Bab 147: Reputasi Zhalim Sang Penguasa Runtuh di Tangan Nubaobao
Halaman (1/3)
Nuobao terkekeh geli sambil mengulurkan cakar kecilnya ke rambut Ayah.
Sebuah keluarga harus tampil seragam dan lengkap.
Semula si kecil ingin mengepang rambut Ayah menjadi kuncir yang menjulang ke atas, sama seperti miliknya.
Namun rambut hitam Mu Han terurai selembut air terjun, licin bak kain sutra.
Rambut itu sama sekali tidak bisa diikat.
Setelah mengutak-atiknya cukup lama, Nuobao akhirnya mengubah rencana dan membuat beberapa ikatan kecil di rambut Mu Han.
Masing-masing satu di kedua sisi kepalanya, sehingga tampak seperti sepasang tanduk naga.
Nuobao bermain dengan riang gembira.
Tepat saat itu, Jin Shan datang membawa urusan penting untuk dilaporkan.
Begitu melangkah masuk ke ruangan, ia langsung melihat pemandangan semacam itu.
Sang Kaisar Tiran menopang dahinya dengan satu tangan. Wajahnya dipenuhi keputusasaan, tetapi juga memancarkan sedikit kelembutan dan kasih sayang.
Ia membiarkan si kecil yang nakal di belakangnya mengacak-acak rambutnya sesuka hati.
Sama sekali tidak terlihat kewibawaan kejam dan bengis yang biasanya ia miliki.
Langkah Jin Shan tersandung, hampir saja ia terjerembap karena tersangkut ambang pintu.
Mendengar suara itu, ayah dan anak tersebut serempak menoleh.
Tatapan Nuobao dipenuhi rasa ingin tahu. Namun begitu melihat siapa yang datang, ia segera mengalihkan pandangannya.
Ia kembali menunduk dan dengan penuh semangat memainkan rambut sang Ayah Tiran.
Sementara itu, sang Tiran mengangkat mata indahnya dan menatap Jin Shan dengan sorot yang dalam serta dingin.
Tubuh Jin Shan bergetar. Ia buru-buru berkata, “Hamba tidak melihat apa pun!”
Setelah mengucapkannya, ia berbalik dan hendak pergi dengan ketakutan.
Dalam hati, ia tidak bisa menahan rasa hormatnya kepada sang Putri Kecil.
Berani sekali ia mencabut bulu dari kepala harimau!
Tampaknya kasih sayang Kaisar kepada sang Putri Kecil memang benar-benar sebesar yang dikabarkan.
Hanya saja…
Ia telah melihat sisi memalukan Yang Mulia seperti ini.
Jangan-jangan ia akan dibungkam?
“Ayah, sudah~”
Nuobao menepuk-nepuk tangannya dan memandangi hasil karyanya dengan puas.
Tugas besar telah selesai.
Setelah didandani oleh Nuobao yang terampil dan cekatan, sang Tiran kini memiliki banyak ikatan kecil di seluruh kepalanya. Di dekat telinganya bahkan tersemat sekuntum bunga begonia merah menyala.
Penampilannya ternyata terlihat sedikit… manis.
Mu Lianjing sedang dengan santai menggigit apel. Kuncir yang menjulang di kepalanya ikut bergoyang pelan.
Mendengar suara Nuobao, ia menoleh. Daging buah yang belum sempat ditelannya langsung menyembur keluar.
“Puh…”
Daging buah itu tanpa sengaja masuk ke tenggorokannya.
Mu Lianjing seketika terbatuk-batuk sampai hampir mati.
Namun semua itu masih tidak sebanding dengan guncangan yang ditimbulkan oleh penampilan Mu Han saat ini.
Jari-jari sang Tiran berderak ketika mengepal. Sorot matanya memancarkan bahaya, lalu ia melontarkan satu kata dengan suara sedingin es, “Pergi!”
Mu Lianjing segera menurut. “Baik, Ayahanda.”
Demi keselamatan nyawanya, ia pun segera menghilang.
Setelah berlari cukup jauh, Mu Lianjing akhirnya tak mampu menahan tawa. Ia tertawa terbahak-bahak sampai hampir tidak sanggup berdiri tegak.
Burung-burung di dahan pun terkejut dan mengepakkan sayap dengan panik sebelum terbang menjauh.
Hahahaha…
Ayahanda benar-benar lucu sekali!
Terutama bunga begonia merah di dekat pelipisnya.
Itu benar-benar sentuhan terakhir yang menyempurnakan penampilannya!
Walaupun gambaran itu sebenarnya sangat tidak pantas.
Namun saat membayangkan sosok Ayahanda yang biasanya tampak garang dan menakutkan di matanya…
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
…ia tak kuasa menahan diri untuk membayangkan seekor Raja Iblis Kerbau dengan bunga merah besar di atas kepalanya.
Seketika ia tertawa sampai hampir kehabisan napas.
Di dalam ruangan.
Nuobao mengambil sebuah cermin kecil dan meletakkannya di hadapan Mu Han.
“Ayah, bagus tidak?”
Si kecil jelas sangat puas dengan hasil karyanya dan ingin mendapatkan pengakuan darinya.
Mu Han menatap bayangan dirinya di cermin dengan dandanan yang sungguh tidak pantas itu, lalu terdiam lama.
Sang Tiran membisu. Suhu di sekelilingnya turun drastis dan menjadi semakin dingin.
Namun ketika ia menoleh, ia melihat Nuobao sedang menatapnya dengan penuh harap. Mata bulatnya yang sebening anggur dipenuhi penantian.
Sang Tiran hanya bisa memaksakan dua kata dingin keluar dari sela bibirnya, “Bagus. Cantik.”
“Hehehe.”
Nuobao langsung tersenyum merekah.
Begitu si kecil merasa senang, segala kejadian sebelumnya ia lupakan begitu saja, termasuk kenyataan bahwa ia masih marah kepada Ayah.
Wajah sang Tiran yang semula muram dan kelam perlahan melunak.
Saat melihat Nuobao tersenyum seperti sekuntum bunga, sudut bibirnya pun tanpa sadar ikut terangkat.
Sudahlah.
Asalkan si kecil ini bahagia dan tidak lagi membuat keributan, itu sudah cukup.
Toh, tidak ada seorang pun di sini yang melihat.
Namun—
Sang Tiran tidak tahu bahwa berkat Jin Shan dan Mu Lianjing yang bermulut lebar, kejadian itu segera tersebar setelah mereka pergi.
Dari satu orang menjadi sepuluh, lalu dari sepuluh menyebar ke seratus.
Kabar itu semakin lama semakin dilebih-lebihkan.
Pada awalnya, yang beredar hanyalah bahwa sang Tiran mengenakan sekuntum bunga di dekat pelipisnya dan tampak seperti perempuan cantik.
Namun setelah terus diceritakan, kabar itu berubah menjadi bahwa sang Tiran adalah seorang pria yang gemar mengenakan pakaian wanita!
Bukan hanya menyukai pakaian merah, ia bahkan ingin menjadi perempuan cantik.
Begitulah rumor tercipta.
Reputasi Mu Han sepanjang hidupnya…
Dapat dikatakan hancur di tangan putri kandungnya sendiri.
*
Setelah beristirahat semalam di rumah singgah, Nuobao terbangun keesokan harinya dan kembali melanjutkan perjalanan.
Kali ini, sang Tiran memerintahkan agar mereka terus melaju siang dan malam tanpa berhenti.
Setelah tiga hari dua malam, mereka semakin dekat dengan ibu kota.
Mungkin satu atau dua hari lagi, mereka sudah bisa tiba di sana.
Hati Nuobao sudah lebih dulu terbang menuju istana.
Malam itu, mereka mendirikan perkemahan di tepi sebuah sungai kecil.
Mereka beristirahat di tempat selama semalam dan akan melanjutkan perjalanan pulang ke ibu kota keesokan harinya.
Bulan bersinar terang di langit yang bertabur bintang. Bara api berderak dan menyala.
Nuobao tidur di dalam tenda khusus milik Ayah.
Si kecil sedang terlelap ketika tiba-tiba terbangun oleh suara gaduh.
“Ada pembunuh!”
“Cepat, lindungi Yang Mulia!”
Teriakan keras itu berhasil mengusir seluruh rasa kantuk Nuobao.
Pembunuh?
Si kecil langsung membuka mata. Namun ia tidak menemukan sosok Ayah di dalam tenda.
Dari luar terdengar suara bentrokan dan pembantaian.
Dari keributan itu saja sudah jelas bahwa keadaan di luar sangat kacau.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Wajah Nuobao dipenuhi kecemasan.
Ayah pergi ke mana?
Si kecil khawatir sesuatu terjadi pada Ayah. Namun keadaan di luar sedang kacau, sementara kekuatan spiritual Nuobao belum pulih sepenuhnya.
Setelah mengalami kejadian dengan Raja Chen, Nuobao tidak berani berlari sembarangan lagi.
Bagaimana jika ia ditangkap musuh dan dijadikan sandera untuk mengancam Ayah?
Meskipun Nuobao sudah gelisah seperti semut yang terpanggang di atas wajan, dan sangat mencemaskan Ayah serta Kakaknya, ia hanya bisa menahan diri dan tetap patuh berada di dalam tenda.
Namun…
Sesuatu yang tidak terduga jatuh dari langit.
Tiba-tiba, sebatang anak panah berapi melesat masuk ke dalam tenda.
Dalam sekejap, kain tenda terbakar, dan api segera menjalar ke seluruh bagian.
Nuobao: …
Kali ini, Nuobao tidak punya pilihan selain segera berlari keluar.
Kalau tetap tinggal, ia akan dipanggang menjadi ikan gosong!!
Asap tebal membuat mata Nuobao hampir tidak bisa dibuka.
Si kecil menyipitkan mata dan berlari keluar dengan wajah serta tubuh penuh jelaga.
Di luar, dua kelompok pasukan sedang bertempur sengit. Pemandangannya penuh darah dan kekacauan.
Mayat bergelimpangan, darah mengalir di mana-mana.
Mata Nuobao terus berair akibat asap pekat.
Dengan mata berkaca-kaca, si kecil menundukkan kepala dan berlari menerobos keluar.
Nuobao berkedip kuat-kuat. Dalam pandangannya yang kabur, ia melihat sosok tinggi berpakaian hitam, dengan bahu lebar dan pinggang ramping.
“Ayah—”
Sambil berteriak, si kecil berlari tertatih-tatih ke arahnya.
Kalau sudah sampai di sisi Ayah, ia pasti aman.
Seorang pembunuh yang sedang bertarung dengan sekuat tenaga tiba-tiba dipeluk pahanya. Ia langsung tertegun.
Ketika menunduk, ia melihat seorang anak kecil berwajah kotor penuh jelaga yang memanggilnya dengan suara cadel, “Ayah!”
Pembunuh itu sempat tertegun, lalu tersenyum bengis.
Nuobao berusaha membuka matanya lebar-lebar. Dengan air mata yang menggenang, akhirnya ia dapat melihat wajah asing yang sebelumnya tampak samar.
Oh, tidak!
Si kecil sontak pucat karena terkejut.
Nuobao sepertinya lagi-lagi salah mengenali Ayah!
Nuobao segera berbalik dan hendak melarikan diri.
Namun sang pembunuh menyeringai. Ia mengangkat pedang panjang di tangannya dan menebaskannya ke arah Nuobao.
Nuobao bergerak lincah berkelok-kelok seperti ular dan berhasil menghindari tebasan itu tanpa cedera.
Pembunuh tersebut masih hendak memanfaatkan kesempatan untuk membunuh si kecil.
Pada saat berikutnya, sebilah pedang panjang menembus dadanya.
Nuobao mendongak dan melihat topeng iblis berwajah biru dengan taring panjang yang dikenakan oleh Raja Perang.
Pertempuran di tempat itu terlalu kacau, sehingga Nuobao untuk sementara tidak dapat menemukan sosok Ayah.
Hanya topeng khas Raja Perang yang mudah dikenali.
Si kecil segera mengambil keputusan dan kembali memeluk pahanya.
Kali ini pasti tidak mungkin salah lagi, bukan?
Ia memang tidak dapat mengenali Ayah, tetapi ia mengenali topeng Raja Perang!
Setelah membereskan pembunuh itu, sorot mata Raja Perang tampaknya dipenuhi keputusasaan.
Mengapa si kecil ini terus-menerus salah mengenali Ayahnya!
“Ikuti aku baik-baik,” katanya sambil mengingatkan dengan nada khawatir.
“Hmm!”
Nuobao mengangguk kuat-kuat.
Seperti ekor kecil, ia mengikuti Raja Perang langkah demi langkah.
Halaman (3/3)