Bab Empat Puluh Enam: Berangkat Berperang
Saat ini, meskipun para prajurit belum pulih sepenuhnya, mereka sudah lebih dari cukup untuk menghadapi zombi biasa. Terlebih lagi, setelah perjalanan sepanjang sore dan istirahat di malam hari, kondisi fisik mereka seharusnya sudah hampir pulih total saat tiba di kaki gunung esok hari.
Setelah menyusun rencana, Zhang Xiaoming segera memberikan perintah, "Kavaleri Satu, segera kumpulkan seluruh pasukan kavaleri!"
"Siap, laksanakan!"
Kavaleri Satu segera menjawab dan mulai mengomandoi pasukannya untuk berkumpul di lapangan besar tempat perlindungan guna menunggu perintah selanjutnya.
Tak lama kemudian, Zhang Xiaoming kembali memberi perintah beruntun:
"Artileri Satu, segera kumpulkan seluruh prajurit artileri!"
"Zhang Fei, segera kumpulkan seluruh petani!"
"Infanteri Satu, segera kumpulkan seluruh prajurit infanteri!"
"Penembak Jitu Satu, segera kumpulkan seluruh penembak jitu!"
"Siap, laksanakan!"
Seluruh prajurit dan petani segera bergerak. Tidak butuh waktu lama, enam puluh tujuh orang telah berbaris rapi di lapangan besar.
Zhang Xiaoming berdiri di atas panggung tinggi, menyapu pandangannya ke arah anak buahnya, lalu berseru dengan lantang, "Ada dua hal utama mengapa saya mengumpulkan kalian semua hari ini."
"Pertama, pembentukan struktur militer secara resmi dan pemberian jabatan."
"Kavaleri Satu, maju!"
Kavaleri Satu dan kuda tunggangannya melangkah maju bersamaan.
"Mulai sekarang, namamu adalah Zhao Yun. Kamu diangkat sebagai Komandan Batalion Kavaleri Besi dan berhak menunjuk dua komandan peleton di bawahmu."
"Terima kasih, Tuan Penguasa Kota! Saya siap menjalankan perintah!"
Zhao Yun yang berwajah serius berlutut dengan satu kaki, tangan kanannya mengepal dan memukul dada, melakukan gestur sumpah setia.
"Infanteri Satu, Penembak Jitu Satu, dan Artileri Satu, maju!"
Ketiganya segera melangkah maju, sementara Zhao Yun kembali ke barisan.
"Mulai sekarang, kalian masing-masing bernama Zhang Liao, Huang Zhong, dan Xu Chu. Kalian diangkat sebagai Komandan Batalion Infanteri, Komandan Batalion Penembak Jitu, dan Komandan Batalion Artileri."
"Terima kasih, Tuan Penguasa Kota! Kami siap menjalankan perintah!"
Zhang Liao, Huang Zhong, dan Xu Chu segera berlutut memberikan sumpah setia sebelum kembali ke posisi semula.
Setelah jeda sejenak, Zhang Xiaoming melanjutkan, "Hal kedua, kita akan turun gunung untuk menuntaskan misi penyelamatan penyintas."
"Zhang Liao, Huang Zhong, dan Zhang Fei, kalian akan memimpin Infanteri Dua, Penembak Jitu Dua, Penembak Jitu Tiga, serta Petani Tiga hingga Petani Sebelas untuk menjaga tempat perlindungan. Prajurit sisanya akan ikut saya berangkat."
"Siap, laksanakan!" jawab seluruh prajurit dan petani serentak.
"Berangkat! Selamatkan para penyintas!" teriak Zhang Xiaoming dengan semangat.
"Kami bersumpah menjaga Tuan Penguasa Kota dengan nyawa kami!" teriak para prajurit bersamaan. Suara mereka menggelegar hingga membuat tanah seolah bergetar.
Dengan penuh wibawa, Zhang Xiaoming memimpin di depan, diikuti oleh pasukannya yang berjalan dalam barisan besar. Adapun Karin Victoros, senjata rahasia tersebut terpaksa ditinggal di tempat perlindungan karena kehabisan energi sihir dan belum pulih.
"Tuan Penguasa Kota, tunggu saya! Tunggu saya!"
Baru saja rombongan melangkah keluar dari tempat perlindungan, terdengar teriakan memilukan dari belakang. Zhang Xiaoming tahu siapa orang itu, jadi dia memilih untuk mengabaikannya.
"Hosh... hosh... Tuan Penguasa Kota, tunggu... tunggu saya!" Wang Hongxia terengah-engah mengejar.
"Untuk apa kau ikut?" tanya Zhang Xiaoming ketus.
Wang Hongxia berlari mendekat dengan wajah memelas, "Tu-Tuan Penguasa Kota, saya ini kan bawahan setia Anda, tentu saja saya harus mengikuti langkah Anda."
Zhang Xiaoming tidak menghentikan langkahnya dan berkata dingin, "Saya pergi untuk menyelamatkan orang dan memburu zombi. Kau yang penakut itu mau ikut cari mati?"
"Tu-Tuan Penguasa Kota, saya akan melatih keberanian saya, saya janji tidak akan mempermalukan Anda," janji Wang Hongxia dengan wajah memelas.
"Benarkah?" tanya Zhang Xiaoming datar.
"Benar!" Wang Hongxia memasang wajah penuh tekad.
"Tidak percaya," Zhang Xiaoming memutar bola matanya.
"Tuan Penguasa Kota, bawalah saya! Saya bersumpah akan patuh pada perintah Anda dan melakukan tugas saya sebagai bawahan dengan baik!" Wang Hongxia mengangkat tangan sebagai sumpah.
"Heh! Siapa pun bisa bicara manis," Zhang Xiaoming tidak tergerak.
"Tuan Penguasa Kota, mohon belas kasihannya, bawalah saya!" Wang Hongxia mengusap ingusnya sambil terisak.
"Heh! Tidak mau, saya takut kau malah mencelakai saya!" ejek Zhang Xiaoming.
Wang Hongxia pura-pura mengucek matanya yang kering dan mengusap ingus lagi, "Tuan Penguasa Kota, kejadian yang lalu itu benar-benar tidak sengaja!"
"Uh! Bersihkan dulu itu, jangan sampai kena baju saya," kata Zhang Xiaoming jijik.
Wang Hongxia segera mengusap ingusnya ke lengan baju, lalu menggosoknya hingga bekasnya hilang. Zhang Xiaoming yang melihatnya merasa jijik, "Pergi sana, atau saya tendang kau ke jurang!"
"Baik, baik! Saya pergi, saya pergi," Wang Hongxia segera berlari ke samping dan mulai mengajak bicara salah satu petani.
Zhang Xiaoming membiarkannya. Lagipula, dia tidak terlalu hafal daerah pinggiran kota, memiliki seseorang yang tahu jalan mungkin berguna. Dia tidak memedulikan Wang Hongxia lagi dan mulai mengeluarkan catatan pelatihan untuk dipelajari sambil berjalan.
Rombongan terus bergerak turun gunung dengan cepat. Namun, setelah satu jam perjalanan, kecepatan mereka mulai melambat. Penyebabnya tak lain adalah si beban, Wang Hongxia.
Setelah melewati jalur yang sulit, Zhang Xiaoming memutuskan untuk tidak melewati jalan setapak yang lama. Dia berbelok ke arah tangga batu biru di Taman Gunung Barat, menyusuri area wisata tersebut menuju taman bermain di kaki gunung. Dia berencana menyelesaikan ancaman apa pun yang mungkin ada di Taman Gunung Barat saat turun gunung.
Setelah menginjakkan kaki di tangga batu, kecepatan pasukan kembali meningkat, berkat kuda-kuda kavaleri. Namun, tak lama kemudian, perhatian mereka teralihkan oleh bercak darah di tangga batu. Jelas sekali bahwa tempat ini pernah mengalami tragedi.
"Waspada!" perintah Zhao Yun lirih.
Mendengar itu, kuda-kuda melambat dan para prajurit bersiap dalam posisi tempur. Setelah memeriksa, Infanteri Tiga melapor kepada Zhang Xiaoming, "Tuan Penguasa Kota, sebagian besar bercak darah ini baru terjadi beberapa waktu lalu. Setelah saya amati dengan saksama, sebagian besar tampaknya adalah darah manusia."
"Hah? Manusia? Dan baru terjadi?" Zhang Xiaoming merasa heran, namun dia tidak terlalu memikirkannya. "Tetap waspada, lanjutkan perjalanan."
"Siap, laksanakan!"
Pasukan terus bergerak dengan waspada. Namun, yang mengejutkan, hingga menempuh jarak yang cukup jauh, mereka tidak menemui serangan zombi maupun hewan mutan apa pun.