Bab Tiga Puluh Tiga: Pemuda Pemberani
Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh arena. Jika hanya karena Gongsun Xuan memiliki kekuatan dalam yang hebat sehingga mampu mengalahkan Chen Yucai, para penonton meski terkejut, takkan terlalu terguncang. Namun pertarungan antara Gongsun Xuan dan Tie San benar-benar membuat semua orang tercengang. Mereka memandangnya seolah-olah ia adalah makhluk aneh dari dunia lain.
Kekuatan dalam Gongsun Xuan yang begitu luar biasa jelas terlihat oleh para tetua berilmu tinggi di sana. Mereka tahu pasti ada sebab di balik kekuatannya—mungkin ia menelan pil langka penambah tenaga, atau ada seseorang yang mentransfer seluruh kekuatannya kepadanya. Di antara para tokoh yang telah menembus Alam Xiantian, siapa yang matanya tidak tajam? Dengan mudah mereka menyimpulkan, pencapaian Gongsun Xuan pasti karena yang kedua: ada seseorang yang mengorbankan seluruh kekuatannya untuknya. Dan dari Desa Wang, hanya Wang Yinhan yang mungkin melakukannya. Berdasarkan pemahaman mereka tentang Wang Yinhan, kemungkinan itu sangat besar.
Namun, kekuatan dalam bisa ditingkatkan dengan bantuan luar, sedangkan pembentukan tubuh tidak mengenal jalan pintas; hanya bisa ditempuh melalui latihan keras dan tekun. Tangan besi Tie San telah ditempa puluhan tahun hingga mencapai puncaknya. Banyak orang tahu betapa dahsyat kekuatan tangan besi itu. Tak disangka, seorang pemuda belasan tahun mampu mengalahkannya. Usia Gongsun Xuan masih sangat muda, sekalipun ia mulai melatih tubuh sejak dalam kandungan, tak mungkin bisa menjadi sekuat ini.
Namun kenyataan ada di depan mata, apa lagi yang bisa mereka lakukan? Dalam hati, satu per satu mengumpat, “monster”.
Gongsun Xuan sendiri tak menyadari bahwa penampilannya hari ini telah mengguncang semua orang. Ia justru merasa sedikit kecewa karena belum bertarung sepenuh hati.
“Aku ingin mencoba peruntunganku,” tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
Sosok seorang lelaki tua, tinggi, dan kurus melayang ringan ke atas panggung. Usianya lebih tua dari Tie San, dan tubuhnya pun tidak sebesar Tie San.
“Aku Xu Zheng dari Desa Xu. Melihat kemampuan adik muda yang luar biasa, aku merasa gatal ingin bertukar jurus,” katanya sambil mengibaskan jubahnya, memberi isyarat mempersilakan, tanpa menunggu jawaban dari Gongsun Xuan. Seketika, atmosfer di sekelilingnya berubah, bagai sebilah pedang yang tajam.
Mata Gongsun Xuan sedikit menyipit tanpa disadari. Gerakannya sangat halus, tak ada yang melihat. Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa lelaki tua di depannya ini sangat berbahaya, jauh lebih kuat daripada Chen Yucai, Liu Tuozi, atau Tie San.
“Menyatu dengan langit dan bumi, inikah yang disebut ‘kekuatan’? Dulu guru pernah berkata, Xu Zheng telah mulai menyentuh alam kekuatan. Ini adalah pemahaman yang hanya bisa dicapai pada tingkat ketiga.”
Tapi, ada yang janggal. Gongsun Xuan tiba-tiba merasa, apa yang dicapai Xu Zheng bukanlah kekuatan itu sendiri, namun sesuatu yang lain, hanya saja ia tak dapat menjelaskannya.
Xu Zheng bukan menyatu dengan alam, melainkan dengan pedang dalam hatinya. Saat ini, seluruh tubuhnya seolah menjadi sebilah pedang. Di sekelilingnya, udara bergetar hebat. Angin tak berwujud berdesir, membuat jubahnya berkibar kencang.
“Inti pedang! Tak kusangka, di luar Kuil Suci masih ada yang mampu memahami inti pedang secara mandiri. Namun, ia baru menyentuh gerbangnya. Entah, apakah pemuda ini mampu menahan satu tebasannya?” Tetua Mu yang mengamati dari kejauhan merasa sangat gembira. Awalnya ia hanya ingin berjalan-jalan, menggerakkan badan, tak menyangka bisa menyaksikan fenomena luar biasa—kemunculan seorang jenius mengagumkan. Kini bahkan melihat seseorang yang berhasil menyentuh ‘inti’ dengan kemampuannya sendiri, tentu membuatnya bersemangat.
Inti pedang adalah sebuah pemahaman mendalam terhadap pedang. Dalam ilmu bela diri, kekuatannya sangat besar.
Tetua Mu terus mengamati Gongsun Xuan, ingin tahu seberapa kuat sebenarnya pemuda ini.
Gongsun Xuan, karena masih muda, kekuatannya adalah cerminan dari potensinya. Semakin kuat ia sekarang, semakin besar pula potensinya, dan semakin tinggi pula pencapaiannya kelak.
Kedua orang itu saling diam membeku.
Di bawah panggung, semua mata terpaku menanti, berharap pertarungan spektakuler segera terjadi. Bahkan, beberapa orang diam-diam berdoa agar Xu Zheng bisa mengalahkan Gongsun Xuan. Gongsun Xuan telah memberikan mereka terlalu banyak kejutan, sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan ini.
Angin sepoi-sepoi berhembus, mengibaskan rambut kedua orang di atas panggung.
Keheningan di antara mereka pun pecah.
Xu Zheng perlahan mengangkat kaki dan melangkah maju.
“Duk.”
Suara yang sangat lembut, nyaris tak terdengar. Namun, setiap kali Xu Zheng melangkah, jantung Gongsun Xuan ikut bergetar. Saat ini, hatinya menegang hingga ke puncaknya. Tekanan yang diberikan lawannya terlalu besar.
Kekuatan tanpa wujud menekannya sampai susah bernapas. Keningnya sudah dipenuhi butiran keringat. Bahkan ketika berhadapan dengan gurunya sendiri pun, ia tak pernah merasa seperti ini. Saat dulu berduel dengan guru, dalam badai sebesar apapun, ia tidak pernah merasa selemah sekarang.
Menghadapi Xu Zheng, seolah menghadapi sebilah pedang tajam yang siap menggorok lehernya kapan saja. Aura pedang yang tak kasat mata, penuh dominasi dan kekuatan, mengurungnya erat-erat.
Xu Zheng bisa dibilang adalah orang terkuat di antara seluruh desa. Bahkan guru Gongsun Xuan, Wang Yinhan, pun tidak bisa mengalahkannya. Dua puluh tahun lalu, Wang Yinhan pernah kalah darinya. Dua puluh tahun kemudian, akankah sejarah terulang oleh Gongsun Xuan?
“Duk, duk, duk.”
Setiap langkah Xu Zheng semakin menambah tekanan pada jantung Gongsun Xuan, seolah pedang tajam itu perlahan ditarik keluar dari sarungnya, siap ditebaskan.
Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya tak berkedip menatap lawan. Energi dalam tubuhnya diaktifkan hingga batas tertinggi, mengalir ke seluruh tubuh, dan tubuhnya bergetar tak teratur, seperti orang mabuk. Dengan goyangan tubuh, ia berusaha memutus ikatan energi lawan. Ia tahu, jika Xu Zheng sampai mendekatinya dan ia belum bisa melepaskan diri, maka ia pasti kalah.
Lima langkah, enam langkah, tujuh langkah...
Tubuh Gongsun Xuan bergetar semakin hebat. Di bawah tekanan lawan, ia benar-benar merasakan betapa lemahnya dirinya. Gerakannya semakin sulit. Ruang di sekelilingnya terasa semakin padat, seolah membeku.
Kecerdasan Gongsun Xuan luar biasa. Di usia lima belas tahun, ia telah melampaui Batas Transformasi. Barusan saja, ia mengalahkan tiga ahli berturut-turut, menciptakan legenda demi legenda. Cahayanya kini menyelimuti seluruh pulau, menjadi pusat perhatian, dipuji dan dikagumi semua orang.
Namun, itu semua tak berarti ia tak terkalahkan. Di pulau ini, masih banyak ahli yang bisa dengan mudah mengalahkannya.
“Duk, duk...”
Xu Zheng semakin mendekat. Saat jarak tinggal sepuluh langkah, ia perlahan mengangkat tangan kirinya.
“Cras!”
Pedang tajam itu dihunus, aura pedang mengamuk, membungkus seluruh tubuhnya. Kini, tak ada jalan mundur lagi.
Menghadapi kekuatan lawan, hati Gongsun Xuan justru menjadi tenang.
Jika tak bisa lari, maka hadapilah dengan frontal.
Semakin ingin menghindar, semakin besar rasa takut, dan semakin cepat pula kekalahan menghampiri.
Hanya dengan melupakan keadaan diri sendiri, ada harapan untuk menerobos tebasan lawan.
Pikiran Gongsun Xuan benar-benar kosong, ia lupa bahwa ia sedang bertarung.
Tiba-tiba, dalam benaknya muncul sebuah adegan. Ia melihat dirinya sendiri, dengan ringan melayangkan sebuah pukulan, membuat seorang pria berjubah indah dan bertakhta mahkota terpental jauh. Ia bahkan melihat sebuah gua raksasa yang gelap gulita.
Adegan pukulan itu terus berulang dalam pikirannya.
Tepat saat aura pedang yang mendominasi itu hampir menyentuh tubuh Gongsun Xuan, ia bergerak, perlahan mengangkat tangan kanan, dan dengan ringan melayangkan pukulan itu. Pada momen itu, ia benar-benar masuk ke dalam adegan tersebut, seakan-akan pukulan itu memang miliknya.
Duar!
Dua arus kekuatan bertabrakan, menciptakan badai dahsyat yang menyapu sekeliling. Jika saja bukan di tempat terbuka, badai itu pasti sudah menghancurkan segala sesuatu di sekitar.
“Celaka!” Tetua Mu tak menyangka akan terjadi seperti ini. Tubuhnya melesat beberapa kali ke atas panggung, langsung menuju Gongsun Xuan.
Gongsun Xuan kini adalah permata berharga seluruh pulau. Kalau sampai terjadi apa-apa, ia pasti akan dimarahi para tetua lain sampai habis-habisan.
Gongsun Xuan yang tengah tenggelam dalam simulasi pukulannya, tiba-tiba merasakan kekuatan dahsyat menabrak tubuhnya. Bahkan sebelum ia sadar apa yang terjadi, tubuhnya terlempar ke udara. Tubuhnya dihantam keras, darah dan energi dalam tubuhnya bergejolak, energi dalamnya porak-poranda, hingga ia tak mampu mengaturnya.
Tiba-tiba, ia merasakan kekuatan lembut menahannya, membuat tubuhnya mendarat dengan ringan. Segera setelah itu, pergelangan tangannya digenggam seseorang, dan aliran tenaga dalam yang kuat masuk menyejukkan tubuhnya.
Saat ia membuka mata, ternyata itu adalah Tetua Mu.
“Aneh sekali, kau benar-benar baik-baik saja?” Tetua Mu menelusuri energi dalam tubuh Gongsun Xuan, dan mendapati ia tidak terluka parah, hingga ia merasa heran.
“Eh, aku tidak apa-apa,” jawab Gongsun Xuan sambil berdiri dan mengusap belakang kepalanya.
Tetua Mu akhirnya lega mengetahui Gongsun Xuan tidak terluka. Meski heran dengan kondisinya setelah terkena tabrakan kekuatan sedahsyat itu, ia tahu ini bukan saatnya bertanya.
Tetua Mu menoleh ke arah Xu Zheng.
Xu Zheng, tidak seperti Gongsun Xuan, memiliki pengalaman yang sangat kaya. Saat pukulan Gongsun Xuan bertabrakan dengan aura pedangnya, ia segera sadar dan mundur dengan cepat. Meski tetap terkena dampak, ia masih sempat menghindari luka berat. Kini ia duduk bersila menenangkan diri dan memulihkan tenaga.
Tetua Mu yang melihat Xu Zheng sedang memulihkan diri, mengerutkan dahinya dan berjalan mendekat, menempelkan satu telapak tangan di punggung Xu Zheng, mengalirkan energi untuk membantunya.
Setelah waktu sejangkir teh, Xu Zheng selesai menenangkan diri. Ia segera menunduk hormat kepada Tetua Mu, “Terima kasih atas bantuan Tetua.”
“Tak perlu berterima kasih, ini urusan kecil. Lukamu tidak apa-apa, kan?”
“Benar. Berkat bantuan Tetua, sekarang aku sudah tidak apa-apa,” jawab Xu Zheng dengan hormat.
“Bagus. Urusan di sini, serahkan pada kalian saja.” Usai berkata demikian, ia melompat turun dari panggung batu.
Xu Zheng sempat tertegun, namun kemudian hanya bisa tersenyum pahit. Para tetua itu memang semuanya berwatak aneh.
Ia lalu menoleh ke Gongsun Xuan dan berkata, “Kau menang.”
Gongsun Xuan membalas dengan memberi hormat, “Terima kasih atas kemurahan hatimu.”
Perjalanan Sang Ksatria Muda, bab 33, tamat.