Bab Lima Puluh Tujuh: Perintah Tetua
Wilayah Zhao, yang terletak jauh dari ibu kota, hanyalah sebuah kota kecil yang biasanya sepi dan jarang didatangi orang. Namun, dalam beberapa hari terakhir, mendadak kota Zhao dipenuhi kerumunan besar, membuat suasana menjadi luar biasa meriah.
Mereka yang datang, semuanya membawa senjata, menandakan bahwa mereka adalah para pendekar. Setelah tiba di kota Zhao, mereka tidak lagi keluar, seolah sedang menantikan sesuatu. Dari perbincangan mereka, kata yang paling sering terdengar adalah "Legenda Dunia Persilatan".
Di sebuah lembah tak jauh dari kota Zhao, berdiri sebuah tempat yang dihormati oleh seluruh insan persilatan, yakni Padepokan Pedang Langit.
Menyebut nama Padepokan Pedang Langit, siapa saja yang menggeluti ilmu bela diri pasti akan penuh dengan rasa hormat. Sebab, selama ratusan tahun, di sana terus diwariskan sebuah legenda. Para pendekar dari negeri mana pun tahu bahwa Padepokan Pedang Langit adalah lambang keperkasaan pedang yang tak tertandingi. Bahkan tokoh termasyhur dari Negeri Chu, Sang Guru Pedang Yu Yijian, pun merasa tak sebanding bila berhadapan dengan Sang Legenda Pedang, Zhao Qi.
Keluarga Zhao di Padepokan Pedang Langit adalah impian setiap pendekar. Sejak empat ratus tahun lalu, dunia persilatan mengenal seorang bernama Zhao Yu yang, dengan sebilah pedang, menaklukkan segala lawan tanpa terkalahkan. Julukan Legenda Pedang pun melekat padanya. Di masa tuanya, ia mendirikan Padepokan Pedang Langit yang kemudian menjadi tanah suci para pendekar. Selama ratusan tahun, setiap penerus padepokan ini selalu menyandang gelar Legenda Pedang, bukan karena mereka lahir di sana, melainkan karena setiap generasi benar-benar menguasai ilmu pedang hingga tingkat tertinggi, tak ada yang mampu menandingi mereka dalam hal kepiawaian pedang.
Pada tanggal sepuluh bulan ini, bertepatan dengan ulang tahun ke-80 Zhao Qi, kepala Padepokan Pedang Langit generasi sekarang, sekaligus momen serah terima jabatan kepada pemimpin generasi baru.
Keluarga Zhao selama ratusan tahun memiliki tradisi: setiap kepala padepokan hanya akan merayakan ulang tahun sekali seumur hidupnya. Dan pada hari itu pula, seluruh dunia persilatan akan diberi tahu tentang pengangkatan pemimpin baru.
Semua tokoh persilatan yang mendengar kabar ini dan dapat datang, sudah hampir semuanya hadir.
Setiap orang ingin menyaksikan langsung seperti apa wujud tokoh legendaris yang sering dibicarakan itu, sekaligus menjadi saksi lahirnya legenda baru.
Di jalan utama, derap kuda-kuda melaju kencang, debu beterbangan ke segala arah. Mereka yang tidak berkuda, melesat dengan ilmu meringankan tubuh, secepat kilat menuju Padepokan Pedang Langit.
Hari ini adalah hari ulang tahun Zhao Qi, dan pesta pun akan segera dimulai.
Saat itu, Padepokan Pedang Langit penuh sesak oleh lautan manusia, suasananya amat semarak.
Di kursi utama, duduklah seorang lelaki tua dengan wajah ramah. Ia adalah tokoh utama hari itu, pemilik Padepokan Pedang Langit, sang Legenda Pedang, Zhao Qi.
Ia menyambut para tamu pendekar dengan senyum di wajah, sesekali mengangguk ramah. Dengan kedudukannya, kecuali sahabat dekat dan keluarga, ia sebetulnya tidak perlu muncul sepagi ini. Kenyataannya, kehadirannya menunjukkan betapa penting makna ulang tahunnya kali ini.
Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, terselip juga secuil kecemasan di antara alis dan matanya.
Putranya, yang akan menjadi penerus padepokan, kini membantunya menyambut para tamu.
Dari waktu ke waktu, matanya melirik ke arah pintu utama, entah sedang menantikan siapa.
“Tua Zhao, hari ini aku harus minum bersamamu sampai puas, tak boleh bubar sebelum mabuk!” Terdengar suara tua dari pintu masuk. Namun, sebelum suara itu selesai, sesosok lelaki tua telah muncul di tengah aula.
“Aku tidak berani minum denganmu. Kalau kau mabuk, nanti kau mengamuk dan membuat pestaku jadi berantakan,” jawab Zhao Qi sambil tersenyum cerah begitu melihat tamunya.
“Wah! Bukankah itu Dewa Golok Xu Mu? Ia benar-benar datang sendiri!” Para pendekar yang duduk di aula terkejut. Xu Mu, seperti Zhao Qi, adalah legenda dunia persilatan—satunya tak terkalahkan dalam pedang, satunya tak terkalahkan dalam golok.
“Acara besar seperti ini, tanpa aku rasanya tidak lengkap.” Tiba-tiba seorang lelaki tua berjubah hitam munculd di aula, menatap sekeliling dan berkata, “Sepertinya Si Tangan Baja belum tiba.”
“Itu Dewa Tinju Xu Yilu!”
“Haha, kalian semua sudah datang, mana mungkin aku ketinggalan?” Sebuah sosok gagah tiba-tiba muncul di samping Xu Yilu.
“Itu Tangan Baja Tie Li!”
“Tak disangka, tiga legenda persilatan telah datang. Sekarang malah lengkap, keempat legenda berkumpul di satu tempat. Pasti ada tontonan menarik hari ini.”
Kehadiran ketiganya membuat suasana aula semakin geger. Para pendekar yang biasanya ingin bertemu mereka saja sulit, kini malah keempatnya hadir sekaligus. Siapa yang tidak berdebar menyaksikannya? Sebagai pendekar, semua orang mendambakan ilmu bela diri yang hebat. Namun di dunia persilatan, hanya segelintir yang benar-benar berada di puncak. Ketika tak mampu mencapai puncak, banyak pendekar hanya bisa mengagumi dan menaruh harapan pada para tokoh legendaris itu.
Legenda Pedang Zhao Qi, Raja Golok Xu Mu, Dewa Tinju Xu Yilu, dan Tangan Baja Tie Li—empat orang inilah yang dianggap terhebat di seluruh dunia persilatan.
Melihat keempat legenda di depan mata, siapa yang tidak bersemangat? Setidaknya, nanti bisa diceritakan ke mana-mana.
“Karena kalian bertiga sudah datang, maka pesta bisa segera dimulai.” Garis kekhawatiran di alis Zhao Qi pun lenyap, berganti dengan aura tegas dan berwibawa.
Sebagai sahabat Zhao Qi, ketiga orang itu tentu menyadari perubahan suasana hati Zhao Qi, namun mereka hanya tersenyum tipis, ingin berkata sesuatu tetapi akhirnya mengurungkan niat.
Tiga tembakan tanda dimulainya acara pun terdengar, dan seluruh tamu mulai mengucapkan selamat. Setelah ucapan selamat, Zhao Qi memberikan pidato balasan.
“Wah, banyak sekali orang! Ramai sekali ya!” Tiba-tiba terdengar suara riang dan nyaring memenuhi seluruh aula.
Kali ini, semua orang berubah raut wajah. Sebab, menembus suara ke telinga semua orang memang mudah, tetapi di tengah keramaian, hanya mereka yang benar-benar menguasai ilmu tinggi yang bisa bicara dengan jelas didengar semua orang.
Ketika semua mata menoleh, tampak tiga pemuda dan seorang gadis berdiri di pintu utama aula.
Salah satu pemuda itu bertubuh tegap dan penuh aura maskulin. Berdiri di ambang pintu, ia bagaikan gunung besar yang menekan dada hadirin, menimbulkan rasa berat.
Keempat orang itu adalah Gongsun Xuan bersama Xiaoyu, Xiaoyue, dan Huzi.
Gongsun Xuan melangkah masuk dengan tenang, mendekati Zhao Qi, wajahnya yang lebar tersenyum tipis.
“Siapa kalian berempat?” Zhao Qi merasa ada tekanan dari Gongsun Xuan, raut wajahnya berubah.
“Oh. Pentingkah mengetahui siapa kami? Tapi kalau kukatakan, kau pasti akan terkejut,” sahut Xiaoyue, yang akhir-akhir ini banyak belajar kelicikan dari Xiaoyu, sehingga kini semakin cerdik dan lincah.
Mendengar kata-kata Xiaoyue, para pendekar di aula hanya tersenyum sinis. Berani bermain-main di depan para legenda ini, bukankah sama saja mencari mati?
“Jadi, siapa kalian hingga bisa membuat kami terkejut?” tanya seorang pria paruh baya yang tampak terpelajar dengan senyum ramah, berjalan mendekat. Ia adalah Zhao Fan, putra Zhao Qi, penerus kepala Padepokan Pedang Langit.
Di sisi lain, Tie Li memandang dengan serius, sebab ia tak mampu menebak kekuatan pemuda tegap itu.
Gongsun Xuan tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah papan kayu sederhana dari saku bajunya. Papan itu terbuat dari kayu elm, di permukaannya terukir dua huruf hitam: Gongsun.
Begitu Zhao Qi dan tiga legenda lainnya melihat papan itu, wajah mereka seketika berubah terkejut. Mereka sangat paham apa arti papan tersebut.
“Papan ini, kalian pasti tahu, bukan!” ujar Gongsun Xuan perlahan.
“Itu adalah Lambang Tetua!” Zhao Qi, Xu Mu, Xu Yilu, dan Tie Li serempak terperanjat.