Bab 37 Menyalakan Api
Halaman (1/3)
Mendengar perintah itu, Li Ning’er tertegun sejenak. Namun, ia segera memahami maksud Shen Xingnan. Dengan diam-diam ia membuka pintu, lalu meletakkan nampan makanan di atas meja.
Shen Feng dan Shen Yi segera keluar, sekaligus menutup pintu. Seketika, ruangan itu menjadi sunyi.
Li Ning’er melirik Shen Xingnan yang duduk di bangku panjang, lalu mengeluarkan liontin giok dari balik lengan bajunya.
“Hamba tadi menemukan sebuah toko di jalan. Di dalamnya ada berbagai liontin giok yang sangat indah. Hamba memilih satu yang lumayan bagus. Semoga Tuan tidak merasa keberatan.”
Saat Shen Xingnan kembali ke ruangan tadi, ia tidak melihat Li Ning’er mengikutinya dan mengira gadis itu sedang sibuk mengurus sesuatu.
Namun, begitu mendengar perkataannya dan melihat liontin di tangannya, Shen Xingnan tanpa sadar tersenyum. Kerutan-kerutan halus pun muncul di sudut matanya.
“Otakmu ternyata bekerja cukup cepat.”
“Itu semua berkat didikan Tuan yang baik.”
Menanggapi perkataannya, Li Ning’er menyipitkan mata, wajahnya dipenuhi senyuman.
Keduanya saling berpandangan. Ketika Shen Xingnan berdiri dan mengangkat tangan, Li Ning’er segera memahami maksudnya. Ia cepat-cepat maju, lalu menggantungkan liontin giok itu di pinggangnya.
Mengikuti lengkung liontin tersebut, ia merapikan jumbai-jumbai di bawahnya dengan jemari. Setelah memastikan liontin itu terpasang dengan baik, Li Ning’er mundur beberapa langkah.
Entah mengapa, melihat Shen Xingnan mengenakan benda yang ia berikan dengan tangannya sendiri, tiba-tiba muncul rasa memiliki yang samar di dalam hatinya…
“Duduklah. Temani aku makan malam.”
Melihat Shen Xingnan duduk di bangku panjang dan menepuk tempat di sampingnya, Li Ning’er tersadar. Ia segera duduk di sana.
Kini, makan bersama di kediaman mereka bukanlah hal yang aneh. Li Ning’er pun sudah terbiasa.
Setelah makan malam usai dan langit di luar mulai menggelap, Li Ning’er bangkit untuk menuangkan secangkir teh hangat bagi Shen Xingnan, lalu membujuknya dengan suara lembut.
“Tuan, hari sudah mulai larut. Jika malam nanti angin kembali bertiup, sedangkan hari ini Tuan tidak membawa jubah tebal, sebaiknya Tuan segera pulang dan beristirahat.”
Saat mengucapkan kata-kata itu, Li Ning’er sungguh-sungguh merasa khawatir, tetapi di dalam hatinya juga terselip perasaan yang tidak mampu ia ungkapkan.
Entah sejak kapan, ia perlahan mulai bergantung pada pria di hadapannya.
Shen Xingnan mengangkat cangkir teh dengan satu tangan, sementara tangan lainnya kembali menekan Li Ning’er agar duduk di bangku panjang.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Setelah menyesap teh, barulah ia berkata dengan suara serak, “Beberapa hari ini aku akan menemanimu di rumah makan. Jika kau sendirian di sini, aku tidak akan tenang meskipun pulang ke kediaman.”
Mendengar hal yang selama ini ia harapkan diucapkan dengan begitu nyata, hati Li Ning’er menghangat. Pipinya pun merona.
“Mengapa kau menatapku seperti itu?”
Emosi yang terpancar dari mata Li Ning’er saat itu bahkan tidak disadarinya sendiri.
Namun, ketika Shen Xingnan melihatnya, jantungnya seakan tersentak. Ia mengangkat tangan, mencubit dagu Li Ning’er, lalu mengusap tepi bibir merahnya dengan ujung jari.
“Tenang saja. Beberapa hari ini, sebagai pengelola Paviliun Harum Langit, kau pasti sibuk mengurus segala sesuatu dengan baik. Jadi, untuk beberapa hari ini aku akan membiarkanmu. Aku tidak akan terlalu mengusikmu.”
Mendengar perkataan itu, Li Ning’er jelas melihat gurauan dan godaan di mata Shen Xingnan. Wajahnya yang semula hanya merona pun seketika berubah merah padam.
Ia menepis tangan Shen Xingnan, mengangkat nampan makanan, lalu bergegas keluar dari ruangan seperti orang yang melarikan diri.
Setelah Li Ning’er pergi, Shen Xingnan menarik napas dalam-dalam. Ia menundukkan pandangan ke arah liontin di pinggangnya, dan kelembutan memenuhi matanya…
Hingga malam tiba, Li Ning’er menyiapkan sebuah kamar pribadi untuk Shen Xingnan beristirahat.
Setelah memastikan semuanya tertata, ia baru hendak meninggalkan kamar ketika pinggang bagian belakangnya tiba-tiba dipeluk.
“Mau ke mana?”
Hembusan napas hangat menyapu telinganya. Li Ning’er tersentak, lalu buru-buru menutup kembali pintu yang baru saja dibukanya.
“Tuan, bagaimanapun juga ini adalah tempat usaha di luar kediaman. Jika para pelayan melihat kita berdua keluar dari kamar yang sama, hal itu mungkin akan merusak nama baik Tuan…”
“Memangnya kenapa?”
Shen Xingnan memotong perkataannya dan berkata dengan suara serak.
Ia memutar tubuh Li Ning’er dengan sedikit paksaan hingga gadis itu menghadap kepadanya. Senyum liar tampak menghiasi wajahnya.
“Bahkan Kaisar tahu bahwa di kediamanku ada seorang pelayan yang menemaniku tidur. Mengapa aku harus takut pada perkataan orang lain?”
Melihat kepanikan di mata Li Ning’er perlahan berubah menjadi ketenangan, Shen Xingnan terkekeh pelan. Ia menggenggam tangan gadis itu dan membawanya menuju ranjang.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Meski selama beberapa hari ini aku tidak akan menyentuhmu, sekarang kita menginap di rumah makan ini. Jika kau meninggalkanku sendirian di kamar, berarti kau belum melayaniku dengan baik.”
Li Ning’er tahu Shen Xingnan hanya sedang menggodanya. Biasanya, ia pasti akan membalas beberapa patah kata. Namun hari ini, ia memang agak kelelahan.
Mengelola rumah makan bukanlah pekerjaan yang sama seperti dahulu ketika ia bekerja di ladang desa. Kali ini, tubuh dan pikirannya benar-benar terkuras…
Di bawah cahaya lilin, Li Ning’er menggerakkan bibirnya. Dalam keadaan pikirannya memanas, ia mengulurkan tangan dan memeluk pinggang Shen Xingnan, lalu menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.
Gerakan manja dan penuh kebergantungan itu membuat jantung Li Ning’er seketika berdebar kencang.
Ia tahu, perasaan seperti ini seharusnya tidak muncul di antara seorang majikan dan pelayan. Namun, perlindungan Shen Xingnan selama beberapa hari terakhir telah membuatnya sedikit lebih berani, seolah-olah ia sedang menguji sesuatu…
Shen Xingnan pun merasa sedikit terkejut. Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung sekejap. Ia segera menyandarkan dagunya di dahi Li Ning’er, sementara telapak tangannya mengusap punggungnya yang kurus. Napasnya terdengar sedikit lebih berat.
“Beristirahatlah lebih awal. Besok mungkin akan jauh lebih ramai…”
Mendengar perkataan itu dan teringat pada pesan Shen Xingnan kepada Shen Feng, Li Ning’er terkekeh pelan lalu mengangguk.
Sebagai pengawal pribadi Shen Xingnan, Shen Feng dan Shen Yi selalu melaksanakan perintah tuan mereka dengan sempurna, tanpa sedikit pun kesalahan.
Keesokan harinya, ketika langit baru mulai memucat, Li Ning’er mendengar suara teriakan yang terdengar silih berganti dari luar.
Merasakan pipinya ditepuk perlahan, Li Ning’er membuka mata dengan lambat. Ia melihat Shen Xingnan telah mengenakan pakaian lengkap dan sedang duduk di sisi ranjang sambil tersenyum menatapnya.
“Sebentar lagi, cahaya api ini akan menarik perhatian penduduk kota. Pengelola, tidakkah kau ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan usahamu?”
Mendengar perkataan itu, Li Ning’er membutuhkan waktu dua detik untuk memahami maksudnya. Setelah itu, ia segera bangkit, menerima pakaian yang disodorkan Shen Xingnan, lalu mengenakannya dengan terburu-buru sebelum bergegas turun ke lantai bawah.
Dalam waktu tidak lebih dari sebatang dupa, seperti yang dikatakan Shen Xingnan, penduduk kota yang mendengar bahwa Paviliun Harum Langit terbakar pun berbondong-bondong datang untuk melihat keramaian.
Memanfaatkan kesempatan itu, Li Ning’er telah menuliskan hidangan baru dan kue-kue yang ditawarkan rumah makan tersebut di atas papan pengumuman, lalu menaruhnya tepat di depan pintu masuk.
Halaman (3/3)