Pendeta Saman
Makan, tidur, lalu makan dan tidur lagi—baru kusadari manusia juga punya potensi menjadi babi. Ramuan penambah dari Nyonya Tua Tong benar-benar manjur, aku bahkan tidak seperti kebanyakan perempuan hamil yang muntah-muntah tiada henti. Mual yang sesekali datang hanya jadi selingan saja. Sudah tiga bulan, perutku tetap serata sebelumnya, tapi di dalamnya ada buah hatiku. Dengan penuh kasih sayang, seperti seorang ibu, aku mengelus perutku. Enam setengah bulan lagi, kita akan bertemu, betapa aku menantikan hari itu.
Sambil makan stroberi musim ini, tanganku membolak-balik Kitab Tiga Negara, hingga halaman-halaman buku ternoda oleh sari stroberi. Aku tak pandai menyulam, tak mengerti musik, selain bisa menari beberapa tarian aneh dan menyanyikan lagu-lagu masa kini, di masa ini aku benar-benar hanya tukang makan. Kututup buku di wajah, merintih tanpa sebab, hingga Aruna menunduk masuk dengan langkah cepat. Ia membungkuk di telingaku dan berbisik, “Hari ini Nyonya Tong memanggil seorang dukun shaman ke rumah untuk memohon berkah. Sepertinya dia sudah bertindak dulu baru melapor.”
Mau mencoba apa lagi dia, pikirku sambil memiringkan kepala. “Sudah sampai di rumah?” Aku belum pernah melihat dukun shaman sungguhan, tak tahu apakah mereka benar-benar sehebat yang diceritakan. Dalam hati, aku geli sendiri—kalau memang sehebat itu, bukankah dia bisa tahu aku adalah jiwa yang menyeberang waktu? Banyak kisah penyeberang waktu yang dikenali dukun, lalu diajari cara pulang. Tapi aku, untuk pulang pun tak berminat.
Sebelum Aruna menjawab, Chunxiang di halaman sudah berteriak, “Dukun shaman sudah datang! Nyonya, bukankah Anda mau ikut menonton? Katanya dia lebih sakti dari dukun kita.”
Shaman biasanya menari, menabuh gendang, dan bernyanyi untuk membuat “jiwa keluar dari raga”, lalu menjelajah dunia roh, bertemu dewa dan arwah. Dalam upacara magis itu, shaman akan tampak seperti pingsan, kehilangan bicara, linglung, atau sangat bersemangat. Jika sudah begitu, orang menyebutnya “turun dewa” atau “masuk dewa”, sedangkan para ilmuwan menyebutnya “trance shaman” atau “hipnosis shaman”. Begitulah cara shaman menyampaikan permintaan dan harapan manusia kepada para dewa, juga membawa kehendak dewa kepada manusia. Tujuan hidup seorang shaman adalah menguasai rahasia dan kekuatan kehidupan super dengan berbagai cara spiritual. Mendapatkan rahasia dan kekuatan para dewa adalah inti dari kehidupan seorang shaman.
Tak ada salahnya melihat sendiri, pikirku. Aku dengan cekatan meletakkan buku ke atas meja dan berkata malas, “Dibawa ke dalam atau di ruang tamu depan?” Aruna mendekat untuk menuntunku, “Di ruang tamu depan, katanya dukun laki-laki.” Aku membenarkan sanggul kecilku, menguap, “Ayo, kita lihat saja, siapa tahu dapat berkah juga.”
Di perjalanan menuju ruang depan, Nyonya Xu—pelayan tua di dekat Nyonya Tong—menyongsong kami. Wajahnya yang penuh keriput mengerut menjadi serupa bunga krisan. “Hamba hendak menjemput Nyonya juga, hehe. Hari ini majikan memanggil dukun terkenal dari kota, untuk mengusir bala dan memohon berkah bagi istana. Dukun sudah menunggu di ruang tamu.”
Dukun bernama Dojinah. Nama yang lucu. Tapi mengingat shaman dikenal sakti, mana mungkin aku meremehkan. Maka aku pun melangkah tegap, memasang wajah serius. “Baru setelah semua siap, kalian mengundangku. Benar-benar perhatian.” Mendengar sindiranku, Nyonya Xu tersenyum menanggapi, “Nyonya sedang hamil, tak boleh terlalu capai.”
Apa-apaan, jelas-jelas mereka tak menganggapku. Aku meliriknya tajam. Mau mengambil kekuasaan dengan dalih kehamilanku? Nyonya Tong memang ada niat itu. Nyonya Liang saja berani terang-terangan mengincar posisi putra mahkota, mana mungkin Nyonya Tong tak punya ambisi? Para perempuan ini, selain berharap punya anak lelaki sebagai sandaran, juga mengincar kekuasaan nyonya utama. Sebelum aku masuk ke istana ini, pengatur urusan rumah tangga adalah dia, meski hanya sebagai nyonya pendamping, kedudukannya tak bisa diremehkan. Barangkali, akulah yang paling ia benci di rumah ini.
Dukun shaman itu mengenakan kemeja putih, rok kain biru langit bertabur gambar binatang buas dan burung, sabuk kulit harimau dihiasi tiga belas lonceng dan cermin perunggu. Di luar, jubahnya bertabur tulang, kulit, bulu burung dan binatang, batu sakti, lonceng dan cermin ajaib. Sejajar dengan kepala, terdapat lukisan naga, di bawahnya tiga tawon, di samping tawon seekor kura-kura, di bawahnya ular berkaki empat, lalu dua ular, tujuh lalat, dua ular berkaki empat, empat kodok, deretan dua puluh tiga ular, empat serangga terbang, dan empat laba-laba. Di tiap bahu tergambar tiga ular, di lengan ada kura-kura dan capung. Topi sakti di bagian depan bertabur cermin perunggu kecil, puncak topi dihiasi bulu beruang, serigala, rubah, dan cerpelai, yang ujungnya menjuntai ke punggung dan bahu, sementara pangkalnya bertaut tinggi, membuat si shaman tampak gagah. Yang paling istimewa, ia memakai sarung tangan dari kulit rusa, dicelup merah-ungu, dengan tepian kulit hitam berjumbai, di tiap sarung tangan dijahit kura-kura dan dua ular berkaki empat. Beberapa pemuda dengan pakaian lebih sederhana berdiri tiga meter darinya, ada yang menabuh gendang, ada yang membunyikan tamborin. Ketika aku datang, dukun bernama Dojinah itu berhenti sejenak, mengangguk hormat lalu melanjutkan ritual, lonceng di pinggangnya berdentang mengikuti irama, bersahutan dengan suara gendang.
Tak ada satu pun yang duduk di halaman, berdiri lama-lama pinggangku pegal juga. Kulirik upacara belum juga selesai, aku menghela napas, dan justru menangkap tatapan si shaman mengarah padaku. Mata cokelat madu itu, seperti mata kucing Persia, berkilat aneh dan memancarkan aura misterius. Selain Aruna yang paling dekat denganku, para pelayan mundur dengan wajah takut. Shaman itu mengelilingi kami berdua, mulutnya komat-kamit mengucap mantra, lonceng di pinggangnya berdentang nyaring, suara cemprengnya menyayat telinga. Lelah mendengar suara itu, aku balas menatap si shaman, ingin tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya.
Tak terduga, ia membungkuk hormat, ekspresinya khidmat dan penuh pengabdian. “Dewa langit akan memberkahi Istana Pangeran Yu dengan kemakmuran abadi. Semoga Nyonya selalu sehat dan damai.” Nyonya Tong buru-buru maju beberapa langkah, menyodorkan sebuah kantung harum sembari tersenyum lebar, “Nyonya kami pasti akan sehat sejahtera, silakan masuk untuk minum teh.” “Terima kasih. Bolehkah saya bicara sejenak dengan Nyonya ini?” Dukun Dojinah mengangguk pada Nyonya Tong, lalu menoleh ke arahku.
Aku mengedipkan mata, sedikit heran. Orang yang didatangkan Nyonya Tong tentu saja dekat dengannya, apa mungkin shaman ini menebak jati diriku? Jantungku berdetak tak teratur, bibirku kugigit pelan, pikiran berputar cepat. Aruna menggenggam lenganku erat-erat, aku memberi isyarat agar ia melepas, tersenyum menenangkan padanya. “Mungkin ada yang ingin disampaikan dukun.” Kataku, lalu melangkah ke ruang tamu depan. Tak lupa kuberi perintah, “Siapkan hidangan, jamu dukun makan di istana. Kepala pelayan, ambilkan uang di gudang, memohon berkah untuk istana masa harus pakai uang Nyonya Tong sendiri?”