Bab Seratus Lima Puluh Dua: Mimpi
Begitu kabut merah merasuk ke dalam tubuh Gongsun Xuan, suhu di dalam tubuhnya tiba-tiba melonjak drastis, membuat Gongsun Xuan merasakan panas membara di seluruh raganya.
Seiring dengan meningkateningkatnya suhu tersebut, kesadarannya mulai memudar. Tiba-tiba, ia merasa telah berada di sebuah tempat asing yang dipenuhi oleh kabut merah. Ia tidak dapat melihat keadaan di hadapannya, pun tidak mampu merasakan apa pun di sekitarnya.
Menghirup aroma pekat yang menguar di udara itu, seluruh persendian tubuhnya terasa lemas.
Sekonyong-konyong, kabut merah di hadapannya buyar, bergantikan oleh kemunculan sekumpulan wanita elok. Masing-masing dari mereka mengenakan selendang tipis menerawang, hingga kulit mereka yang putih bagai giok nampak jelas di balik kain tersebut. Suara mereka bagai burung walet perak, merdu dan menenteramkan hati. Aroma harum khas wanita menyeruak masuk ke dalam rongga hidung Gongsun Xuan. Menghirup wewangian yang memabukkan itu membuat darah Gongsun Xuan mendidih dan sekujur tubuhnya menjadi sangat kepanasan.
"Glek." Kerongkongannya bergemotik mengeluarkan bunyi berulang kali. Tak lama kemudian, tenggorokannya terasa kering kerontang sementara matanya memancarkan cahaya kemerahan.
"Aum!" Suara geraman tertahan lolos dari kerongkongan Gongsun Xuan. Dengan mata merah menyala, ia berniat menerkam para wanita di hadapannya, merobek selendang salah seorang wanita dengan kasar lalu merubuhkannya ke tanah. Tepat saat ia hendak menyetubuhinya, seberkas cahaya putih tiba-tiba menyelubungi tubuhnya. Cahaya itu terasa amat menyejukkan, bahkan ia bisa merasakan kehangatan yang terpancar darinya—sebuah kehangatan yang menyamai kasih sayang seorang ibu.
Ia seketika tersadar dan meronta memandang sekeliling, mendapati dirinya kini berada di dalam sebuah ruang putih. Pemandangan sensual sesaat tadi telah lenyap sepenuhnya tanpa bekas.
"Xuan'er... Xuan'er..."
Sebuah panggilan lembut terdengar di sisi telinganya.
Itu adalah suara seorang wanita; suara yang terasa asing namun sekaligus begitu familier. Mendengar suara tersebut, timbul rasa hangat di dalam dadanya. Aliran darahnya bahkan berdesir kencang tanpa sebab yang jelas akibat suara itu.
Ia mengedarkan pandangan mencari-cari sumber suara tersebut, tetapi di hadapannya hanyalah hamparan cahaya putih yang tak bertepi. Tiada sesuatupun yang terlihat, bahkan asal muasal suara itu pun entah berada di mana.
Gongsun Xuan mengerutkan keningnya, merasa bahwa situasi ini amat ganjil. Ia tahu dirinya baru saja terjebak dalam perangkap nafsu. Namun, apa sebenarnya arti dari semua ini sekarang? Ia dapat merasakan dengan jelas bahwa kesadarannya begitu jernih, tidak tampak seperti sedang di bawah pengaruh sihir penyesat. Memikirkan kembali kejadian barusan, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Xuan'er... Xuan'er..."
Suara itu kembali menggema. Mungkin karena suaranya yang terlalu lemah, ia tetap tidak mampu menemukan darimana arah suara itu berasal.
Ia mengerahkan kesadaran spiritual dari antara kedua alisnya, namun mendapati bahwa di dalam ruang putih ini, indra spiritualnya sama sekali tidak berfungsi dan tidak mampu menembus batasan tempat ini.
"Siapa di sana? Di mana Anda?" panggil Gongsun Xuan mencoba menyelidik ke sekeliling. Ia menajamkan pendengaran dan memusatkan seluruh konsentrasinya, berupaya menangkap sumber suara tersebut.
"Xuan'er, sudah bertahun-tahun lamanya kita tidak berjumpa, kamu sudah tumbuh dewasa. Tubuhmu bahkan telah tumbuh sekokoh ini, persis seperti ayahmu. Hanya saja, kamu jauh lebih tampan daripada ayahmu. Sayangnya, kamu begitu nakal hingga membiarkan bekas luka yang begitu mengerikan tertinggal di wajahmu."
Suara itu terdengar sangat lembut, menyiratkan limpahan cinta kasih yang teramat dalam.
Gongsun Xuan kembali menoleh ke sekeliling. Ia dapat merasakan bahwa suara itu seolah berada tepat di sisinya, tetapi ia tetap tidak dapat menemukan wujud si empunya suara.
"Siapa sebenarnya Anda?"
Suara itu memberinya kehangatan yang menenangkan. Ada suatu perasaan aneh di lubuk hatinya yang mendorongnya untuk mendekati pemilik suara tersebut, membuatnya begitu ingin mengetahui siapakah sosok di balik suara itu.
"Hah..." Helaan napas panjang terdengar, diiringi rasa penyesalan yang mendalam dari nada suaranya.
Mendengar rasa bersalah yang tersirat dalam desah napas itu, hati Gongsun Xuan terasa nyeri. Ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya mendadak terasa sakit.
Ia terdiam.
Pemilik suara itu pun turut membisu.
Entah telah berapa lama berlalu, suara itu kembali terdengar, "Xuan'er, apakah kamu pernah membenci Ibumu?"
"Ibu?"
Tubuh Gongsun Xuan bergetar hebat. Ia mendadak bertindak nyaris di luar kendali, berputar ke sana ke mari mencari bayangan sang ibu.
Pantas saja ia merasakan kehangatan begitu mendengar suara tersebut. Di dalam hatinya bahkan terbit sebuah perasaan memiliki.
Kata "Ibu" terasa begitu asing sekaligus karib baginya.
Sejak kecil, ia tidak pernah mengenal orang tua. Di bawah didikan sang guru, ia menjalani latihan fisik yang kejam setiap hari. Terkadang, ia juga sempat membayangkan rupa kedua orang tuanya. Saat melihat anak-anak lain di desa ditemani oleh ayah dan ibunya, ia pun berharap bisa merasakan hal serupa. Seiring bertambahnya usia, ia belajar menyembunyikan hasrat itu. Harapan akan kedua orang tuanya ia simpan rapat-rapat di lubuk ingatannya yang paling dalam. Demi mencari tahu identitas orang tuanya, ia berlatih ilmu bela diri dengan giat. Alasan utamanya meninggalkan pulau terpencil tak lain adalah untuk mencari keberadaan orang tuanya.
Kini, tatkala mendengar suara ibunya secara tiba-tiba, ia diliputi keharuan yang luar biasa.
Sosok yang tidak pernah meneteskan air mata itu, kini merasakan matanya basah.
"Xuan'er, sekiranya kamu mencela kami, bahkan membenci kami, kami tidak akan pernah menyalahkanmu. Bagaimanapun juga, membiarkan seseorang hidup dalam kesendirian adalah kesalahan kami. Aku telah menyaksikan segala hal tentangmu. Mengetahui kamu dapat hidup dengan bahagia saja sudah membuatku merasa cukup. Aku hanya berharap kamu dapat terus menjalani hidup dengan gembira. Sayang sekali, dahulu kami sebenarnya berniat menjadikanmu manusia biasa dan menjalani hari-hari seperti orang kebanyakan, namun kamu justru memilih jalan kultivasi. Dunia kultivasi terlampau kejam. Meskipun kamu cerdas, kamu masih kurang berpengalaman dan terlalu gegabah. Lihatlah, betapa banyak kerugian yang telah kamu derita selama beberapa tahun belakangan ini. Hatiku selalu terasa sakit setiap kali melihatmu menghadapi bahaya..."
"Ibu, di manakah Anda? Aku ingin bertemu dengan Anda."
Gongsun Xuan tiba-tiba memotong perkataan ibunya, berseru ke arah cahaya putih.
"Xuan'er, sebenarnya Ibu pun sangat ingin memperlihatkan diri kepadamu. Hanya saja, wujud keberadaanku saat ini tidak mungkin bisa kamu lihat." Suara itu menuturkan kalimatnya dengan sangat lembut.
Gongsun Xuan merasakan sebuah tangan yang hangat membelai keningnya. Ia segera menggerakkan tangannya untuk meraba, namun ia mendapati hampa.
"Xuan'er, kelak kamu harus lebih waspada. Di dunia kultivasi, jangan terlalu mudah menaruh kepercayaan kepada orang lain. Banyak orang di dunia ini berkedok bajingan bertopeng manusia; tampak lembut di luar, namun di balik layar gemar melakukan hal-hal licik. Dahulu, aku dan ayahmulah yang harus menanggung akibat pahit karena kecerobohan tersebut. Mulai sekarang, saat kamu melangkah di dunia kultivasi, kamu harus senantiasa berjaga-jaga."
"Ibu, apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu hingga membuat kalian meninggalkanku?" Gongsun Xuan tidak kuasa menahan diri untuk bertanya. Jauh di lubuk hatinya, ia tetap menyimpan rasa mengganjal mengenai masalah ini.
"Anak bodoh, orang tua mana yang sanggup meninggalkan anak kandung mereka sendiri? Saat itu pun kami tidak memiliki pilihan lain. Yang tidak kuduga adalah, ayahmu hampir saja terjerumus ke dalam jalan sesat iblis demi membelaku. Entah bagaimana pula keadaannya sekarang..."
Suara itu kembali terhening, seolah sedang menerka-nerka kondisi ayah Gongsun Xuan saat ini.
"Ibu... Ibu..." panggil Gongsun Xuan lembut.
"Xuan'er. Kamu harus menemukan ayahmu. Kupikir, saat ini dia pasti sedang memburu mereka yang telah merenggut nyawamu—ah bukan, merenggut nyawaku di masa lalu. Orang-orang yang mampu mengerahkan begitu banyak para ahli ulung kala itu pastilah berasal dari sekte atau faksi besar. Dengan tingkat kekuatan ayahmu seorang diri, mustahil baginya untuk menandingi kekuatan sebesar itu. Kamu harus menemukannya dan menghentikannya. Setelah menemukannya, kalian berdua carilah tempat yang tenang, lalu jalani hidup dengan damai dan bahagia. Itulah harapan terbesar sekaligus satu-satunya permintaanku kepadamu. Xuan'er, berjanjilah pada Ibu, ya? Temukan ayahmu, dan bujuklah dia agar mengurungkan niat membalaskan dendam untukku. Ibu tidak ingin kalian berdua, ayah dan anak, celaka."
"Ibu, bisakah Anda ceritakan apa yang terjadi kala itu?" desak Gongsun Xuan sekali lagi.
"Xuan'er, saat ini kamu sedang berada dalam bahaya. Seseorang sedang mendekatimu, selesaikanlah urusan di hadapanmu terlebih dahulu. Ibu akan senantiasa menemanimu di sisi. Pergilah, berhati-hatilah."
Suara itu perlahan-lahan memudar. Ruang putih di sekelilingnya pun berangsur-angsur lenyap.
"Ibu! Ibu!"
Gongsun Xuan berteriak lantang seraya membuka kedua matanya. Yang menyambut pandangannya kini hanyalah kepulan kabut merah di sekelilingnya, sementara Paman Feng tengah melangkah mendekatinya.
Amarah yang membuncah bagai lautan api berkobar di dalam matanya. Ia merasa sangat geram karena pertemuannya dengan sang ibu yang baru saja terajut harus terputus di tengah jalan oleh ulah orang lain.
"Kamu mencari mati?!"
Niat membunuh yang pekat memancar keluar seketika dari dalam tubuhnya.