Bab Seratus Tiga: Kesedihan dan Kemurkaan Qiu Hu
"Tuan, aku mau."
Kata-kata macam apa yang begitu menggugah imajinasi ini? Terlebih lagi, suara yang mengucapkannya terdengar begitu memikat dan merayu jiwa!
Qiu Hu merasakan kepalanya berdengung seketika. Seluruh tubuhnya terasa panas membara, dan secara naluriah ia menunduk. Meski ruangan minim cahaya, ketajaman mata seorang kultivator melampaui orang biasa. Samar-samar, ia bisa melihat bentuk lengan yang merangkulnya.
Kulitnya seputih salju, bahkan lebih dingin dari embun beku. Teksturnya begitu halus hingga pori-pori pun tak terlihat.
"Tangan yang sangat indah," pikir Qiu Hu.
Gelombang panas membuncah di dadanya, merambat hingga ke perut. Ia segera menoleh, ingin melihat rupa jelita pemilik tangan tersebut.
Ia menoleh. Dan ia melakukannya dengan tidak sabar.
Satu detik kemudian, wajah seorang pria kasar yang dipenuhi jambang menyambut pandangannya. Jarak antara kedua wajah itu hanya dua sentimeter. Begitu dekat hingga ia bisa melihat kerutan, jerawat, serta bulu hidung yang mencuat keluar dengan kotoran yang masih menempel.
Pupil mata Qiu Hu mengecil. Sudut bibirnya berkedut dua kali, sementara kedua tangannya mengepal erat.
"Orang yang sangat menjijikkan..."
Ia mengertakkan gigi, mengerahkan seluruh energi spiritualnya, dan melayangkan tinju sekuat tenaga ke wajah buruk rupa itu.
"Sialan kau!!!"
Menjijikkan sekali! Setelah mendengar suara yang begitu menggoda, ia menoleh dengan penuh antisipasi, namun justru disuguhi pemandangan semacam ini!
Sesaat lalu, perasaannya melayang ke surga, namun saat menoleh, ia langsung jatuh ke neraka. Rasa sakit hati yang luar biasa itu membuat pikirannya kacau balau.
Ini adalah formasi ilusi! Dan formasi ilusi yang sangat mesum! Benar-benar menjijikkan!
"Egh..."
Tepat pada saat itu, Xia Chao yang berada di atas tempat tidur tampak sedang tidur pulas, mengeluarkan gumaman kecil. Suara itu mengejutkan Qiu Hu. Mengira Xia Chao terbangun karena keributan tadi, ia segera menutup pintu dan lari terbirit-birit.
Bagaimanapun juga, menyelinap ke kamar orang lain di tengah malam adalah tindakan memalukan. Melarikan diri adalah pilihan terbaik. Adapun tujuan kedatangannya, sudah ia buang jauh-jauh dari pikirannya. Membayangkan kembali wajah yang menempel tadi, ia merasa mual luar biasa hingga hampir muntah. Malam ini, sepertinya ia tidak akan bisa tidur.
Di dalam kamar, tubuh Xia Chao sedikit bergetar. Setelah beberapa detik menahan diri, ia akhirnya tidak sanggup lagi. Ia membalikkan badan dan tawa yang tadinya tertahan meledak begitu saja.
"Hahaha, lucu sekali! Hahaha..."
Akhirnya ada orang yang merasakan hal yang sama dengannya! Formasi ilusi ini adalah jebakan yang pernah digunakan Chen tua padanya. Di dalam slip giok yang diberikan Chen, terdapat catatan rinci tentang formasi ini. Selama sepuluh hari lebih, ia mempelajarinya hingga mahir. Awalnya, ia memasangnya untuk peringatan dini, tak disangka malah menjebak orang lain!
Sebenarnya, saat formasi itu aktif, ia sudah terbangun dan tahu siapa pelakunya. Namun, demi menguji formasi tersebut, ia sengaja tidak memberi peringatan dan menunggu orang itu masuk perangkap. Jujur saja, keberhasilan menjebak orang lain memang sangat menyenangkan!
Setelah rasa gembiranya sedikit mereda, ia menenangkan diri dan mulai berpikir mengapa Qiu Hu datang ke sini. Salah masuk kamar? Tidak mungkin. Di malam sedalam ini, siapa yang bisa salah masuk kamar? Menyukai pria? Pikiran itu baru saja melintas, Xia Chao bergidik dan segera membuang jauh-jauh prasangka tersebut. Pikiran itu terlalu mengerikan.
Ataukah karena ia terlalu mencolok sehingga Qiu Hu ingin mengganggunya agar tidak bisa tidur dan menjatuhkan mentalnya? Kemungkinan ini ada. Bagaimanapun, hari ini penampilannya memang terlalu menonjol. Namun, itu sebenarnya bukan masalah besar. Perjalanannya ke sini adalah untuk melatih diri, dan Planet Chiyuan penuh dengan bahaya serta binatang buas. Jika bukan karena indra tajamnya, ia mungkin sudah kembali dalam keadaan terluka parah.
"Tapi, aku memang harus lebih rendah hati. Pengalamanku bertarung sudah meningkat setelah membunuh banyak binatang buas hari ini. Hasilnya sudah cukup, tak perlu terlalu mencolok. Besok, biarkan mereka yang maju, aku hanya akan memberi peringatan."
Setelah menetapkan strategi untuk esok hari, Xia Chao memejamkan mata kembali. Dengan kejadian lucu Qiu Hu terperangkap formasi ilusi, suasana hatinya sangat baik. Ia yakin akan tidur nyenyak malam ini.
Keesokan harinya, matahari terbit dan tugas pun berlanjut. Yang lain merasa cukup segar setelah tidur nyenyak, kecuali Qiu Hu yang memiliki lingkaran hitam besar di bawah matanya. Tatapannya kosong dan wajahnya tampak bingung. Melihat kondisinya, jenius muda ini sepertinya sangat terguncang semalam.
Melihat hal itu, Lin Zhao tersenyum dan bertanya, "Ada apa, Qiu Hu? Apa kau berlatih terlalu lama semalam? Tidak bisa tidur?"
Pria yang tidak tidur semalaman itu menatapnya dingin tanpa sepatah kata pun. Xia Chao yang berada di sampingnya mendengarkan dalam diam. Wajahnya tampak datar, namun di dalam hatinya ia tertawa terbahak-bahak.
Setelah sedikit bersenda gurau, mereka berlima melanjutkan perjalanan untuk mencari Binatang Ekor Emas. Meski Xia Chao tidak lagi turun tangan hari ini, Li Jiuqing dan Lin Zhao bukanlah orang sembarangan. Setelah pengalaman sehari sebelumnya, mereka mulai memahami karakteristik makhluk di planet ini. Mereka pun mengerahkan seluruh kekuatan dan melibas jalan dengan santai.
Melihat keduanya bertarung dengan mudah, Qiu Hu merasa sangat depresi. Mengapa semuanya jadi begini? Padahal hari ini Xia Chao tidak ikut bertarung, ini seharusnya menjadi saat baginya untuk bersinar. Namun, karena tidak tidur semalaman, kondisinya sangat buruk. Bahkan jika ia ingin memaksakan diri, rekan-rekannya pasti akan melarang.
"Ah, takdir memang tidak memberiku kesempatan," keluhnya.
Saat meratapi nasib, matanya tak sengaja tertuju pada Cheng Heng. Ia ingin melihat apa yang dilakukan wanita pujaannya itu. Begitu melihatnya, ia hampir meledak karena marah. Wanita itu sedang mengobrol dengan Xia Chao dan tampak sangat akrab!
"Lihat tanaman ini, ada racun ringan di dalamnya. Jika tersentuh, otot akan terasa kebas dan lemas. Sedangkan yang satu ini..."
Mendengar nada bicaranya, Cheng Heng ternyata sedang membagikan pengetahuan botani kepada Xia Chao. Itu adalah perlakuan yang sudah lama ia dambakan! Seorang wanita, terutama yang mengambil jurusan kedokteran di universitas ternama, pastilah luar biasa. Cheng Heng memiliki kepribadian yang lembut dan paras yang cantik, tentu menjadi istri idaman banyak pria.
Ia sudah lama mengejarnya, namun sampai sekarang tidak ada kemajuan berarti. Bahkan jika mereka bicara, hanya sebatas "sudah makan?" atau "makan apa?". Selain itu, tidak ada hasil. Namun, Xia Chao baru bergaul satu hari saja sudah bisa mengobrol akrab dan bertukar ilmu.
Bukankah kesenjangannya terlalu besar? Matanya memerah karena cemburu. Namun sayangnya, Qiu Hu tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat semburat merah di wajah Cheng Heng saat berbincang semakin akrab dengan Xia Chao, pemuda dengan lingkaran hitam di matanya itu hanya bisa menunduk dan menghela napas panjang penuh kepedihan.
"Langit tidak berpihak padaku..."