Bab Dua-2
Di lereng belakang gunung, pepohonan rindang dan rerumputan menghampar, kicauan burung bersahut-sahutan dan aroma bunga semerbak memenuhi udara. Sebuah telaga dengan air yang jernih dan beriak tenang menciptakan suasana yang begitu menentramkan. Seorang pria muda duduk di tepi telaga sambil memancing, hingga seorang gadis berpakaian merah menghampirinya perlahan dan berbisik lembut, "Tuan Muda, mari kembali untuk beristirahat." Pria muda itu mendongak, parasnya yang tampan tampak begitu lelah. Ia bangkit tanpa suara dan mengikuti gadis berbaju merah itu kembali.
Matahari bersinar terik di angkasa. Sebuah istana megah berdiri kokoh di tengah kepungan pegunungan. Dinding istana yang menjulang tinggi hingga menembus awan tampak begitu masif, namun penuh dengan bekas luka dan goresan masa lalu.
Pria muda itu berjalan menyusuri koridor panjang di belakang gadis berbaju merah dengan raut wajah yang berat. "An'er," ucapnya, "aku mendengar suara itu lagi dari bawah tanah. Panggilannya semakin lama semakin kuat." Gadis berbaju merah itu menghentikan langkahnya dan berkata, "Anda terlalu lelah dan butuh istirahat. Jangan pergi ke istana bawah tanah lagi, kembalilah ke Gunung Shu untuk memulihkan diri sejenak!"
Seorang pelayan datang melapor, "Klan Rubah Tushan memohon untuk bertemu."
Di aula utama, tetua Klan Tushan memberi hormat dan berkata, "Berkat bantuan Yingyue, keluarga kami berhasil lolos dari bencana besar. Kebaikan ini akan kami kenang selamanya. Sebagai tanda bakti, kami persembahkan mutiara ungu yang berharga ini, mohon kiranya Tuan Istana berkenan menerimanya."
Seorang gadis dengan kecantikan sebening giok duduk di aula utama. Dialah Jia'an, yang kemudian berkata, "Anda terlalu sungkan. Mutiara ungu ini hanya ada beberapa butir di dunia. Bertahun-tahun yang lalu, seorang sahabat lama memberiku satu butir, dan kini, hadiah Anda membuat mereka menjadi sepasang yang utuh. Sungguh sebuah kebetulan yang langka." Tetua Tushan menjawab, "Penyelamatan nyawa yang Anda berikan tidaklah sebanding dengan sebutir mutiara."
Jia'an mengajak tetua Tushan untuk berbincang di paviliun samping sambil menikmati teh. Tetua Tushan berkata, "Pendeta Xia Shang sedang berkelana ke seluruh penjuru dunia untuk membasmi kejahatan. Saya menitipkan sepucuk surat, mohon Tuan Istana menyampaikannya kepada sang pendeta. Jika ada waktu, kami mengundang beliau untuk berkunjung ke Tushan."
Jia'an menerima surat itu dan berkata, "Jangan khawatir, saya pasti akan menyampaikannya kepada sang pendeta."
Di dalam gua yang gelap gulita, kesunyian mencekam hanya dipecahkan oleh suara tetesan air yang bergema. Qian Xuan merasakan ketakutan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia berusaha menenangkan diri.
Qian Xuan mengeluarkan pemantik api yang tersisa dari balik bajunya dan menyalakannya. Ternyata, ia berada di sebuah bangunan raksasa. Aula itu luas dengan pilar-pilar batu yang menjulang tinggi. Di depan aula terdapat kolam besar yang telah mengering, dipenuhi debu, terlihat hancur dan suram. Ia bergumam dalam hati, "Orang macam apa ini? Sungguh tidak masuk akal, membangun rumah sebesar ini di bawah tanah." Ia memungut sebuah potongan kayu, menyalakannya sebagai obor, lalu melangkah maju dengan hati-hati. Tempat aneh ini semakin dalam dan jauh.
Luka di punggungnya terasa nyeri, ia pun duduk perlahan untuk beristirahat. Ia merenungkan kejadian hari ini; karena kecerobohan dan kenekatannya, ia memasuki tempat terkutuk, dikepung oleh serigala raksasa, ditikam oleh monster, dan kini terkurung di sini.
"Entah bagaimana nasib Xiao Yu dan yang lainnya? Apakah mereka aman? Aku harus keluar, aku pasti bisa keluar!" Qian Xuan tidak putus asa. Ia berpikir, berjalan ke bawah dan ke dalam hanya akan membawanya ke rute yang rumit dan berbahaya. Ia mengertakkan gigi, "Lagipula aku pasti mati, lebih baik aku bertaruh nyawa. Mendaki ke atas mungkin adalah satu-satunya harapan."
Ia merobek ujung pakaiannya untuk membalut luka, memegang obor di tangan kiri, lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk memanjat ke atas. Dinding gua sangat licin dan ditumbuhi lumut. Setelah memanjat lebih dari sepuluh depa, ia melihat sebuah dataran kecil menonjol di sisi kiri depan. Qian Xuan melompat ke dataran itu dan menghela napas lega. Saat ia menoleh, sepasang mata bercahaya menatapnya. Qian Xuan terkejut hingga hampir terjatuh.
Meski terkejut, dengan sigap tangan kanannya berhasil mencengkeram bebatuan yang menonjol untuk menstabilkan tubuhnya. Tangan kirinya memegang obor di depan dada.
Kilatan cahaya api justru mengejutkan makhluk kecil di dataran itu. Ia mengeluarkan suara merintih, terpeleset, dan kehilangan keseimbangan. Di saat genting, Qian Xuan menerjang dan berhasil menangkapnya.
"Apakah kau tahu jalan keluarnya?" tanya Qian Xuan lembut kepada makhluk kecil itu. Di bawah cahaya api, makhluk itu tampak seperti seekor kucing kecil, tubuhnya sangat kurus, bulunya putih bersih, namun penuh luka. Sangat menyedihkan. Qian Xuan berkata dengan geram, "Kejam sekali, bahkan seekor kucing kecil pun tidak mereka ampuni." Ia hendak mengusap kepalanya, namun kucing putih itu mundur dan menolak. Tiba-tiba, terdengar suara gesekan yang mencurigakan. Kucing putih itu gemetar ketakutan dan bersembunyi di balik tubuhnya. Qian Xuan memungut beberapa batu, bersiap untuk bertarung.
Di Istana Yingyue, Jia'an menerima laporan. Kejadian aneh kembali terjadi di kota bawah gunung. Beberapa gadis menghilang secara misterius dari rumah mereka, membuat keluarga mereka mencari dengan panik. Keesokan harinya, mayat mereka ditemukan di luar kota dalam kondisi yang mengenaskan, diduga diserang oleh binatang buas raksasa. Namun, wilayah di sekitar Istana Yingyue selama puluhan mil selalu damai dan tidak pernah ada binatang buas.
Jia'an memerintahkan bawahannya untuk melepaskan macan tutul spiritual agar berkeliaran di hutan pegunungan. Macan tutul itu berpatroli di luar kota pada malam hari, dan keadaan di bawah gunung untuk sementara kembali tenang. Namun, tidak ada jejak apa pun yang ditemukan; musuh telah bersembunyi dengan rapat.