Bab Lima Puluh Tiga: Puncak Pulau

Perjalanan Ksatria Sanxing Erguotou 2667kata 2026-02-08 13:20:43

Gongsun Xuan menatap keringnya jenazah di hadapannya dengan ngeri. Jika saja tidak ada sebuah papan kayu yang sangat dikenalnya tergantung di tubuh itu, mungkin ia bahkan tak akan bisa mengenali siapa orang ini. Akhirnya ia paham, siapa yang telah menyelamatkannya.

Jika bukan karena lelaki tua di depannya ini, mungkin ia sudah mati, atau selamanya terkurung dalam bekuan es, entah sepuluh tahun atau seratus tahun baru akan terbangun. Ia menghela napas; andai saja ia bisa lebih cepat terjaga, atau Imuzi mampu bertahan lebih lama, barangkali ia masih bisa menyelamatkannya. Kini, ia pun tak berdaya.

Ia teringat setahun silam, lelaki tua berwatak aneh itu pernah menghajarnya dengan keras, hanya karena ingin mengambilnya sebagai murid, namun salah sangka bahwa ia telah berguru pada si ‘monster tua’. Siapa sangka, di saat bahaya menimpa, justru lelaki tua inilah yang mengorbankan seluruh tenaganya demi menyelamatkannya.

Gongsun Xuan berlutut di hadapan jenazah itu, menghormat dengan tiga kali bersujud. Itu adalah ungkapan hormat dan rasa terima kasihnya pada Imuzi.

Ia bukanlah seorang yang lupa budi.

Gongsun Xuan mengangkat jenazah yang membujur kaku itu, lalu menatap ke arah puncak menara langit yang menjulang tinggi. Di sanalah tempat semua pendekar memimpikan untuk mendaki, juga seharusnya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Imuzi. Ia ingin membawa Imuzi kembali ke dalam kuil suci itu. Sekaligus, ia ingin melihat sendiri seperti apa tempat sakral tersebut. Bukan untuk hal lain, melainkan guna memberi penghormatan pada para leluhur pulau ini. Tanpa pengorbanan mereka yang tanpa pamrih, mustahil pulau ini mencapai kemajuan luar biasa dalam seni bela diri. Juga mustahil ia, Gongsun Xuan, meraih pencapaian hari ini. Semua yang ia raih, sesungguhnya tak lepas dari sokongan tak terhingga para leluhur pulau.

Kekuatan Gongsun Xuan saat ini meningkat pesat. Ia sebelumnya sudah menjejakkan kaki pada tingkat ketiga. Sementara, di saat ajal menjemput, sang monster tua menyalurkan seluruh tenaga dalam bentuk hawa dingin padanya. Meski hawa dingin itu telah banyak ia usir, namun saat ia melatih jurus Kayu Mati, hawa dingin itu justru menjadi sumber tenaga tambahan yang sangat kuat, membuat kekuatannya melonjak. Kini, ia merasa aliran tenaga murni dalam tubuhnya amat meluap, seolah telah tiba di batas puncaknya.

Mendaki puncak menara langit dengan tangan kosong kini jadi perkara mudah baginya. Gunung setinggi lebih dari dua ribu depa itu hanya ia daki dalam waktu setengah jam.

Menatap bangunan kuil kuno di balik undakan batu, Gongsun Xuan berdiri diam. Di sinilah para leluhur mengorbankan darah dan air mata, membuatnya tak bisa tidak kagum pada mereka.

Ia perlahan melangkah naik, sosok tingginya semakin tegak. Mulai saat ini, ia pun menjadi bagian dari kuil ini.

Dengan perlahan ia mendorong pintu batu. Bagian dalam ruangan amat remang, hanya beberapa lampu minyak yang berkedip pelan, menyinari keadaan dalam kuil sekadarnya.

Di dalam kuil, ada dua sosok yang dikenalnya.

Yun Danzi dan Si Bambu Kurus begitu terkejut melihat yang masuk adalah Gongsun Xuan, hingga tak mampu berkata sepatah pun.

Sebab, sebelum pemuda itu melangkah masuk, mereka sama sekali tak menyadari kehadirannya.

Keduanya saling berpandangan, membaca keterkejutan satu sama lain. “Bukan saja dia terbangun, kekuatannya bahkan berkembang sebegitu pesat.”

Dalam hati mereka terasa getir. Keberhasilan Gongsun Xuan benar-benar memukul perasaan mereka. Mereka telah hidup lebih dari delapan puluh tahun, namun kini kalah oleh seorang pemuda enam belas tahun.

“Ini adalah jenazah senior Imuzi, mohon kedua senior memakamkannya dengan layak.” Gongsun Xuan meletakkan tubuh Imuzi secara perlahan di lantai, menatap kedua orang tua itu. Meski hampir setahun ia di sini, ia sama sekali tak tahu peraturan tempat ini. Namun, aturan leluhur tetap harus dipatuhi. Hal itu ia pahami betul.

“Ah, tak kusangka Imuzi pergi secepat ini,” keluh Yun Danzi. Hubungan mereka cukup baik, dan kepergian Imuzi membuatnya sangat menyesal. Bagaimanapun, orang-orang yang telah mencapai tingkat kekuatan tinggi seperti mereka, apalagi dibantu obat mujarab, hidup seratus tahun lebih bukanlah masalah. Seperti monster tua itu, selain karena sifatnya, ia dijuluki demikian pun karena usianya yang setidaknya seratus dua puluh tahun.

“Mulai sekarang, kau juga bagian dari kami. Leluhur pernah menetapkan, siapa pun yang menjejakkan kaki di ranah kehampaan, semuanya setara tanpa pembeda. Kecuali, kalau kau bisa melangkah ke tingkat keempat yang legendaris, maka kau bisa diangkat menjadi Tetua Agung, dan menjadi penguasa sejati pulau ini,” ucap Si Bambu Kurus sambil menatap Gongsun Xuan.

Tatapannya rumit. Dengan pencapaian Gongsun Xuan kini, menembus ke tingkat keempat hanya masalah waktu.

“Mulai sekarang, tanggung jawabmu adalah menjaga kuil ini.”

“Menjaga?” Gongsun Xuan mendongak menatap Si Bambu Kurus, “Heh, menurutku tak perlu. Ada banyak senior di sini, perlu apa aku? Aku ingin meninggalkan pulau ini, melihat dunia luar.”

“Meniggalkan?” Si Bambu Kurus dan Yun Danzi tersentak. Mereka tahu, setelah jadi tetua, kebebasan tak lagi dibatasi, boleh melakukan apa saja. Tapi, menjadi tetua juga berarti ada satu kewajiban: menjaga kuil suci selama dua puluh tahun. Setelahnya, baru bebas pergi ke mana pun.

“Tidak boleh. Meski tetua boleh pergi, ada syaratnya. Harus menjaga kuil selama dua puluh tahun. Setelah itu, terserah apa yang ingin kau lakukan. Tapi selama dua puluh tahun ini, kau harus tetap di sini.” Nada Si Bambu Kurus menjadi bergetar.

“Kalau tidak?” sahut Gongsun Xuan tenang.

“Itu berarti menentang titah leluhur. Kami berhak menghukummu.”

Dulu, meski monster tua itu melakukan banyak hal kejam, pada aturan leluhur ia sangat patuh. Kalau tidak, para tetua lain di kuil ini pun takkan membiarkannya hidup selama itu. Kalau ada yang mengira monster tua dibiarkan semata karena kekuatannya, itu keliru besar.

“Hukuman? Heh, aku ingin tahu siapa yang berani menghukumku.” Tiba-tiba nada Gongsun Xuan berubah, aura dahsyat menyembur dari tubuhnya, luar biasa menggetarkan.

“Ah!” Si Bambu Kurus merasakan kekuatan hebat itu, gelombang dahsyat menyapu hatinya. Ia merasa dirinya begitu kecil di hadapan kekuatan itu.

Srek, srek, srek. Belasan suara kain berdesir, tiba-tiba muncul belasan sosok di dalam kuil.

“Ada apa? Siapa yang mengeluarkan aura sehebat ini?” Para tetua yang baru muncul itu bertanya-tanya. Aura yang dipancarkan Gongsun Xuan membuat mereka yang peka segera merasakannya, hati mereka tergetar, menyangka telah terjadi sesuatu yang besar. Satu per satu mereka keluar dari tempatnya masing-masing.

Gongsun Xuan menatap mereka semua. Dari hawa dan nafas yang terpancar, ia tahu mereka adalah para tetua penjaga kuil ini.

“Mulai saat ini, hidupku ada di tanganku sendiri,” tatap Gongsun Xuan tajam ke seluruh ruangan, suaranya dingin menusuk.

Mendengar ucapannya, semua orang di ruangan itu merasakan getaran di hati, dingin yang mengiris dari nada suaranya.

Melihat Gongsun Xuan hidup-hidup berdiri di hadapan mereka, masing-masing tak habis pikir. Bukan hanya karena ia bisa selamat, tetapi juga karena aura yang dipancarkannya—kekuatan itu, tak seorang pun dari mereka mampu menandinginya.

Melihat Gongsun Xuan mampu mengalahkan monster tua itu, jelas kekuatannya kini adalah puncak tertinggi di pulau ini, setelah sang monster tua. Sekarang, tak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya.

Saling berpandangan, mereka semua menghela napas, lalu kembali ke tempat masing-masing.

Siapa yang berani menghalangi Gongsun Xuan sekarang? Ia adalah harapan seluruh pulau. Apa yang ingin ia lakukan, siapa yang berhak melarangnya? Hanya Si Bambu Kurus yang berdiri di sana dengan wajah muram, sangat tidak nyaman.

Yun Danzi menatap Si Bambu Kurus, menghela napas, “Mengapa kau masih begitu keras kepala? Ia sudah melampaui kita semua, bahkan para leluhur. Ia kini berdiri di puncak kekuatan. Harapan bangsa pendekar ada di pundaknya. Apa pun yang ingin ia lakukan, biarkan saja. Kita hanya bisa mengawasinya dari belakang.”

Si Bambu Kurus tertegun menatap Yun Danzi.

Benar, kekuatan Gongsun Xuan kini tak tertandingi di pulau ini. Saat ini, ia telah berada di puncak tertinggi. Yang menantinya adalah puncak berikutnya. Mampu atau tidak mendakinya, tergantung dirinya sendiri.