Bab Dua Puluh Tiga: Gelombang Baru Dimulai
Ruo Yun ditarik oleh Rong Ying, dan begitu keluar dari halaman, ia langsung dilepaskan.
“Kamu, begitu keluar, kamu adalah orang dari Kediaman Pangeran Rong, bukan seseorang yang bisa seenaknya dibully! Kalau sampai mempermalukan kediaman kami, hati-hati nanti aku... aku...” Rong Ying awalnya bermaksud memarahinya, namun tiba-tiba terdiam, “Aku tidak mau main sama kamu lagi!”
Ruo Yun tersenyum tipis, sedikit membungkuk, “Terima kasih atas nasihat Nona Bangsawan, kemurahan hati Nona sungguh membuatku kagum.”
Wajah Rong Ying langsung sedikit memerah, ia menggeleng malu, “Tadi aku memang ingin bicara denganmu sebelum upacara, baru masuk ke halaman sudah dengar mereka begitu sombong, kalau aku tidak membelamu, sama saja mempermalukan keluarga Rong.”
Ruo Yun melihat dia manyun dan berkata sambil tersenyum, “Mohon Nona maklum, dia memang adik perempuanku yang tidak akur denganku.”
“Apa? Itu dia?” Rong Ying tak percaya dan memastikannya, melihat Ruo Yun mengangguk, ekspresinya berubah dari terkejut menjadi meremehkan, “Adik seperti itu, tidak punya pun tak apa. Mulai sekarang, kamu temani aku saja di kediaman, lebih baik, kan?” katanya sambil menarik tangan Ruo Yun.
Ruo Yun tersenyum, tapi hatinya justru terasa hampa.
Takdir memang mempermainkan, sepertinya keinginannya sulit terwujud. Ia tak punya alasan apapun agar Rong Yixuan mau meminangnya sebagai putri pangeran, untungnya hari ini Kaisar sama sekali tak mengingat keberadaannya, untuk saat ini ia masih aman.
Keduanya tampak seperti bunga di hari musim dingin yang cerah, sinar matahari membuat waktu seolah berhenti, hingga seorang pria di ujung lorong tak sengaja berdeham, “Ying’er, upacara sore sebentar lagi dimulai, kenapa kamu masih di sini? Shu Yan bilang sudah mencarimu ke mana-mana.”
Dengan balutan baju resmi warna biru laut, Rong Yixuan berdiri di lorong, kedua tangannya di belakang, aura dingin dan tegas saat mengurusi negara sirna, membuat jantung Ruo Yun berdebar setengah detik.
“Aku pergi dulu, cepatlah.” Rong Ying menjulurkan lidah, lalu pergi bersama pelayannya.
Rong Yixuan menggeleng, pandangannya jatuh pada wajah samping Ruo Yun yang tenang.
Sejenak ia tertegun, lalu melangkah mendekat, membisikkan sesuatu di telinganya, “Jika nanti ke perjamuan malam, berhati-hatilah.”
Ruo Yun mendongak, menatap wajah tampan yang tersenyum itu, lalu mengangguk dalam-dalam.
Rong Yixuan menarik kembali senyumnya, lalu menyusul Rong Ying keluar.
“Nona, apa yang dikatakan Pangeran?” Xiao Hong mendekat, melihat tubuh Ruo Yun bergetar tegang, segera menopangnya.
Ruo Yun hanya tersenyum, “Beliau bilang, kalau Kaisar lupa, aku tak perlu ikut perjamuan malam.”
Masuk istana untuk upacara, bukan berarti ikut makan malam bersama Kaisar.
Rong Yixuan memang sudah memikirkan kemungkinan itu.
Namun hari ini Rong Ying sudah menggantikan dirinya untuk berselisih dengan Chu Rulan, jika kelak bertemu lagi, entah apa yang akan terjadi.
Dengan cahaya mentari, upacara musim dingin terasa lebih lancar.
Semua orang bilang, ini adalah berkah para dewa. Di tengah senda gurau, topik utama adalah siapa yang akan menonjol tahun ini, tak seorang pun lagi memperhatikan Ruo Yun.
Begitu upacara selesai, para perempuan kembali ke kamar masing-masing, upacara yang membosankan membuat mereka mengantuk. Setelah menanti setengah hari, akhirnya matahari terbenam, dan bagi mereka perjamuan malam adalah acara utama. Menggunakan waktu tersisa untuk berdandan adalah pilihan bijak.
Tak seperti makan siang, perjamuan malam diadakan di istana — istana milik Kaisar Rong Jinhua, sekaligus saksi berbagai peristiwa para kaisar terdahulu.
Orang seperti Rong Yixuan sudah dijemput dengan kereta kaisar sejak awal.
Di depan gerbang merah, Ruo Yun menunggu di depan kereta keluarga Rong. Seorang kasim datang mengumumkan, bahwa atas perintah Kaisar, hanya Pangeran dan perempuan keluarga dekat yang boleh masuk, pejabat lain hanya boleh membawa satu kerabat, dan para perempuan dilarang masuk istana.
Kasihan para nona dari jauh yang berharap bertemu Kaisar dan mendapatkan kemuliaan, kini hanya bisa berdiri di depan gerbang istana tanpa bisa masuk.
Setelah memberi hadiah pada kasim, Rong Ying yang mengenakan baju sutra ungu bersulam bunga peoni emas menguap lebar, lalu berkata santai, “Sudah kuduga kakak Kaisar tak suka kolusi dan nepotisme, kali ini pasti banyak yang kecewa!” Selesai bicara, ia mengedip pada Ruo Yun, lalu masuk ke tandu tanpa menoleh.
Ruo Yun tersenyum, tampaknya Rong Ying masih memikirkan urusan dengan Rulan sore tadi dan ingin balas dendam. Chu Rulan yang tak bisa masuk istana pasti kecewa, sementara dirinya justru senang karena tak perlu pergi.
Xiao Hong melihatnya tak bergerak, buru-buru bertanya, “Nona, kenapa tak segera berangkat? Gerbang istana mau ditutup.”
Ruo Yun melihat semangat bersaing pelayannya, lalu tersenyum, “Aku bukan keluarga perempuan, jadi memang tidak perlu pergi.”
“Ah? Tapi Nona begitu dihargai oleh Pangeran…” Xiao Hong terhenti di tengah kalimatnya.
Ruo Yun menampakkan wajah serius, menakut-nakuti, “Urusan perempuan tak boleh dibicarakan sembarangan di luar. Kalau masih bicara sembarangan, aku tak mau kamu jadi pelayanku, malah aku yang jadi pelayanmu nanti…”
“Nona…” Xiao Hong buru-buru menutup mulut Ruo Yun, cemas berkata, “Jangan marah, aku tak akan bicara lagi… Aku… aku akan ambilkan air untuk Nona…” katanya sambil buru-buru pergi, takut membuat Ruo Yun semakin marah.
Ruo Yun menggeleng pelan, menghela napas lega.
Ia hanya perlu menunggu di dalam kereta, setelah perjamuan malam selesai, ia bisa pulang bersama rombongan, namun entah mengapa hatinya gelisah.
Jika Rong Yixuan memanfaatkan kelonggaran titah Kaisar dan membuat Kaisar murka, apa yang akan terjadi?
Wajah Rong Yixuan yang kerap dingin melintas di benaknya, Ruo Yun mendengar suara ringkikan kuda, lalu kereta mulai berguncang, terdengar pula suara orang terkejut di luar.
Ketika ia membuka tirai, terlihat seseorang berpakaian serba hitam mengemudikan kereta entah ke mana, ketika orang itu menoleh dan melepas penutup wajahnya, Ruo Yun jelas melihat senyum nakal milik Cheng Qinghe!
“Berhenti! Hei… berhenti!” Ruo Yun berteriak sambil tubuhnya terguncang hebat oleh laju kereta.
Namun Cheng Qinghe yang memegang cambuk sama sekali tak berniat berhenti, membiarkan teriakannya menggema dari dalam kereta.
Ruo Yun kesal dan cemas, tak tahu apa maksud Cheng Qinghe membawanya pergi, ia berusaha menjulurkan tangan meraih lelaki itu, tapi kereta tiba-tiba berhenti mendadak, membuat Ruo Yun terjatuh keras di dalam kereta. Saat ia bangkit, Cheng Qinghe sudah membuka tirai.
Mulutnya langsung dibungkam, tubuhnya terangkat, lalu Cheng Qinghe membawanya melompati tembok merah tanpa menyentuh tanah.
“Hei! Apa yang kamu lakukan!” Begitu dilepas, Ruo Yun langsung berteriak, “Cepat turunkan aku! Kamu sudah gila!”
“Diam, nanti tergigit lidah.” Kali ini wajah Cheng Qinghe serius, wajah tampannya hilang ditelan gelap malam, seperti kelelawar yang melesat dalam kegelapan.
Ruo Yun antara kaget dan marah, menatapnya tajam, namun Cheng Qinghe tetap tenang.
Setelah beberapa saat, ia hanya bisa pasrah, lalu bertanya dengan suara gemetar, “Cheng Qinghe, cepat turunkan aku, apa sebenarnya yang kamu inginkan?”
“Nanti juga tahu.” jawab Cheng Qinghe dengan nada tak sabar.
“Kamu…!” Mendengar jawaban singkat itu, Ruo Yun makin cemas, namun tak tahu harus berbuat apa, hanya angin malam yang berdesir di telinganya. Ketika menoleh, ia melihat cahaya ribuan lampu Kota Kekaisaran.
Istana berdiri di kaki Gunung Utara, hanya dari dataran tinggi istana inilah kota bisa terlihat seluruhnya!
Akhirnya mereka tiba di reruntuhan yang dipenuhi ilalang, di situ Cheng Qinghe mendarat, lalu melepaskannya.
Ruo Yun masih syok, segera mendorong Cheng Qinghe, “Apa sebenarnya maumu!” katanya sambil terengah.
Sebenarnya sejak lama Cheng Qinghe bisa menculiknya, kenapa harus hari ini?
Hari ini adalah upacara musim dingin…
Tiba-tiba ia sadar, firasat buruk menyergap hatinya.
Kali ini Cheng Qinghe tidak lagi menunjukan sikap ceria, ia justru menatap tajam, lalu berkata, “Orangnya sudah kubawa, jaga baik-baik.” Jelas itu bukan ditujukan untuknya.
Ia melepas pakaian hitam luar, memperlihatkan jubah ungu tua, lalu menghilang dalam gelap malam.
Ruo Yun menengok sekeliling, ternyata ia ada di sebuah halaman yang dikelilingi tembok, lorong-lorong yang tak diketahui menuju ke mana. Walau terbengkalai, samar-samar terdengar suara musik dan tari.
Barulah ia sadar, ia berada di dalam istana, tak jauh dari tempat perjamuan.
Siapa sangka “orang berkerudung hitam” yang menculiknya justru membawanya ke istana! Jika dilakukan pencarian, pasti hanya dilakukan di luar, ini…
Ruo Yun merinding, bagaimanapun ia harus mencari jalan keluar, baru hendak melangkah ketika suara nyaring seorang gadis terdengar di belakangnya, “Nona Su, mau ke mana?”