Jilid Kedua: Pengelana Dunia Lain Bab Tujuh Puluh Tiga: Reruntuhan
Tim Saidal terdiri dari tiga belas orang.
Satu tim kelas D beranggotakan tujuh orang.
Satu tim kelas D lagi beranggotakan sembilan orang.
Satu tim kelas D dengan sebelas orang anggota.
Satu regu sayap langit dengan lima orang.
Total semuanya empat puluh lima orang.
Tampaknya tim-tim kelas D hampir tak mendapat perhatian. Saat mereka keluar dari Gedung Nomor Tiga, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan sebuah tim elit. Pemimpin tim itu meludah ke tanah dan dengan nada menghina menunjuk ke arah Saidal, “Umpan meriam.”
Dia berkata begitu pada rekannya di sebelahnya.
Antakuta memandang kejadian itu dengan minat, merasa perilaku manusia sungguh sulit ditebak. Untuk apa dia melakukan itu? Ia pun teringat pada istilah yang pernah ia baca di buku latihan tokoh utama kota, “pamer”, sepertinya memang seperti itu.
Namun, dalam buku dikatakan bahwa “pamer” berarti menarik perhatian pasangan dengan menunjukkan keunggulan diri di atas orang yang dipameri, demi tujuan akhir kawin. Maka timbul pertanyaan, tim elit itu tidak ada perempuan, jadi...
“Bolehkah saya tanya, apakah Anda ingin kawin dengan orang di sebelah Anda?” tanya Antakuta dengan semangat.
Layaknya manusia yang tertarik dengan tingkah laku anjing, Antakuta pun sangat tertarik pada perilaku manusia.
Prajurit kelas A itu tampak bingung, “Kamu bilang apa?”
Sementara itu, wajah Poker dan Saidal berubah pucat. Aduh, kakak, apa yang kamu lakukan?!
“Maksudku, kamu pamer seperti itu, apakah kamu ingin kawin dengan orang di sebelahmu?” Antakuta menggosok-gosokkan tangannya, “Tak kusangka cinta sesama jenis cukup umum di antara manusia!”
“Tunggu, tunggu, maksudmu apa? Kau cari mati ya?” Prajurit kelas A itu merasa terhina, langsung naik pitam. Sekali lambaikan tangan, bagasi jip terbuka dan peluru-peluru berhamburan melayang di udara.
“Pengguna kekuatan khusus!” Poker terperangah, “Bukannya mereka semua di tim kelas S?”
“Itu berarti dia payah, tidak ada yang mau menerimanya,” kata Antakuta santai.
“Kamu diam!” Saidal segera menutup mulut Antakuta dan buru-buru meminta maaf pada prajurit kelas A, “Maaf, anggota tim kami ini otaknya sempat digigit laba-laba laut, jadi agak error.”
“Brengsek, kalau aku lihat kamu lagi, bakal kubuat kau berak di celana!” prajurit itu menggeram, lalu jip melaju kencang meninggalkan mereka.
Begitu yakin tim itu sudah menjauh, Saidal melepaskan tangannya. Wajahnya makin gelap, padahal kulitnya sudah gelap dari sananya.
“Bla bla bla! Gru gru kari wa! Niguru kiku bu!” Ia merenggut kerah baju Antakuta dengan geram sambil meraung.
Setelah memaki sebentar, ia sadar ekspresi Antakuta tampak linglung. Ia pun segera mencari-cari dan menemukan alat penerjemah yang terjatuh karena terlalu panik tadi, lalu melanjutkan memarahi, “Kamu ngapain sih! Mau mati ya?! Kamu nggak tahu kalau kita semua ikut celaka pun tetap nggak bisa nolong kamu?! Dasar bodoh!”
Beberapa saat kemudian, ia melepas pegangannya dan terengah-engah, “Nanti kau sebaiknya jauhi aku, aku nggak mau ikut celaka gara-gara tindakan nekatmu.”
Antakuta terkekeh, “Aku cuma merasa perbuatannya buruk saja.”
Saidal menghela napas, “Kadang manusia perlu tahu caranya menahan diri, itu kata seorang tua Arab yang sangat bijak.”
“Kebetulan, ayahku juga pernah bilang begitu,” mata Antakuta berbinar.
“Lalu kenapa kamu tetap nekat?”
“Ayahku bilang, menahan diri itu supaya bisa menunda kematiannya, bukan membiarkan dia mati terlalu cepat,” Antakuta mengangguk serius.
Saidal dan Poker terdiam, apakah benar begitu cara manusia membesarkan anaknya?
Betul, memang itu bukan cara manusia pada umumnya.
Sampai di sudut landasan, sepuluh jip berjejer rapi. Setiap jip atapnya terbuka dengan senapan mesin terpasang.
Anggota Sayap Langit menemukan jip mereka. Poker langsung duduk di kursi pengemudi. Matsuda Koichi membuka pintu dan mempersilakan Antakuta masuk duluan.
“Kamu orang baik,” ujar Antakuta sambil menaikkan alis dan masuk.
“Maaf, kursinya agak kotor,” kata Matsuda Koichi, jarang sekali ia bicara, sambil melemparkan saklar pisau ke bagasi.
Rasa haru langsung lenyap.
Ellie duduk di kursi penumpang depan, Sensu membuka atap, memasang sabuk peluru di senapan mesin.
“Ngomong-ngomong, Chengping, seberapa tinggi tingkat rekayasa genetikmu? Biar aku kasih tugas khusus,” Poker menyalakan mesin, mengganti gigi, menginjak gas, dan mengemudikan jip keluar dari parkiran mengikuti mobil depan.
“Tujuh.”
“Oh, untung bukan tingkat percobaan,” Poker mengangguk. Lalu mendadak mengerem, “Tunggu, tunggu, kamu bilang apa?”
“Tujuh,” jawab Antakuta tenang sambil merogoh saku, lalu kecewa karena tak menemukan kacang.
“Kamu... ini...,” mulut Poker ternganga, tangannya gemetar, “Kamu bercanda? Rekayasa genetik tingkat tujuh masuk tim kelas D? Masih harus melamar? Bukannya di atas tingkat lima langsung masuk tim elit?”
“Aku ingin bertemu seseorang, dan tim elit sudah berangkat lebih dulu,” Antakuta menurunkan kaca jendela, membiarkan angin bertiup masuk.
“Ingin bertemu seseorang...” Poker melirik refleks ke arah Ellie, lalu segera paham.
Ia tertawa, “Begitu rupanya, aku mengerti. Semangat!”
Antakuta pun tertawa, “Bagus kalau sudah mengerti.”
“Boleh tahu dulu kau bertugas di mana?” Poker memutar kemudi, “Lalu kenapa tak bilang sejak awal? Tingkat tujuh, kita bisa daftar jadi tim kelas C!”
“Kamu tak tanya, tentu saja aku tak bilang,” Antakuta memandang menara pengawas yang melintas cepat. Tentara di atas menara memberi hormat pada iring-iringan kendaraan.
“Aku adalah eksekutor Proyek Biru Dalam,” Antakuta berusaha mengingat status Chengping, sepertinya memang seperti itu.
“Eksekutor? Aku... aku...” Poker sampai tak bisa bicara, timnya kedatangan orang sehebat apa ini?
Matsuda Koichi juga jadi tak tenang. Ia menatap Antakuta hati-hati, “Tuan, tempat duduknya agak kotor, bagaimana kalau saya tukar saja?”
“Sudah terlanjur duduk, celana kotor tak apa,” jawab Antakuta santai.
“Atau... biar saya bersihkan?” tawar Matsuda.
“Pergi sana.”
“Aku akhirnya tahu kenapa kau tak takut pada mutan itu,” ujar Sensu. “Maaf, waktu itu kukira kau bodoh.”
“Sensu, diam saja, tak ada yang mengira kau bisu,” Ellie memutar bola matanya, anggota timnya satu aneh semua.
Sensu pun cemberut, matanya di balik kacamata pelindung berkedip, “Semua, kita akan masuk ke daerah reruntuhan.”
Beberapa jip di depan mulai menyalakan senapan mesin, pelurunya menyambar-nyambar ke udara, menghujani burung-burung raksasa.
“Dasar pemula,” Sensu mendengus sinis, “Baru mulai sudah buang-buang peluru. Burung-burung itu bahkan belum dekat ke kendaraan, tembakan senapan mesin pun tak bisa menjangkau setinggi itu. Lihat saja, nanti pasti ada yang datang ke kita beli peluru.”
Jalan yang mereka lalui makin bergelombang, sisi-sisinya penuh reruntuhan, dan puing-puing beton berserakan di mana-mana.
Di tanah juga banyak lubang bekas ledakan, Poker pun terpaksa mengurangi kecepatan, takut kendaraan terbalik jika tiba-tiba diserang.
Di depan, kembang api meletup ke udara. Semua orang seketika tegang, sadar bahwa mereka baru saja melangkah ke dunia yang berbeda.