Bab 125: Beli satu gratis satu, bawa pulang sekaligus
Parade bunga kembang kota berlangsung dengan sangat meriah.
Beberapa pria berbadan tegap menabuh genderang dan gong di barisan depan, diikuti oleh deretan kereta hias yang menebarkan aroma wewangian bedak di sepanjang jalan.
Sekelompok wanita berparas menawan yang mengenakan gaun sutra tipis nan tembus pandang duduk di atas kereta hias. Mereka melambaikan sapu tangan ke arah para pria di pinggir jalan sambil tertawa genit. Sesekali, mereka melemparkan sapu tangan tersebut ke arah kerumunan, membuat para pria berebut dengan penuh semangat.
Nuobao, yang belum pernah melihat pemandangan seperti ini selama di istana, menonton dengan sangat antusias. Si kecil berdiri di barisan paling depan ketika tiba-tiba sehelai sapu tangan sutra berwarna merah muda tertiup angin dan menutupi wajahnya.
Sapu tangan itu beraroma bedak yang menyengat, membuat Nuobao bersin berkali-kali. Dengan tergesa-gesa, ia menarik sapu tangan yang menutupi wajahnya itu. Para wanita di atas kereta hias yang melihat kejadian itu pun sontak tertawa cekikikan.
Sang primadona kembang kota muncul sebagai penutup rangkaian acara. Kereta hiasnya ditutupi oleh kain kasa putih tipis di keempat sisinya. Sosoknya tampak samar dan misterius, seperti bunga di balik kabut. Alunan musik kecapi yang merdu terdengar, samar-samar memperlihatkan sosok anggun yang sedang memetik senar kecapi di dalam kereta.
Para pria yang menonton terpesona dan menjadi sangat bersemangat, mereka mulai berdesakan maju ke depan.
"Nona Lingyue, itu Nona Lingyue..."
"Nona Lingyue, lihatlah ke arahku!"
Nuobao, yang tubuh kecilnya bahkan belum mencapai pinggang orang dewasa, terombang-ambing di tengah desakan hingga hampir terjatuh ke tanah.
"Nuobao..." Mu Lianjing bersusah payah menerobos kerumunan dan menggenggam erat tangan mungil Nuobao. "Pegang tangan kakak erat-erat, jangan sampai hilang," pesan Mu Lianjing dengan nada serius.
"Iya," jawab Nuobao patuh. Namun, saat menoleh, ia menyadari bahwa Ling Xiao sudah tidak ada di sampingnya. Si kecil seketika panik dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Akhirnya, ia melihat Ling Xiao di sisi lain kerumunan.
"Kakak Tangyuan, di sini, di sini... Nuobao di sini..." Nuobao melompat-lompat kecil sambil melambaikan tangannya.
Si kecil tidak menyadari bahwa bahaya sedang mendekat. Ling Xiao, yang matanya tertuju pada Nuobao, mendadak berubah raut wajahnya saat melihat seorang pria bertopeng dengan niat jahat mendekati Nuobao dari belakang.
"Nuobao, awas!"
Nuobao secara refleks menoleh ke belakang. Begitu berbalik, seseorang menyiramkan serbuk putih tepat ke wajahnya. Tanpa sempat menghindar, Nuobao menghirup serbuk tersebut. Tak lama kemudian, kepalanya terasa pening dan pandangannya mulai kabur.
*Manusia licik ini... beraninya memakai cara curang dan menyerang secara diam-diam!*
Belum sempat pikiran itu tuntas, Nuobao jatuh pingsan. Setelah berhasil menjalankan aksinya, pria bertopeng itu melirik ke arah Ling Xiao yang sedang menerobos kerumunan dengan cepat.
Pria bertopeng itu tidak membuang waktu. Ia mengeluarkan karung yang telah disiapkan, memasukkan Nuobao ke dalamnya, lalu memanggulnya dan bergegas pergi.
"Lepaskan adikku!" Mu Lianjing yang berada di samping Nuobao turut menghirup sedikit obat bius tersebut. Ia menggelengkan kepalanya yang pening, namun tetap mencengkeram erat ujung pakaian pria bertopeng itu hingga detik terakhir sebelum ia kehilangan kesadaran.
Pria bertopeng itu terpaksa ikut mengangkatnya. "Sekali mendayung, dua pulau terlampaui," pikirnya sambil membawa keduanya sekaligus.
Khawatir Ling Xiao akan mengejar, pria bertopeng itu melemparkan segenggam perak ke tanah dan dengan cepat menghilang ke dalam kerumunan. Orang-orang di sekitar yang melihat perak tersebut langsung berebut, sehingga jalan Ling Xiao benar-benar terhalang.
"Minggir!"
Saat Ling Xiao berhasil keluar dari kerumunan, pria bertopeng itu sudah tidak terlihat lagi. Wajah tampan Ling Xiao menggelap seketika. Sepasang mata tajamnya menyisir kerumunan dan kebetulan melihat sosok pria bertopeng itu menghilang di tikungan jalan. Ling Xiao segera mengejarnya.
...
Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Nuobao samar-samar mendengar dua pria sedang bercakap-cakap dengan suara rendah.
"Apa yang harus kita lakukan dengan anak ini? Apakah benar-benar harus membunuhnya? Dia baru berusia tiga tahun..." suara pria itu terdengar ragu.
"Perintah sang Putri adalah untuk membunuhnya," jawab pria lainnya. "Jika kau tidak tega, lempar saja dia ke sungai. Toh, anak sekecil ini tidak akan selamat jika dibuang ke sungai. Kita tidak perlu mengotori tangan kita sendiri dan tugas tetap selesai."
Nuobao berpikir dalam tidurnya, *Putri? Putri siapa?* Satu-satunya Putri yang ia kenal hanyalah Su Linglong. *Apakah Su Linglong yang ingin membunuhku?*
Saat itu, kedua pria di luar telah sepakat untuk membuang Nuobao ke dalam air.
"Lalu bagaimana dengan bocah laki-laki ini? Pangeran kedelapan?" tanya pria pertama.
Rekan seperjalanannya menjawab, "Dia baru saja melihat wajahmu, tidak bisa dibiarkan hidup. Buang saja dia ke sungai bersama-sama."
"Baiklah."
Mendengar itu, Nuobao menggigit ujung lidahnya sekuat tenaga. Rasa sakit itu membuat kepalanya kembali sadar. Nuobao berusaha membuka mata dan menyadari bahwa di sekelilingnya gelap gulita; ia berada di dalam karung. Belum sempat ia melepaskan diri, ia merasakan tubuhnya terlempar.
*Byur!*
Nuobao merasakan dirinya jatuh ke dalam air yang dingin. Tak lama kemudian, air mulai masuk ke telinga dan hidungnya. Ia merasa tubuhnya terus tenggelam ke dasar sungai yang gelap. Jika orang lain yang mengalami ini, mungkin ia hanya bisa menunggu ajal, namun tidak dengan Nuobao. Ia adalah seekor ikan koi kecil.
Walaupun tubuhnya saat ini hanyalah manusia biasa, ia tetap merasa seperti ikan di air. Nuobao mengerahkan kekuatan spiritualnya dan menyobek karung itu hingga terbuka lebar. Tubuhnya yang mungil melesat keluar seperti ikan yang lincah.
Nuobao menendang-nendang untuk melepaskan diri dari karung yang membelit kakinya. *Benar, masih ada Kakak...*
Setelah bebas, Nuobao segera mencari keberadaan Mu Lianjing. Ia tahu dari percakapan para penjahat tadi bahwa kakaknya juga diculik. Dengan kekuatan spiritualnya, ia bisa selamat, tapi Mu Lianjing hanyalah manusia biasa. Jika ia tidak menolongnya, Mu Lianjing pasti akan tewas.
Nuobao mencari dengan cemas di dalam air. Akhirnya, tidak jauh dari posisinya, ia melihat sosok yang dikenalnya. Mu Lianjing terpejam rapat, tidak sadarkan diri, dan tubuhnya perlahan tenggelam ke dasar sungai yang dingin.
Nuobao berenang sekuat tenaga menuju arah Mu Lianjing. Meski tubuh manusianya tidak secepat wujud aslinya, ia berhasil meraih tangan Mu Lianjing sebelum kakaknya menyentuh dasar sungai.
"Kakak..." Nuobao membuka mulut dan hanya mengeluarkan gelembung-gelembung air.
Melihat Mu Lianjing yang sudah tidak sadarkan diri, Nuobao sangat cemas. Ia meniupkan gelembung besar dan mendorong Mu Lianjing ke dalamnya. Gelembung transparan itu membungkus tubuh Mu Lianjing seolah-olah menciptakan ruang terpisah yang melindunginya dari air sungai yang dingin.
Nuobao mengerahkan sisa kekuatannya untuk mendorong gelembung itu ke permukaan. Kakinya yang mungil bergerak cepat seperti ekor ikan, membawanya melesat ke atas dalam sekejap.
*Byur!*
Kepala Nuobao muncul ke permukaan air. Dengan segenap tenaga yang tersisa, ia menyeret Mu Lianjing ke tepian. Setelah berhasil, Nuobao merasa sangat lelah dan terbaring di atas rumput, bahkan untuk menggerakkan jari pun ia tak sanggup.
Mungkin efek obat bius tadi belum sepenuhnya hilang. Kepala Nuobao kembali terasa pening, matanya memberat, dan kesadarannya perlahan tenggelam dalam kegelapan.
Sesaat sebelum pingsan, Nuobao samar-samar mendengar suara derap kuda yang jelas. Ia berusaha membuka matanya sedikit dan melihat sosok yang duduk di atas punggung kuda, membelakangi cahaya. Orang itu mengenakan jubah hitam bersulam naga, duduk tegak dan menatapnya dengan tatapan merendahkan. Nuobao tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas, namun ia terhanyut dalam sepasang mata yang gelap dan dalam.