Bab 119: Bagaimanapun Caranya, Nuobao Harus Direbut Kembali
"Tuan Putri Kecil, mari ikut hamba ke sini."
Atas isyarat Ibu Suri, Bibi Xiuyun membawa Nuobao ke ruangan dalam. Selir Agung Su yang merasa cemas luar biasa tidak bisa menahan diri untuk ikut masuk. Ia harus melihatnya dengan mata kepala sendiri agar hatinya tenang. Nuobao meliriknya sekilas tanpa memedulikannya. Si kecil itu terus bergumam dalam hati. Nuobao sendiri saja tidak tahu kalau ia memiliki tanda lahir, bagaimana mungkin Selir Agung Su bisa mengetahuinya? Jangan-jangan ini hanya akal-akalan untuk menipu anak kecil?
Bibi Xiuyun melepaskan pakaian luar Nuobao, menyisakan si kecil dengan pakaian dalam berbahan sutra putih. Saat ujung baju diangkat, perut kecil yang putih dan empuk pun terlihat. Nuobao menoleh sedikit, berusaha keras memutar tubuhnya untuk melihat pinggang bagian belakangnya. Di balik kulit yang halus dan putih bersih itu, benar-benar muncul semburat warna merah. Nuobao menjulurkan lehernya ke belakang hingga nyaris terkilir. Akhirnya, ia bisa melihatnya dengan jelas.
Di pinggang bagian belakangnya memang ada sebuah tanda lahir. Tanda itu persis seperti yang dikatakan Selir Agung Su. Tanda lahir berwarna merah yang bentuknya menyerupai seekor ikan koi. Sekilas, tampak seolah-olah ada seekor ikan koi merah yang terukir di pinggangnya.
"Eh—" mata Nuobao membelalak terkejut. Ternyata benar-benar ada!
Tiba-tiba, ia merasakan tatapan tajam yang sulit diabaikan tertuju padanya. Nuobao secara naluriah mendongak dan seketika pandangannya beradu dengan tatapan Selir Agung Su. Selir Agung Su menatap lekat-lekat pada tanda lahir di tubuh Nuobao.
"Benar, ternyata benar ada..." gumamnya lirih. Sepasang mata phoenix yang cantik itu perlahan berkaca-kaca. Jika sebelumnya Selir Agung Su hanya menduga-duga dan hatinya selalu diliputi ketidakpastian, kini setelah melihat tanda lahir Nuobao yang persis sama dengan yang ada di mimpinya, Selir Agung Su akhirnya yakin. Nuobao adalah putrinya!
Tatapan Selir Agung Su yang terlalu intens membuat Nuobao terkejut. Ia segera menurunkan pakaiannya dan menatapnya dengan waspada menggunakan mata besarnya yang jernih.
"Nuobao." Hati Selir Agung Su terasa perih. Air mata tak terbendung jatuh membasahi pipinya dengan suara yang tersendat. "Aku adalah ibumu... Aku adalah ibu kandungmu..."
Selir Agung Su begitu emosional hingga kehilangan kendalinya. Ia melangkah maju, ingin mendekap Nuobao dalam pelukannya, memeluk putrinya yang telah kembali setelah sekian lama. Sayangnya, Nuobao tidak memberinya kesempatan. Seperti ikan kecil yang lincah, Nuobao memutar tubuh dan bersembunyi di balik punggung Bibi Xiuyun, hanya menyisakan sepasang mata bulat yang mengintip ke arahnya.
Lengan Selir Agung Su yang terulur terhenti kaku di udara. Hatinya terasa perih, menatap Nuobao dengan tatapan terluka. Selir Agung Su tidak berani berharap Nuobao bisa menerimanya secepat itu, namun tindakan Nuobao yang menghindarinya tetap melukai hatinya secara mendalam.
...
"Melapor kepada Baginda Kaisar dan Ibu Suri, di pinggang bagian belakang Tuan Putri Kecil memang terdapat tanda lahir yang persis sama dengan deskripsi Selir Agung," lapor Bibi Xiuyun dengan lembut.
Mendengar hal itu, Permaisuri tertegun. Di dalam hatinya tiba-tiba muncul rasa panik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hal yang selama ini ia khawatirkan akhirnya terjadi. Ibu kandung Nuobao telah muncul, dan orang itu adalah Selir Agung Su.
Nuobao berlari kecil dan segera didekap oleh Muhan. Si kecil itu merangkul leher sang ayah, lalu berbisik di telinganya. "Ayah, Nuobao tidak menyukainya, jangan biarkan Nuobao pergi bersamanya."
"Baik." Meskipun Selir Agung Su adalah ibu kandung Nuobao, selama si kecil tidak menginginkannya, Muhan tidak akan memaksanya.
Nuobao mengira suaranya pelan, padahal ucapannya terdengar jelas oleh semua orang yang hadir, termasuk Selir Agung Su. Hati Selir Agung Su terasa seperti ditusuk jarum. Ia memandang Muhan, namun mendapati sang kaisar lalim itu justru menunjukkan ekspresi yang sangat memanjakan. Jelas sekali bahwa jika Nuobao tidak menginginkannya, ia tidak akan memaksa.
Selir Agung Su panik. "Nuobao, aku adalah ibumu, ibu kandungmu..." Ia memaksakan sebuah senyuman, "Cepat, kemarilah ke pelukan Ibu."
"Tidak." Nuobao tetap merangkul leher ayahnya dan menggeleng. "Kamu bukan ibuku, Nuobao sudah punya ibu." Sambil berkata demikian, si kecil menatap ke arah Permaisuri. Permaisuri adalah sosok ibu yang dipilih sendiri oleh Nuobao.
Permaisuri yang tadinya merasa gelisah, kini hatinya perlahan tenang setelah melihat tatapan Nuobao yang penuh ketergantungan dan kasih sayang. Ia pun tak kuasa menahan senyum lembutnya. Pemandangan itu terlihat oleh mata Selir Agung Su dan melukai perasaannya dengan dalam. Itu adalah putrinya! Sekarang, tidak hanya tidak mau dekat dengannya, putrinya malah mengakui wanita lain sebagai ibu. Terlebih lagi, wanita itu adalah Permaisuri. Sudah cukup Permaisuri merebut posisi permaisuri darinya dulu, sekarang apakah ia juga harus merebut putrinya?
Mata Selir Agung Su memerah, emosinya sudah di ambang batas dan sulit untuk tetap tenang. "Kamu adalah putriku! Aku adalah ibumu!" ucapnya dengan nada yang emosional.
Selir Agung Su menyesal. Ia tahu bahwa dulu ia salah, tidak seharusnya ia memperlakukan Nuobao seperti itu dan selalu mengincar si kecil. Namun sekarang ia sudah sadar dan ingin menebus kesalahannya, tetapi Nuobao tidak memberinya kesempatan. Hal ini membuat Selir Agung Su merasa sangat menderita dan tak berdaya.
"Apa yang harus kulakukan agar kamu bisa memaafkanku?" Ujung mata Selir Agung Su memerah, menatap Nuobao dengan mata berkaca-kaca. Ia tampak begitu rendah hati. Nuobao belum pernah melihatnya seperti ini. Dulu, Selir Agung Su selalu bersikap angkuh, menatapnya dengan penuh kesombongan dan kebencian. Ia selalu terang-terangan menunjukkan niat jahatnya kepada Nuobao. Namun sekarang, sosok Selir Agung Su yang memohon dengan pilu tampak begitu menyedihkan. Meski begitu, Nuobao tetap tidak ingin pergi bersamanya. Walaupun tahu Selir Agung Su adalah ibu kandungnya, Nuobao tetap tidak bisa merasa sedekat itu kepadanya seperti kepada Permaisuri.
"Cukup," potong Muhan dengan suara berat. "Karena aku telah menyerahkan Tuan Putri untuk diasuh oleh Permaisuri, maka mulai sekarang Permaisuri adalah ibunya."
Kalimat itu telah menunjukkan pendirian Muhan. Selama Nuobao tidak menginginkannya, Selir Agung Su tidak akan pernah bisa membawanya pergi. Permaisuri merasa lega di dalam hatinya.
Selir Agung Su merasa hatinya seperti disayat sembilu, kukunya menancap dalam ke telapak tangannya. Namun, rasa sakit itu tak sebanding dengan kepedihan di dalam hatinya. "Baik, hamba... mengerti." Selir Agung Su berusaha keras menekan emosinya.
Mendengar itu, Nuobao diam-diam menghela napas lega. Muhan menunduk menatapnya, lalu menyentuh pipi lembut Nuobao. Sekali tekan, pipinya membentuk lesung pipit kecil, lembut seperti adonan tepung. Sang kaisar seolah kecanduan, ia terus menyentuhnya dengan penuh minat.
"Sebenarnya kamu ini makhluk apa?" Menurut perkataan bidan yang membantu persalinan saat itu, anak Selir Agung Su seharusnya sudah berubah menjadi cahaya putih dan menghilang. Namun kini, Nuobao justru menjadi putri Selir Agung Su. Bukankah terlalu banyak misteri yang menyelimuti si kecil ini?
Nuobao dengan marah menepis tangan sang kaisar, "Nuobao bukan makhluk apa-apa!"
"Haha." Muhan tidak bisa menahan tawa kecilnya. Bahkan Kasim De pun tak mampu menahan senyum. Begitu mendengar itu, Nuobao sadar ia kembali terjebak oleh ayahnya yang nakal. Si kecil merasa kesal, ia membalikkan badan dengan gerutu dan merajuk sendirian.
...
Selir Agung Su akhirnya gagal membawa Nuobao pergi. Setelah meninggalkan Istana Funing, ia terus memasang wajah masam dan tampak penuh beban pikiran.
"Yang Mulia..." Taoxing ingin mengatakan sesuatu namun ragu, ekspresinya tampak rumit. Ia tidak menyangka situasi akan berkembang seperti ini. Nuobao ternyata adalah putri yang hilang dari Selir Agung Su bertahun-tahun lalu. Bukankah sudah terlalu terlambat bagi Selir Agung Su untuk menyadarinya sekarang? Bagaimanapun, semua orang bisa melihat bahwa Nuobao tidak menyukainya, bahkan sangat menolaknya.
Namun, Selir Agung Su tidak mau menyerah begitu saja. Apa pun yang terjadi, ia harus merebut kembali Nuobao. Tatapan tajam melintas di mata Selir Agung Su. Sekalipun Nuobao tidak mau mengakuinya, ia tidak akan membiarkan putrinya memanggil orang lain sebagai ibu. Mengenai siapa ibu kandung Nuobao di kehidupan ini, hal itu tidak menjadi pertimbangan Selir Agung Su untuk saat ini. Dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah muncul itu, orang yang paling dibenci Selir Agung Su saat ini adalah Permaisuri. Jika bukan karena Permaisuri, meskipun Nuobao menolaknya, si kecil tidak akan sampai tidak mengakui dirinya sebagai ibu.