Bab Tujuh Puluh Tujuh: Pi Xiu Melawan Harimau Ganas
“Bukankah kau juga punya senjata rahasia? Tinggal melesatkan sekali, bukankah semuanya akan beres... Tentu saja, kalau kau tidak mau, duduk saja di sini dan menunggu. Ngomong-ngomong, ada sebuah peribahasa: menunggu kelinci di bawah pohon. Kebetulan di sini banyak sekali pohon besar. Siapa tahu ada kelinci yang sedang terlalu bersemangat, lalu menghantam pohon dengan suara gedebuk. Kita tinggal pergi mengambilnya... Ehem...”
Perut She Yi berbunyi keroncongan. Ia buru-buru terbatuk keras beberapa kali untuk menutupi suara itu.
“Dasar kau...”
Meskipun tidak puas, Zhao Wanqi tetap berdiri. Ia melirik tajam kepada She Yi, lalu memandang rumpun bambu hitam pekat di kejauhan. Dengan enggan, ia mulai melangkahkan kaki.
Tepat pada saat itu...
Tiba-tiba...
Terdengar suara desingan. Dari kegelapan di kejauhan, seekor kelinci liar melesat keluar. Karena panik dan kehilangan arah, kelinci itu justru berlari lurus ke arah She Yi dan Zhao Wanqi, secepat kilat.
Sebelum She Yi dan Zhao Wanqi sempat bereaksi, terdengar suara gedebuk. Kelinci itu menghantam pohon besar di depan perapian, lalu jatuh ke dalam api dengan bunyi dentuman. Percikan api beterbangan ke segala arah.
Zhao Wanqi dan She Yi saling berpandangan.
“Hei, cepat keluarkan! Nanti hangus!”
Zhao Wanqi segera berjongkok, menarik kelinci itu dari dalam api, lalu menepuk-nepuk tubuhnya beberapa kali untuk memadamkan kobaran api. Bau bulu terbakar menguar di udara.
“Jangan-jangan kelinci besar ini mendengar kabar burung, lalu ingin terlahir kembali dari api?”
She Yi mengusap matanya, merasa sulit memercayai apa yang baru saja terjadi.
“Jelas-jelas kelinci besar ini merasakan panggilan mendesak dari sang putri yang sedang kelaparan, lalu menerjang kemari tanpa memedulikan nyawa demi mempersembahkan daging kelinci yang lezat. Burung pipit melompat ke dalam api karena ingin berubah menjadi burung hong. Kalau kelinci besar melompat ke dalam api, ia berubah menjadi apa? Omong kosong belaka...”
Zhao Wanqi mengeluarkan sebilah belati. Dengan cekatan, ia membelah perut kelinci malang itu dan mengeluarkan isi perutnya.
“Bisa saja berubah menjadi harimau,” kata She Yi sambil terkekeh.
Hari itu mereka mengalami kejadian yang begitu ganjil, sehingga suasana hati She Yi cukup gembira. Ia dan Zhao Wanqi duduk saling berhadapan di seberang perapian. Namun, begitu selesai berbicara, senyum di wajah She Yi mendadak membeku.
Di belakang Zhao Wanqi, sekitar tiga meter jauhnya, berdiri seekor “binatang buas” bertubuh raksasa. Wajahnya tampak lugu, tetapi giginya menyeringai dan cakarnya terangkat mengancam.
“Pan... da... raksasa...”
She Yi menelan ludah dengan susah payah, benar-benar terguncang. Binatang buas yang tampak garang itu memiliki bulu hitam putih. Itulah panda raksasa, harta nasional negeri Tiongkok seribu tahun kemudian, sekaligus fosil hidup dalam dunia biologi.
“Eh... benar-benar berubah menjadi harimau.”
Zhao Wanqi menatap kaget ke arah rumpun bambu di belakang She Yi. Di dalamnya berdiri seekor harimau besar bermata melotot dengan dahi putih, menyeringai dan mengawasi mereka dengan tatapan buas.
Keduanya serentak menoleh ke belakang.
Lalu serentak menjerit. Dengan dua gerakan cepat seperti monyet, mereka memanjat pohon besar di samping.
Tepat ketika keduanya baru saja mencapai dahan pohon...
“Raung!”
Harimau besar berdahi putih itu mendongakkan kepala dan mengeluarkan auman panjang ke langit.
“Wuuung!”
Panda raksasa itu juga mendongakkan kepala dan meraung panjang. Ia berdiri tegak seperti manusia, menepuk-nepuk dadanya yang kekar, lalu menatap dengan penuh amarah.
“Sial...”
She Yi, yang rupanya sudah terpengaruh oleh Zhao Wanqi, tak kuasa memaki. Duel antara panda dan harimau... benar-benar aneh sampai ke puncaknya.
“Pi Xiu?”
Zhao Wanqi mengernyitkan dahi, wajahnya penuh kebingungan saat mengamati panda raksasa yang kemarahannya telah mencapai puncak.
“Kau menyebutnya apa?” She Yi memiringkan kepala, menatap Zhao Wanqi yang berhimpitan di sampingnya.
“Pi Xiu, tentu saja. Jangan bilang kau tidak tahu... Ah, benar juga. Dengan sifatmu yang tidak berilmu, bagaimana mungkin kau mengenal binatang buas purba seperti ini?”
Zhao Wanqi mengucapkannya dengan sangat serius.
“Ehem... Kau bilang panda raksasa ini adalah Pi Xiu? Dan kau menyebutnya binatang buas?”
She Yi baru saja hendak tertawa terbahak-bahak ketika pemandangan yang membuat matanya nyaris copot terjadi di bawah sana.
Panda raksasa yang murka itu benar-benar bertarung dengan harimau besar berdahi putih.
Dalam ingatan She Yi, panda raksasa selalu tampak lucu, menggemaskan, dan sama sekali tidak berbahaya. Namun kini, makhluk itu berubah menjadi raksasa buas. Ia mengayunkan cakarnya sambil menyeringai, lalu menghantam harimau yang menerjang ke arahnya.
Bunyi dentuman keras terdengar. Harimau besar berdahi putih itu terhempas ke tanah, jatuh tepat di atas perapian. Tubuhnya berguling beberapa kali hingga menggelinding sejauh sekitar tiga meter, lalu bangkit kembali.
Api unggun di tanah padam tertindih tubuhnya.
“Raung...”
Beberapa bagian bulu harimau itu hangus terbakar. Di kepalanya muncul beberapa benjolan melepuh. Dengan marah, ia mengangkat kepala dan melotot ke arah She Yi serta Zhao Wanqi di atas pohon, seakan-akan menyalahkan mereka karena membuat api. Setelah itu, ia kembali memusatkan pandangan kepada panda raksasa, menunggu kesempatan untuk menyerang lagi.
Mata panda raksasa itu memancarkan cahaya merah tua yang haus darah. Punggungnya menempel pada batang pohon, sementara cakar hitam putihnya terangkat di udara. Kedua binatang buas itu saling berhadapan.
She Yi menarik napas dingin. Gambaran panda raksasa yang selama ini ia kenal benar-benar terbalik. Ia mengangkat alis, seolah baru teringat bahwa pada zaman dahulu panda raksasa memang konon disebut Pi Xiu, bahkan juga dikenal sebagai binatang pemakan besi.
Ia ingat, dalam legenda yang dicatat Sima Qian di dalam Catatan Sejarah, Catatan Lima Kaisar, sekitar empat ribu tahun silam ada seorang kepala suku bernama Kaisar Kuning. Dengan bantuan harimau, macan tutul, beruang, Pi Xiu, dan berbagai binatang buas lain yang telah dijinakkan, ia mengalahkan kepala suku lain, Kaisar Yan, di Banquan, yang kini berada di wilayah Luyuan, Henan.
Pi Xiu itu tidak lain adalah panda raksasa.
“Bocah, menurutmu siapa yang lebih kuat?” Zhao Wanqi menatap tegang duel antara panda raksasa dan harimau. Di matanya, panda raksasa itu adalah binatang buas yang sama ganasnya dengan harimau besar berdahi putih tersebut.
Sesungguhnya, panda baru dianggap sebagai harta nasional setelah abad kesembilan belas. Di mata orang-orang zaman dahulu, panda raksasa adalah binatang buas yang menakutkan.
“Kurasa harimau lebih kuat... Di mana belatimu? Usir harimau itu.”
Terpengaruh oleh pengetahuan dari masa depan, She Yi masih cenderung memihak panda raksasa di bawah pohon. Ia tidak ingin makhluk itu terluka.
“Kau ingin mati? Pi Xiu bisa memanjat pohon. Kalau harimau itu mati, kita berdua juga tidak akan selamat!”
Begitu Zhao Wanqi selesai berbicara, panda raksasa di dekat akar pohon mengangkat kepala. Matanya yang merah menyala memancarkan cahaya haus darah. Seperti yang dikatakan Zhao Wanqi, setelah membunuh harimau, sasaran berikutnya pasti mereka berdua.
“Aduh!”
Dahan di bawah kaki Zhao Wanqi patah dengan bunyi retakan. Tubuhnya pun terjerembap ke bawah. She Yi segera meraih lengan bajunya.
“Raung!”
Panda raksasa di bawah akar pohon membuka rahangnya, berdiri tegak, lalu mengayunkan cakarnya ke arah Zhao Wanqi.
“Ah! Cepat!”
Zhao Wanqi menjerit.
She Yi mengerahkan seluruh kekuatannya dan menarik Zhao Wanqi ke atas. Zhao Wanqi menjejakkan satu kaki pada batang pohon, lalu memanfaatkan tenaga tarikan She Yi. Dengan sekali loncatan, ia berhasil memanjat dan berdiri di dahan tebal tempat She Yi berada.
Dengan suara gedebuk, cakar panda raksasa menghantam udara kosong, lalu menampar batang pohon.
Pohon itu bergetar keras. Beberapa ranting kecil yang kering pun berguguran.
She Yi menarik napas dingin. Zhao Wanqi menempel erat pada tubuhnya, memeluk pinggangnya, masih belum pulih dari rasa takut.
“Raung!”
Melihat keadaan itu, harimau buas tersebut kembali menerjang. Panda raksasa segera berbalik dan mengayunkan cakarnya untuk menyambut serangan itu.
Dua binatang raksasa pun terlibat perkelahian sengit. Debu beterbangan dari tanah. Bagaimanapun cara harimau menyerang, panda raksasa itu tetap bertahan di dekat pohon, tidak bergeser sedikit pun.
Dengan punggung bersandar pada batang pohon, panda itu bertarung mati-matian melawan harimau besar berdahi putih. She Yi dan Zhao Wanqi di atas pohon menyaksikan dengan mata terbelalak. Kekuatan binatang buas sungguh luar biasa.
Pertarungan berlangsung selama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu kali makan. Pada akhirnya, pertempuran antara panda raksasa dan harimau besar berdahi putih pun mereda.
Harimau itu tetap tidak berhasil membunuh panda raksasa yang sedang mengamuk. Dengan enggan, ia meninggalkan tempat tersebut. Sebagai gantinya, bulu hitam putih panda raksasa itu kini dipenuhi gumpalan darah.
Ranting-ranting semak di sekitar mereka, juga rerumputan kering, berserakan dalam keadaan porak-poranda.
She Yi dan Zhao Wanqi merasa lega karena panda raksasa itu tidak memanjat pohon untuk menyerang mereka. Makhluk itu tetap bersandar pada batang pohon, mempertahankan posisi bertarungnya, seolah-olah sedang menjaga sesuatu.
Satu jam berlalu. Bulan sabit menggantung di langit. Cahayanya memang tidak terlalu terang, tetapi setidaknya malam itu tidak lagi segelap sebelumnya.
She Yi dan Zhao Wanqi yang berada di atas pohon sudah kelelahan. Selama satu jam itu, mereka bahkan tidak berani berbicara. Keduanya tetap mempertahankan posisi semula, takut membangunkan panda raksasa itu, yang mungkin saja akan memanjat dan menghabisi mereka berdua.
Panda raksasa di bawah pohon terus mempertahankan posisi bertarungnya, sama sekali tidak bergerak. Perut She Yi dan Zhao Wanqi mulai berbunyi keroncongan. Mereka saling berpandangan, sama-sama tak berdaya.
Dengan bantuan cahaya bulan yang perlahan semakin terang, keduanya mengamati panda raksasa itu dengan saksama. Mereka kemudian menyadari bahwa makhluk itu tampaknya... benar-benar tidak bisa bergerak, bukan sekadar tidak ingin bergerak.