergi.
Muluochen tampak rumit, diam-diam menggenggam erat botol salep itu, berdiri beberapa saat sebelum akhirnya pergi.
Kali ini, ia tidak membuang pemberian Nuobao.
Entah itu belas kasihan atau simpati,
Ini adalah kebaikan yang sudah lama tidak ia rasakan.
**
Hari ini, Nuobao sedang ceria, ia bersenandung kecil, melangkah ringan masuk ke dalam istana.
Muhan sedang sibuk mengurus urusan negara, wajahnya terlihat serius, tak sedikit pun menoleh.
Seolah tak menyadari kedatangan Nuobao.
Mata Nuobao berputar licik, tiba-tiba ingin mengerjai ayahnya.
Si kecil menutup mulutnya, tertawa tanpa suara.
De Gonggong sudah melihatnya, dan atas isyarat Nuobao, berpura-pura tak tahu, hanya sibuk meracik tinta.
Nuobao seperti tikus kecil pencuri minyak, berjalan mengendap-endap mendekati ayahnya.
Sebenarnya, Sang Tiran sudah memperhatikan Nuobao dari sudut matanya, tapi ia tetap diam, bibirnya tersenyum tipis.
Nuobao sudah berada di belakang ayahnya, mengangkat tangan berniat menakutinya.
Muhan tiba-tiba menoleh, suara bassnya terdengar, “Berani sekali, ya?”
“Waaa...” Nuobao kaget setengah mati, rambutnya langsung berdiri.
“Haha.” Muhan tertawa pelan, matanya berbinar, seakan menertawakan Nuobao yang tak punya nyali.
Bukannya berhasil menakutkan, malah balik ditakuti.
Nuobao malu dan kesal, matanya yang besar menatap ayahnya dengan penuh protes.
“Ayah, jahat!”
Padahal sudah tahu Nuobao datang, tapi tetap pura-pura tidak tahu.
“Siapa yang jahat sebenarnya?”
Muhan meliriknya, namun tatapan matanya tak ada kemarahan, justru tersenyum lembut.
Sang Tiran jarang tersenyum, tapi sekali tersenyum seperti es musim dingin yang mencair.
Nuobao tadinya masih sedikit kesal, tapi melihat ayahnya tersenyum begitu tampan, ia langsung memaafkannya.
Pada akhirnya, Nuobao memang tipe yang mudah luluh kalau melihat wajah tampan.
“Ayah tersenyum dong, ayah kalau tersenyum kelihatan ganteng.”
Si kecil tertawa, matanya berkilau melihat ayahnya.
“Tidak mau.” Senyum di wajah Sang Tiran langsung lenyap.
Nuobao merangkak ke pangkuan ayahnya, langsung menguasai pelukan ayah.
Dua jarinya mendorong sudut bibir ayah agar tersenyum.
“Ayah, Nuobao akan ajari, begini caranya tersenyum.”
Muhan menatapnya tanpa ekspresi.
“Ayah kelihatan bodoh begitu!” Nuobao tertawa geli, tak tahu apa yang membuatnya begitu bahagia.
“Bodoh.” Mulutnya mencibir, tapi sudut bibir Muhan tetap terangkat sedikit.
Nuobao bukannya marah, malah berkata manis, “Nuobao itu si bodoh kecil, ayah si bodoh besar.”
“Namanya satu keluarga, pasti sama masuk ke satu rumah.”
Si kecil nakal, setelah berkata begitu, ia masih bertanya, “Ayah, Nuobao benar, kan?”
Muhan: “......”
Kenapa anak ini jadi pintar, ya?
“Pfft...” Kali ini, De Gonggong pun tak tahan untuk tertawa.
Detik berikutnya, ia mendapat tatapan tajam dingin dari Sang Tiran.
Seolah bertanya, lucu banget?
De Gonggong pun segera menahan tawanya, wajahnya kembali serius.
Hampir saja ia menggeleng keras demi menyelamatkan diri, tidak lucu, sama sekali tidak lucu!
Mana berani, lelucon Sang Tiran tidak boleh sembarangan dinikmati.
“Ngomong-ngomong, Ayah, Nuobao punya kabar baik buat Ayah.”
Setelah bercanda, Nuobao baru ingat urusan penting.
Muhan terlihat santai, “Apa sih kabar baik dari kamu?”
“Hmph!” Ayah terlalu meremehkannya.
Nuobao melirik ke arah De Gonggong.
Hal ini hanya boleh dibicarakan berdua dengan ayah saja.
Muhan segera paham, “De Yousheng, keluar.”
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah De Gonggong keluar, hanya tersisa ayah dan anak di dalam istana.
Nuobao mendekat ke telinga ayahnya, berbisik dengan suara serak.
“Ayah, Nuobao tahu cara menghilangkan kutukan di tubuh Ayah.”
Setelah berkata, si kecil menatap ayahnya penuh harap.
Ia pikir ayahnya akan menunjukkan ekspresi terkejut.
Tak disangka, wajah Muhan tetap datar, tak ada sedikit pun kegembiraan.
Nuobao jadi bingung.
Kenapa begitu?
Apakah Ayah tidak senang?
Sejak ruang cincin spiritual terbuka, Nuobao terus mencari cara untuk menghapus kutukan di tubuh ayah.
Setelah sekian lama, akhirnya ia menemukan cara.
Tapi reaksi ayah ini terlalu datar.
Takut ayah tidak paham, Nuobao pun dengan sabar menjelaskan.
Jika kutukan di tubuh ayah bisa dihapus, maka para roh jahat tidak akan berani mengganggu ayah lagi, tak ada roh jahat yang bisa menyakitinya.
“Jadi, meski nanti Nuobao tidak lagi di sisi Ayah, Ayah pun tetap aman.”
Baru saja Nuobao selesai bicara, wajah Sang Tiran langsung berubah gelap.
“Tidak di sisi Ayah, lalu kamu mau ke mana?”