Bab Sembilan: Rajawali dan Kera Kurus, Ketakutan Burung-Burung
“Akan berhasil, bukannya kakak tidak mau membantumu, tapi keahlian itu adalah ilmu rahasia. Pernah dengar pepatah ‘murid yang benar-benar diajari akan membuat gurunya kelaparan’?”
Yue Mochou menggelengkan kepala, pura-pura menyesal.
“Kakak, aku mengerti, hanya saja aku juga tak punya pilihan lain… Biarkan Xiao Yi mengajariku keahliannya, aku dan Shan’er akan memberikan setengah dari keuntungan restoran untuknya, bagaimana? Selain itu, makan, tempat tinggal, dan sekolah dia pun kami tanggung.”
Dong Bicheng sudah memantapkan tekad, selama dia dapat menguasai keahlian memasak Jia Yi (She Yi), restorannya pasti akan ramai. Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai juru masak, ia yakin Jia Yi adalah jenius muda di dunia kuliner; hanya dengan satu hidangan ikan merah kecap saja sudah cukup untuk membuat namanya terkenal ke seluruh negeri.
Yue Mochou tersenyum tipis. Dalam hati ia berpikir, adik iparnya ini memang tampak polos, tapi sebenarnya perhitungannya sangat matang, bahkan berniat mendapatkan keuntungan tanpa modal. Sekarang restoran sedang sepi, jangankan bagi hasil untung, menutup biaya saja sulit. Semalam adiknya sudah bercerita, uang ganti rugi pembebasan lahan pun hampir habis… Ia mempertimbangkan apakah perlu membujuk para warga pindahan untuk menekan “pengembang properti” di kota selatan agar bisa memperoleh sejumlah uang lagi. Tapi Yue Mochou menasihati adiknya untuk tidak melakukannya, sekalian menceritakan kejadian kemarin. Ia berkata, petugas keamanan di lokasi itu sangat kejam, lebih galak dari Satpol PP di kampung halaman She Yi; ia hanya bertanya sedikit saja sudah diancam dengan senjata.
“Bicheng, kakak paham maksudmu, tapi jangan sampai kehilangan yang besar karena mengejar yang kecil. Xiao Yi itu anaknya baik, suka menolong. Asal dia tetap di sini, pasti akan membantumu… Kalau bukan karena dia, kau dan Shan’er mungkin sudah tertimpa masalah lagi.”
Ia punya rencana sendiri. She Yi berhati ksatria, di usia muda sudah punya banyak kemampuan, bertindak cepat dan tegas, tidak akan membiarkan adik dan adik iparnya dirugikan. Kemarin, adik dan adik iparnya memang agak menolak kehadirannya, entah apakah ia merasa tersinggung. Dengan kemampuannya, jangankan di Kota Luoyang, bahkan di negara Xia, Liao, Tibet, maupun Dali pun ia pasti bisa hidup dengan baik. Ia tidak kekurangan uang, jadi pasti tidak akan menerima bagi hasil. She Yi memang belum bilang akan pergi, tapi siapa tahu suatu saat nanti ia ingin pergi. Karena itu, Yue Mochou ingin agar She Yi masuk sekolah, supaya dia tetap tinggal di sini. Ia bisa melihat She Yi sangat menyayangi Ruoruo. Pagi tadi, sebelum pergi, ia bahkan meninggalkan beberapa tael perak, katanya untuk membelikan barang-barang kesukaan Ruoruo.
Soal restoran yang untuk sementara tutup, menunggu ia kembali dan menata ulang sebelum dibuka lagi, entah kali ini ia pergi untuk menyelesaikan urusan ibunya, Si Mak Comblang, atau untuk mengusut kejadian semalam saat adiknya diberi obat, Yue Mochou sendiri pun belum jelas.
“Ini… Kak… masalah apa itu…”
Dong Bicheng bingung.
“Bukan apa-apa, yang penting lain kali lebih hati-hati saja.”
Yue Mochou tidak menceritakan soal adiknya yang semalam hampir dijebak orang. Sebelum She Yi kembali, ia pun belum tahu persis apa yang sebenarnya terjadi.
“Bagaimana mungkin, aku ini selalu jujur dan tidak pernah bertengkar dengan siapa pun.”
Dong Bicheng tertawa polos.
…
Di jalan besar lima li dari desa Houhe, sebuah kereta kuda muncul dari balik hutan lebat. Di depan kereta tidak ada kusir, seekor kuda kurus menarik kereta berjalan santai. Tak lama setelah masuk jalan besar, kereta itu berbelok ke jalan kecil, menuju desa Houhe.
Kota Luoyang punya vegetasi yang baik, tidak ada pabrik, tidak ada gedung tinggi, tidak ada polusi kendaraan, tidak ada AC maupun peralatan listrik, sehingga efek panas kota rendah. Pagi hari, suhu di pinggiran kota dan di dalam kota hampir sama, semuanya cukup sejuk.
Di semak-semak dan hutan di sepanjang lereng Lüzipo, ada belasan pria berpakaian hitam bertopeng yang bersembunyi. Di tangan mereka masing-masing tergenggam golok baja khusus berukir motif spiral nan indah. Motif itu menggambarkan lima ekor harimau perkasa, lukisannya sangat hidup, jelas hasil karya tangan seorang maestro.
Kali ini, tugas diemban oleh Kepala Keempat Huang Tianhu, Kepala Kelima Ximen Bahu, serta dua orang bernama Elang Terbang dan Monyet Kurus yang semalam berada di tepi Sungai Cao. Meski pangkat mereka hanya anak buah, namun di kelompok Lima Macan, kedudukan mereka setara dengan Kepala Keenam dan Ketujuh. Belasan orang yang dikerahkan kali ini semuanya memiliki kemampuan bela diri. Hilangnya Kepala Kedua dan Ketiga secara misterius membuat mereka jadi jauh lebih waspada.
Kepala Utama Wang Dahu dan Xue Ying tidak turun tangan, mereka menunggu kabar di desa.
Elang Terbang dan Monyet Kurus bersembunyi di semak belukar yang lebat. Angin musim gugur bertiup lembut, dedaunan kering beterbangan di antara pohon-pohon.
“Elang Terbang, katanya yang datang itu anak tunggal Si Mak Comblang, jagoan hebat, bisa keluar masuk di tengah ribuan tentara, terutama ahli dalam seni membunuh diam-diam. Penasehat jenius dari Negeri Xixia, Sun Wei, katanya tewas di tangannya. Menurutmu itu benar atau cuma rumor?”
Monyet Kurus tampak sedikit tegang, bertanya pelan.
“Ah, percaya saja omong kosong begituan. Kata Sastrawan Feng, dia cuma bocah sakit-sakitan, jago membual, mirip sekali dengan Naga Kecil Berwajah Putih, Zhao Wanqi. Keahlian lainnya? Tidak ada.”
Suara serak Elang Terbang penuh rasa sinis.
“Benar juga, kalau bisa cocok dengan Naga Kecil Berwajah Putih yang sama-sama tukang pamer, pasti tak punya kemampuan sungguhan. Tapi tetap saja tak boleh diremehkan. Kepala Kedua dan Ketiga saja belum bisa mengatasinya, pasti ada sesuatu yang istimewa.”
Tatapan Monyet Kurus menyipit, ia memang orang yang berhati-hati.
“Monyet Kurus, Elang Terbang, diamlah kalian, kalau masih ribut juga, awas saja, kubacok kalian berdua!”
Ximen Bahu, pria bertubuh besar dan kekar, mendadak berdiri dan menghardik dengan suara keras ketika mendengar kedua rekannya berbicara pelan.
Saat itu, dari arah jalan kecil terdengar suara roda kereta dan dentingan lonceng. Ximen Bahu buru-buru berjongkok, kembali bersembunyi di balik semak.
Suara kereta makin lama makin dekat, tak sampai sebentar sudah muncul beberapa puluh meter di depan mereka. Di bagian depan kereta kosong, tak ada kusir, hanya seekor kuda kurus menarik kereta dengan santai ke arah mereka. Setiap beberapa langkah, ia menunduk memakan rumput. Belasan pria yang bersembunyi sempat terpaku sejenak, kemudian menahan napas dan menggenggam golok mereka erat-erat.
Bagaimanapun, waktu, tempat, dan ciri kereta yang sudah disepakati, biasanya tak akan salah. Tapi, apakah anak muda itu ada di dalam kereta? Lalu di mana kakek tua kusir dan Feng Yingcai? Apakah mereka sudah pergi lebih dulu?
Dengan berbagai tanya dan kebingungan, mereka pun menarik napas dalam-dalam. Sekian tahun membacok orang, mereka sudah terbiasa melakukan aksi ini.
“Sahabat sejati, seumur hidup!”
Elang Terbang dan Monyet Kurus saling pandang, mengangguk. Menjelang setiap aksi besar, mereka selalu mengucapkan kalimat itu. Membacok orang sudah sering mereka lakukan, mungkin suatu saat giliran mereka yang akan dibacok orang lain. Tak ada jaminan setiap kali selesai aksi, mereka berdua masih hidup.
Kuda yang sedang memakan rumput itu tiba-tiba merasakan hawa mematikan dari atas bukit. Ia berhenti makan, telinganya yang panjang bergerak-gerak waspada, matanya berkedip, lalu berbalik, bersiap menarik kereta kembali ke arah semula.
“Sialan, hewan pun sudah pintar, ayo saudara-saudara, serbu!”
Ximen Bahu melompat keluar dari balik semak, mengayunkan golok panjang dan berlari menuruni lereng, diikuti Huang Tianhu dan beberapa anak buah lainnya.
Kuda itu terkejut, langsung berlari, tapi baru beberapa langkah, kereta tersangkut pohon tua sehingga tak bisa lari lagi meski ia berusaha sekuat tenaga.
Belasan orang yang dipimpin Ximen Bahu dan Huang Tianhu bergerak cepat, tubuh mereka lincah seperti kera, dalam sekejap mengepung kereta. Melihat dirinya terkepung, kuda itu malah jadi tenang, berdiri diam tanpa bergerak.
Belasan orang itu saling pandang.
“Elang Terbang, Monyet Kurus, maju dan periksa!”
Ximen Bahu memerintahkan, namun tak satu pun dari belasan orang yang mengepung itu bergerak. Ia melirik ke sekeliling, ternyata Elang Terbang dan Monyet Kurus belum ikut turun. Otot-otot di wajah Ximen Bahu tampak menegang…
“Kedua bocah itu bisanya cuma main-main saja!”
“Kepala Kelima, Elang Terbang memang jago melempar senjata rahasia kalau bersembunyi…”
Seorang anak buah berkata pelan.
“Senjata rahasia apanya, cuma ketapel tak berguna, kelinci pun tak bisa mati ditembak, sudah, kamu saja yang maju!”
Ximen Bahu mengarahkan golok ke anak buah yang barusan bicara. Anak muda itu dengan enggan menggenggam goloknya erat-erat, melangkah hati-hati mendekati kereta…
“Ada suara aneh…”
Dari dalam kereta terdengar suara lirih dan samar.