Bab 47
Kabar pernikahan Putra Mahkota segera diumumkan ke seluruh negeri, dengan hari pernikahan yang ditetapkan pada bulan Mei.
Untuk urusan pernikahan Putra Mahkota, Departemen Rito telah lama membuat persiapan yang matang, segala sesuatunya telah siap dan hanya kurang sepasang mempelai saja. Meskipun demikian, bagian dalam maupun luar istana tetap sibuk tiada henti, berupaya agar setiap detail selama proses pernikahan berlangsung sempurna tanpa cela.
Pikiran semua orang tersita sepenuhnya pada urusan pernikahan Putra Mahkota, sehingga Festival Shangsi pada tanggal tiga bulan tiga tahun ini tidak semeriah dan seheboh tahun-tahun sebelumnya.
Tanggal tiga bulan tiga adalah salah satu dari sedikit hari dalam setahun yang tidak memberlakukan jam malam. Pada hari ini, orang-orang dapat menikmati kesenangan sepanjang malam sepuasnya seperti pada Festival Lampion.
Atas ajakan Kangle, Baoluan pergi untuk menghadiri jamuan tamasya Festival Shangsi.
Sejak jamuan malam Hari Tahun Baru, ini adalah pertama kalinya Baoluan bertemu Kangle tahun ini. Ia merasa sedikit canggung, tidak santai seperti sebelumnya.
Kangle menariknya ke dalam pelukan dan berkata sambil tersenyum, "Kenapa, setelah memiliki gelar kehormatan dan tanah perdikan, kau jadi tidak mengakui bibimu ini?"
Barulah Baoluan merasa tenang dan bersandar di bahu Kangle, lalu berbisik, "Mana ada."
Kangle menggoda, "Kau dan bocah itu telah merebut seorang juara ketiga ujian istana dariku, aku bahkan belum memperhitungkannya dengan kalian."
Baoluan mendongak: "Dari mana perkataan ini berasal?"
Kangle menceritakan kepada Baoluan bagaimana ia awalnya telah mengincar sang juara ketiga ujian istana dan berniat menjadikannya staf penasihat, namun ditolak secara halus. Kangle mendengus pelan sambil mencubit ujung hidung Baoluan, "Kau masih begitu muda, tapi sudah mulai membina staf penasihat?"
Baoluan merasa dirugikan: "Bibiku tahu sendiri, aku tidak mengerti urusan semacam ini."
Pembicaraan Kangle bergeser dengan nada yang sulit ditebak, "Bukan kau, lalu bocah itu? Baru berapa lama ia menjadi pangeran, tapi sudah menaruh pikiran pada hal-hal semacam ini?"
Baoluan secara spontan melindungi Bange dan buru-buru meralat ucapannya, "Aku, akulah yang merekrut juara ketiga ujian istana itu. Aku melihatnya berpenampilan elok, jadi aku ingin membiarkannya bekerja untukku."
"Pekerjaan apa?"
"Ya... ya pekerjaan itu, mencarikan kabar-kabar terbaru di Chang'an untukku, mengajariku cara mengambil hati Ayahanda, dan semacamnya."
Kangle mengelus tangan kecil Baoluan, "Baiklah, tidak menggertakmu lagi, aku tahu bocah itu yang merebut orang tersebut. Dia bahkan bisa membuat seseorang membiarkan wajahnya babak belur demi mengabdi padanya, kemampuan semacam ini tidak bisa dipelajari oleh orang biasa."
Baoluan menangkap tersirat di balik perkataan Kangle, namun ia tidak berpikir terlalu jauh. Ia mengamati raut wajah Kangle dengan seksama lalu bertanya untuk menguji, "Apakah Bibiku merasa itu hal yang baik, atau tidak baik?"
Kangle balik bertanya, "Menurut Xiaoshan, itu hal yang baik, atau tidak baik?"
Baoluan tertegun, setelah berpikir dengan serius, ia menyadari dirinya tidak bisa menjawab.
Ia tidak pernah memikirkan apakah itu baik atau tidak baik, ia hanya merasa Bange sangat hebat karena memiliki kemampuan.
Saat Bange menjadi budak pendamping, ia sudah tahu bahwa pemuda itu adalah orang yang memiliki ambisi. Tidak ada yang salah dengan hal itu, setiap orang pasti memiliki pengejaran hidup. Kini setelah ia menjadi seorang pangeran, ambisinya tentu akan jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Kata-kata yang diucapkannya hari itu masih terngiang di telinganya, ia telah berkata bahwa ia akan menjadi kuat.
Ia melatih dirinya hingga bermandi keringat di lapangan bela diri, membaca buku-buku dan pengetahuan yang belum pernah ia pelajari hingga larut malam, dengan cepat membaur dengan cara bergaul para kaum bangsawan terpandang serta memperluas relasi ke seluruh penjuru Chang'an. Ia cerdas, tekun, tangguh, serta berani, dan akan memperjuangkan apa pun yang diinginkannya. Baoluan percaya, seperti yang ia katakan, pemuda itu pasti akan menjadi kuat.
Permaisuri tidak akan memberikan secuil pun kekuasaan kepada Bange, ia harus mengandalkan dirinya sendiri untuk segalanya. Baoluan merasa dirinya tidak memiliki kualifikasi untuk menilai apakah hal-hal yang dilakukan Bange itu baik atau tidak baik.
Di hadapan Kangle, Baoluan menggunakan berbagai cara untuk membela Bange, tidak meminta Kangle untuk menarik Bange, melainkan hanya memohon agar Kangle tidak meninggalkan kesan buruk terhadap Bange.
Bibi dan keponakan itu duduk di meja utama, berbicara dan tertawa bersama, sementara para tamu di bawah memiliki pemikiran yang berbeda-beda.
Jamuan tamasya yang diadakan oleh Kangle selalu didominasi oleh tamu perempuan. Namun hari ini berbeda, tamu laki-laki di jamuan tersebut menduduki sebagian besar tempat, dan kebanyakan dari mereka adalah para pemuda yang berada di usia layak menikah.
Setelah kabar pernikahan Putra Mahkota dirilis, pandangan orang-orang bergeser dari Putra Mahkota ke para pangeran dan putri lainnya.
Meskipun pernikahan pangeran kedua dan pangeran ketiga tidak se-menarik perhatian pernikahan Putra Mahkota, mereka tetap tidak perlu khawatir kesulitan mencari pasangan.
Pangeran keempat adalah seorang yang kurang akal dan bukan anak yang dilahirkan oleh permaisuri, sehingga siapa pun yang mendapatkan pertunangan ini akan bernasib malang.
Adapun pangeran keenam yang baru saja 'muncul', tidak perlu terburu-buru, amati dulu selama dua tahun barulah diputuskan.
Pernikahan para pangeran telah diperhitungkan dengan sangat jelas oleh orang-orang, maka para putri tentu saja juga harus ditimbang dengan matang.
Putri sulung sama sekali tidak memiliki kehadiran, tidak disayangi ibu dan dibenci ayah, hanya menyandang status putri tanpa ada keuntungan apa pun yang bisa dibicarakan, sehingga tidak dipertimbangkan.
Dua putri yang tersisa: putri kedua memiliki sifat yang manja dan arogan, namun ia memiliki ibu seperti permaisuri, dan musim panas tahun depan akan menjalani upacara kedewasaan, pasti banyak orang yang ingin menjadi suami sang putri, jadi mereka harus bersiap lebih awal.
Putri ketiga tidak perlu disebutkan lagi, kecantikannya luar biasa tiada tara dan diidamkan oleh banyak orang. Meskipun bukan keturunan darah dari marga Li, ia sangat disayangi oleh Sang Kaisar. Jika ingin menjadi suami sang putri, seseorang harus bergerak lebih dulu untuk mendahului yang lain.
Sejak setelah tahun baru, Li Yunxiao telah didatangi oleh banyak putra bangsawan yang datang menunjukkan perhatian dan merayunya dengan berbagai cara yang tiada habisnya. Terutama sejak kabar pernikahan Putra Mahkota terungkap, ia semakin dipuja dan dikejar orang.
Sementara itu, para pemuda yang mengagumi Baoluan jumlahnya berlipat-lipat ganda melebihi Li Yunxiao.
Sejak kecil, Baoluan telah menjadi sosok yang dipasangi harapan oleh banyak orang. Semua orang menunggu untuk melihat seperti apa kecantikan sang putri setelah ia dewasa. Setelah menanti sekian tahun lamanya, akhirnya mereka dapat melihatnya tumbuh dewasa. Seperti yang dibayangkan oleh semua orang, kemilau menyilaukan dari Mutiara Kekaisaran ini sangatlah mengagumkan. Sebuah tarian spontan di jamuan istana saja sudah cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya bertekuk lutut.
Status yang mulia, perangai yang terasing dari dunia fana, dan kecantikan yang memukau—ketiga hal ini bersatu, bagaimana mungkin tidak membuat orang-orang menjadi tergila-gila?
Bahkan jika Baoluan mengabaikan mereka, bahkan tanpa memberikan sepatah pandangan dan langsung mendiami mereka secara terang-terangan, sekelompok pemuda bangsawan muda ini tetap mengerahkan segala cara untuk mendekat.
Mendengar bahwa Baoluan akan menghadiri jamuan tamasya keluarga Cui hari ini, para pemuda tersebut menggunakan berbagai kemampuan sakti untuk mendapatkan kualifikasi menghadiri jamuan. Sang putri kecil duduk di singgasana teratas, alangkah indahnya jika bisa berbicara sepatah dua patah kata dengannya.
Baoluan bersumpah, ia tidak pernah memperlakukan siapa pun sedingin ini sebelumnya. Hanya saja tatapan mereka terlalu membara, sehingga ia terpaksa memasang raut wajah yang angkuh dan acuh tak acuh untuk menolak antusiasme mereka.
Kangle memuji dari samping, "Benar, memang seharusnya bersikap seperti ini. Bukankah seorang putri yang mulia adalah sosok yang bisa diidam-idamkan oleh sembarang orang? Orang-orang yang mundur hanya karena sedikit perlakuan dingin, bahkan tidak memenuhi syarat untuk mengambil hatimu."
Baoluan berkata, "Ibu Pengasuh juga berkata begitu. Ia menyuruhku untuk tidak memandang orang lain secara langsung, agar tidak direpoti dan diganggu."
Kangle memasang ekspresi dingin dan arogan agar ditiru oleh Baoluan, lalu berpesan kepadanya, "Kulit muka pria setebal tembok, jika kau terlalu baik, mereka hanya akan semakin menjadi-jadi."
Baoluan meniru gerak-gerik itu, meskipun hatinya masih merasa bingung dan belum sepenuhnya mengerti.
Saat meninggalkan jamuan tamasya, meskipun ada para pengawal yang membukakan jalan, hal itu tetap tidak mampu meredam antusiasme para pemuda.
Pada malam perayaan lampion Festival Shangsi, setiap orang ingin menikmati malam di Chang'an bersama Baoluan.
Baoluan duduk di dalam kereta, sementara dayang dengan cemas membuka sedikit tirai jendela lalu berkata, "Putri, jalan di depan macet total dan tidak bisa dilewati."
Baoluan merasa khawatir: "Ganti rute lain?"
Dayang menjawab: "Jalannya benar-benar padat selangkah pun tidak bisa bergerak, tidak bisa diganti."
Baoluan mau tidak mau berkata: "Kalau begitu, tunggulah sebentar. Para prajurit patroli militer dengan sendirinya akan melancarkan jalan."
Begitu kereta berhenti, para pemuda yang mengejar dari belakang langsung mengepung sekelilingnya.
"Putri, malam ini adalah malam yang indah, aku mendapatkan sebuah lampion langka yang ingin kupersembahkan kepada Putri. Entah apakah aku cukup beruntung bisa menikmati malam bersama Putri?"
"Putri, aku juga memiliki lampion langka untuk dipersembahkan, ini adalah harta karun yang dibawa dari seberang lautan timur. Aku tidak meminta untuk menemani Putri berkeliling, hanya memohon agar Putri berkenan menerima lampion ini."
"Aku juga punya lampion..."
"Aku juga punya..."
Suara para pemuda bersahut-sahutan silih berganti. Baoluan seketika merasakan ilusi seolah-olah ia sedang dikelilingi oleh seratus ekor bebek.
Baoluan menutup telinganya, berpikir tanpa berdaya: Menjadi dewasa sungguh tidak menyenangkan.
Dulu ia juga disukai banyak orang, tetapi tidak pernah merasa serpot ini sebelumnya.
Kekaguman para pemuda benar-benar sangat merepotkan.
Saat itu senja mulai menjelang, jalanan dipenuhi dengan dekorasi lampion berwarna-warni, dan setiap orang tertawa ceria.
Sebuah kereta berkuda yang megah terparkir di tengah jalan lebar yang dipadati oleh kerumunan manusia. Di depan dan di belakang kereta terdapat para pemuda bangsawan muda berbusana sutra mewah. Para pemuda itu berdiri di bawah kereta sambil menjinjing lampion di tangan mereka, dengan tatapan membara menantikan sang dewi di dalam kereta berkenan membuka tirainya.
Para pengawal tidak dapat menghentikan dan tidak berani menghentikan langkah penuh antusias para pemuda tersebut. Para pemuda itu semuanya berasal dari keluarga terpandang yang berkuasa; kecuali ada perintah dari sang putri, kalau tidak, siapa yang berani bertindak kasar?
Kereta terparkir selama setengah paruh waktu, tiba-tiba suara derap kuda yang menggelegar terdengar dari arah depan.
Di dalam sisa pendar matahari terbenam, seorang pemuda berjubah merah merespons dengan berkuda kencang, bagaikan sebuah panah tajam yang membelah kerumunan orang yang berdesakan.
Para pemuda melihat dengan jelas siapa yang datang, dan rona wajah mereka seketika berubah.
Suasana di sekeliling mendadak senyap. Baoluan melepaskan tangannya yang menutupi telinga. Di dalam bidang pandangannya, tirai kereta disibak dengan kasar, wajah tersenyum arogan Qi Miaozhi mendekat—
"Xiaoshan, mari bertamasya malam denganku."
Baoluan mengeluarkan pekikan terkejut, lalu ditarik keluar dari dalam kereta oleh Qi Miaozhi.
Beberapa pemuda ingin maju ke depan, tetapi Qi Miaozhi langsung mengibaskan cambuknya ke udara.
"Enyah sana! Kalian ini makhluk apa, berani-beraninya menghalangi jalanku?"
Ketika orang-orang sadar kembali, Qi Miaozhi telah membawa Baoluan pergi dengan menunggang kuda jauh-jauh.
Suara derap kuku kuda yang bertalu-talu mengejutkan banyak pejalan kaki.
Baoluan terpaksa menaiki kuda yang sama dengan Qi Miaozhi. Ia memberontak dan memukul punggung pemuda itu, "Kau perampok liar! Cepat turunkan aku!"
Kedua lengan Qi Miaozhi dengan erat mendekap Baoluan dari belakang, "Kau sedang memarahi siapa perampok liar? Hati-hati aku melemparmu jatuh ke bawah."
Suara angin berdesing di dekat telinganya, membuat Baoluan menciutkan diri.
Meskipun ia tahu pemuda itu tidak akan melemparkannya jatuh, ia tetap merasa takut secara tidak sengaja.
Suaranya mengecil: "Perampok liar, aku memang memarahi dirimu."
"Tanpa perampok liar sepertiku ini, bagaimana bisa kau melepaskan diri barusan?" Qi Miaozhi berpura-pura melonggarkan tangannya.
Baoluan sangat takut terjatuh, sehingga ia buru-buru mencengkeram lengan pemuda itu.
Qi Miaozhi tertawa, "Nah, begitulah baru benar. Pegangan yang erat, kalau jatuh aku tidak akan menyelamatkanmu."
Baoluan langsung berkata tanpa berpikir, "Kau pasti akan menyelamatkanku."
Qi Miaozhi tertegun sejenak, mendengus keras, dan senyuman di sudut bibirnya semakin melebar. Ia memacu kudanya lebih cepat lagi, melintasi pasar yang ramai bagaikan tanpa ada orang lain, bebas keluar masuk sesuka hati.
Baoluan memintanya untuk melambatkan laju kuda, tetapi Qi Miaozhi berkata, "Melambatkan apa?"
Lalu, desiran angin kencang berangsur-angsur mereda, dan kuda tersebut berjalan dengan santai serta pelan.
Baoluan merasa heran: "Padahal jalanan tadi macet total tidak bisa dilewati, bagaimana bisa begitu kau datang, jalannya langsung lancar sepenuhnya?"
Qi Miaozhi meniup telinga Baoluan, "Karena aku adalah Qi Cuo."
Baoluan memberengutkan bibirnya.
Qi Miaozhi menyelipkan cambuk ke tangan Baoluan, "Lain kali jika ada orang yang menghalangi jalanmu lagi, tiru aku mencambuk mereka, dengar tidak?"
Baoluan sama sekali tidak menginginkan cambuknya itu, gagang cambuknya penuh dengan keringat pemuda tersebut. Dengan rasa jijik, ia menyekannya ke pakaian pemuda itu, "Orang-orang mengagumiku, bagaimana bisa aku memukul orang? Cukup diabaikan saja."
Nada bicara Qi Miaozhi terdengar dingin dan tajam, "Apakah mengabaikan orang itu ada gunanya? Kalau ada gunanya, apakah kau masih akan dikepung orang hingga tidak bisa melangkah? Jika kau tidak mau memukul, biar aku yang memukul. Mulai sekarang aku akan memukul setiap kali aku melihat satu orang, lihat siapa lagi yang berani mendekatimu."
Baoluan berkata dengan marah, "Tidak boleh menggunakan namaku untuk memukul orang! Aku masih harus mencari suami nanti!"
Wajah Qi Miaozhi menjadi muram dan ia tidak berbicara.
Setelah terdiam beberapa saat, Baoluan melirik secara diam-diam, lalu mendorong lengan pemuda itu dan bertanya, "Qi Cuo, kau mau membawaku ke mana?"
Qi Miaozhi balik bertanya dengan nada ketus, "Kau ingin pergi ke mana?"
Baoluan berpikir sejenak, lalu berbisik, "Apakah kau berani pergi ke Istana Taiji?"
Hari ini adalah Festival Shangsi bagi orang lain, tetapi bagi Bange, hari ini adalah hari yang agung di mana Kaisar Pensiunan memanggilnya untuk menghadap.
Saat mendengar kabar tersebut, Baoluan merasa sangat terkejut.
Ibu Pengasuh pun merasa kaget, "Baguslah kalau begitu, entah berapa banyak orang di istana yang akan kehilangan uang taruhan."
Tidak seorang pun mengira bahwa Bange bisa mendapatkan panggilan menghadap dalam waktu setengah tahun. Apa yang mereka bayangkan adalah perjamuan keluarga pada Festival Pertengahan Musim Gugur enam bulan kemudian, mungkin pada saat itu Bange bisa membaur di tengah kerumunan untuk melihat Kaisar Pensiunan.
Mendapatkan panggilan dari Kaisar Pensiunan dalam waktu yang begitu singkat sungguh... di luar dugaan.
Baoluan dengan tulus merasa senang untuk Bange: "Sejak Kakak Keenam melangkah masuk ke Istana Taiji, tidak akan ada seorang pun di Istana Yongan yang berani memandangnya rendah lagi."
Ibu Pengasuh mengamini beberapa patah kata, lalu berkata, "Untung saja sang Putri tidak berselisih dan memutus hubungan dengan Pangeran Keenam sejak awal. Putri memiliki mata yang jeli dalam menilai orang, Pangeran Keenam pasti akan memperlakukan Putri dengan baik di masa depan."
Baoluan merasa muram: "Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk bermusuhan dengannya..."
Ibu Pengasuh menyerahkan surat yang ditinggalkan oleh Bange kepada Baoluan. Di dalam surat tersebut, Bange bertanya apakah jika ia memiliki waktu luang, apakah malam harinya ia bisa menemaninya berjalan-jalan ke pasar timur dan barat untuk membantunya memilih hadiah balasan bagi relasi sosialnya?
Baoluan mengenang kembali apa yang dikatakan di dalam surat itu, bahwa Bange akan menunggunya di depan kota istana, dan di balik kota istana adalah Istana Taiji. Waktu masih terlalu awal, maka ia memutuskan untuk langsung pergi dan menunggu di depan gerbang besar Istana Taiji sampai pemuda itu keluar.
"Malam hari nanti kita pergi bermain ke pasar timur dan barat ya? Lihatlah dirimu, bahkan tidak memiliki sehelai lampion pun. Jika kau mau menemaniku ke Istana Taiji, nanti malam aku akan membelikan lampion untukmu."
Qi Miaozhi tetap bergeming.
Hingga mereka tiba di hadapan Istana Taiji, barulah Qi Miaozhi membuka suara, "Lampion seperti apa?"
Baoluan mencari-cari orang di sekitar, "Lampion seperti apa yang kau inginkan, aku akan membelikan lampion seperti itu untukmu."
Ia tiba-tiba melihat sesosok bayangan, lalu melambaikan tangannya ke depan, "Kakak Keenam, Kakak Keenam!"
Bange menoleh mengikuti arah suara tersebut, dan tampaklah sang putri yang sedang menunggang kuda, tersenyum cerah seraya melambaikan tangan kepadanya.
Bange menegakkan punggungnya dari kesuraman pergantian siang dan malam, dan rasa suram yang berkerut di antara alisnya seketika buyar. Ia melangkah anggun dengan jubahnya menembus cahaya bulan yang terang benderang, menjelma kembali menjadi pemuda ambisius yang penuh semangat seperti saat ia datang pertama kali.