Bertemu Kembali dengan Sahabat Lama
“Tante kelima belas, apa Anda tidak mengenali saya?” Suara laki-laki yang lantang namun agak serak terdengar dari atas kepala.
Ah, Yebushu. Aku merasa lega dalam hati, berdiri dan memberi salam dengan dingin, “Salam sejahtera, Pangeran Kedua.” Aku pun tak menatapnya.
Dia duduk dengan santai, melambaikan tangan menyuruh para pengikutnya menyingkir, kemudian menuangkan teh untuk dirinya sendiri. “Kapan Tante kelima belas jadi begitu asing?” tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Aku melirik Gao Lin dan Aruna, memberi isyarat agar mereka menunggu di depan pintu, lalu baru menjawab, “Tidak asing, hanya saja sedikit terkejut bertemu kenalan lama di negeri orang.” Orang Manchu walau tak berlebihan soal tata krama, tetap tak mengizinkan istri orang lain bercakap-cakap akrab dengan pria di jalan. Aku duduk berwibawa sebagai istri utama, mengangkat cangkir teh, meniup daun teh yang mengapung. Suasana terasa dingin, sudah lama tak bertemu dengannya, aku pun tak tahu harus berkata apa, menunggu ia bicara lebih dulu.
Wajah tampannya dengan sepasang mata hitam berkilat. “Bagaimana menurutmu lagu yang tadi? Apakah enak didengar?” Yebushu bertanya sambil memberi isyarat dengan tangannya.
“Lelaki padang rumput mana bisa diwakili oleh suara seruling,” jawabku sambil mengangkat alis dengan remeh. Di dalam ruangan hanya kami berdua, jadi sikapku pun jauh lebih santai.
“Kau tidak paham. Ayahku sangat mengagumi budaya Han, dan permainan orang Han memang menarik.” Katanya sambil mendekat, suara diturunkan, “Aku mencari beberapa gadis Han yang mengerti musik, yang kau dengar tadi adalah mereka yang memainkan. Mau ku panggil mereka agar kau bisa lihat?”
Aku menegakkan badan, duduk lebih tegak, menarik jarak darinya, “Pelayan Pangeran Kedua mana mungkin aku ganggu.”
Mendengar ucapanku, sudut mata Yebushu tampak berkedut, menatapku lama lalu malah tertawa terbahak, “Sejak kapan Urin Zhuoya jadi begitu sopan?” Ia tiba-tiba mendekatkan mulut ke telingaku, “Paman kelima belas sangat suka gadis Han, tahu?” Aku bisa merasakan hembusan napas hangat dan aroma khas laki-lakinya, segera aku menutupi wajah dengan sapu tangan, jantungku berdegup kencang.
Dodo suka gadis Han? Di kepalaku terlintas gambaran Dodo menatap genit gadis berbikini sambil meneteskan liur. Tidak, ini zaman dahulu, mana ada bikini. Terpikir celana dalam desainku, wajahku jadi merah padam.
“Hmm, sikap malu-malumu sedikit mirip gadis Han, Tante kelima belas harusnya lebih langsing lagi,” Yebushu berkedip-kedip sembari minum teh.
Bibirku bergetar, ingin langsung menuduhku gemuk saja. Wajahku jadi muram, aku bangkit hendak pergi; baru bicara beberapa patah kata sudah menyinggung soal berat badan, itu adalah pantangan bagiku.
“Urin Zhuoya,” panggil Yebushu cemas, tubuhnya melesat menghalangiku.
“Panggil aku Tante kelima belas,” gumamku geram, tangan tanpa sadar bertolak pinggang.
Yebushu menghela napas pasrah, mengangkat cangkir, menyesap teh sebelum berkata, “Inilah Urin Zhuoya yang kukenal.” Tatapannya jadi suram, sekelabat harapan melintas, “Di luar, kau panggil aku Yebushu, aku panggil kau Urin Zhuoya, bagaimana?”
Urin Zhuoya yang bebas, percaya diri, dan angkuh di padang rumput? Di sini aku harus hati-hati, penuh kepura-puraan, tak berdaya. Aku bergumam, “Jadi istri utama yang tak disukai, gelar yang kalian agung-agungkan itu, aku tak menginginkannya.”
“Paman kelima belas pernah mempermalukanmu?” Setelah bertanya, Yebushu tersenyum miris, “Satu kota Shengjing tahu sejak istri kelima belas masuk rumah, langsung mengelola rumah tangga. Berapa banyak yang bisa menikmati kehormatan itu?” Seolah akulah yang tak tahu diri.
Aku tersenyum kecut, berbisik, “Sudah kubilang aku tak menginginkannya.” Malam pengantin dibiarkan sendirian, lalu tiba-tiba diserahkan sekelompok perempuan dan anak-anak, harus menjaga rumahnya, mengurus istri dan anaknya, kalau dia mati, aku jadi janda seumur hidup, membesarkan anak perempuan lain, lucu sekali hidup macam apa ini?
Yebushu tersenyum geli melihat perubahan warna wajahku, memainkan cangkir di tangan. Ia menghela napas, “Urusan Paman kelima belas bukan urusanku.” Ia meletakkan cangkir, perlahan menatapku dengan serius, “Aku mendirikan kelompok sandiwara, tadi kau sudah lihat kemampuan mereka. Hari ini kebetulan bertemu, Urin Zhuoya, ajarkan mereka lagu-lagu yang kau bisa. Kalau berhasil, itu jasamu.”
Melupakan sikap santai biasanya, aku sulit membaca ekspresinya selain keseriusan. Aku menunduk sebentar sebelum bertanya, “Khan Agung sedang sibuk menaklukkan suku Mongol, kau tidak ikut berperang?”
Guratan getir di wajahnya tertangkap mataku, tubuhnya tampak kaku, ia menjawab serius, “Perang bukan urusan perempuan.”
Hmph, kenapa tidak langsung bilang saja paman dan om yang lebih cakap sudah terlalu banyak. Aku melirik matahari di luar jendela, hari sudah tidak pagi lagi. Sebagai istri utama, jika aku tak segera pulang, pasti para perempuan itu akan punya alasan mencelaku, nanti Dodo pulang bisa-bisa aku diadukan. Aku merapikan pakaian, berkata dengan nada sedikit menggoda, “Soal mengajar lagu, aku harus pikir-pikir. Sebagai istri utama, mengajari gadis Han menyanyi bukan tugas yang pantas.” Aku melangkah ke sampingnya, tiba-tiba meraih kepang rambutnya di belakang kepala, yang disisir rapi dan diikat dengan tali kuning. Di masa kini, aku selalu penasaran dengan pria Manchu berambut panjang dan berkepang, kini akhirnya aku punya kesempatan. “Kalau kau bisa bawa mereka masuk ke rumah Pangeran, aku akan ajarkan.” Sering-sering keluar rumah tentu tak baik, harus hati-hati.
Yebushu yang dikepang rambutnya, berbalik menatapku, wajahnya jadi biru keunguan dengan rona kemerahan, dan aku, memanfaatkan kesempatan, dengan cepat menepuk dahinya yang mulus, “Aku akan menunggu kelompok sandiwaramu di rumah.” Selesai berkata, aku lepaskan kepangnya lalu berlari ke pintu, membukanya dan melangkah keluar.
Dari belakang, suara Yebushu terdengar samar-samar, “Urin Zhuoya, tunggulah saja.”