Bab Tiga Puluh Delapan: Mabuk yang Sulit Diungkapkan
Pada saat ini, Yan Meina juga menoleh. Semula ia tidak berniat datang, tetapi mendengar bahwa bar ini adalah tempat berkumpulnya para pemuda dari kalangan berada di Kota A, mungkin ia bisa mencari pria kaya untuk membantunya keluar dari kesulitan. Tak disangka, ia benar-benar bertemu dengan orang yang paling tepat dan paling ingin ia temui.
Wajah kecil Yan Meina yang terkejut dipenuhi dengan kegembiraan saat melihat Huang Zhuoduo duduk di sudut. Sepasang matanya yang penuh perhitungan berputar beberapa kali di dalam rongganya, dan sebuah senyuman memesona mengembang di sudut bibirnya.
Tanpa menunggu orang suruhan Du Weilian datang mengundang, Yan Meina membawa segelas koktail dan berjalan menghampiri Huang Zhuoduo dengan penuh pesona. Seiring dengan suara ketukan sepatu hak tinggi di lantai marmer, lekuk tubuh indah yang terbalut gaun sifon ungu itu seketika berayun di hadapan mereka.
"Direktur Huang, sudah lama tidak jumpa."
Wajah Huang Zhuoduo sama sekali tidak menunjukkan ekspresi. Ia menunjuk ke kursi di sehadapannya dan mengucapkan satu patah kata dengan dingin.
"Duduk."
Ia duduk bersilang kaki, bersandar di sofa, lalu menyipitkan mata menatap Yan Meina sejenak. Kehadiran wanita itu di tempat seperti ini sungguh di luar dugaannya. Wanita ini menatapnya dengan tatapan datar tanpa emosi, membuat hatinya diliputi rasa gelisah dan panik yang entah dari mana datangnya.
Lagu "Tuan Ma Gan" telah usai dan berganti dengan "He Tang Yue Se". Alunan musik pengantar yang jernih dan mengalir bagai air pegunungan terdengar begitu merdu. Huang Zhuoduo sempat melamun memikirkan lagu sebelumnya, hingga ia mengabaikan secercah kilatan licik yang melintas di mata Yan Meina saat menatapnya.
************************
Aduh—kepala ini terasa mau pecah!
Huang Zhuoduo setengah menyipitkan matanya yang silau oleh terpaan sinar matahari. Hari sudah sangat siang. Ia bangkit duduk bagaikan orang yang baru saja terkejut. Saat selimut tipis di tubuhnya melorot turun, barulah ia menyadari bahwa dirinya dalam keadaan telanjang. Sepasang matanya dengan sigap memindai sekeliling; ini adalah kamar istirahat pribadi di dalam ruang kerjanya.
Ia merilekskan syarafnya, bersandar di kepala tempat tidur, dan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Ia hanya ingat bertemu dengan Yan Meina dan minum cukup banyak alkohol, tetapi seharusnya ia tidak sampai lupa bagaimana cara ia bisa kembali ke sini.
Minumannya dicampur. Ia teringat bahwa Yan Meina memesankan wiski untuk semua orang. Satu-satunya hal yang tidak boleh ia sentuh adalah minuman beralkohol yang dicampur. Du Weilian berniat menggantikannya minum, namun diprovokasi oleh Yan Meina hingga mengurungkan niatnya. Wanita itu sengaja membuatnya mabuk.
Huang Zhuoduo menggerakkan bola matanya. Mengabaikan sakit kepala akibat mabuk semalam, ia dengan terburu-buru memilih celana dari tumpukan pakaian yang berserakan di lantai untuk dikenakan, lalu berjalan tanpa alas kaki menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian cadangan. Huang Zhuoduo mengangkat lengannya dan mencium samar aroma parfum di tubuhnya sekelebat. Matanya menatap tajam kaus kaki yang terselip di bawah sudut seprai di samping tempat tidur. Tulang rahangnya menggeretak karena menahan geram, sementara ekspresi kesal dan kejam di wajahnya semakin menjadi-jadi.
Ia melepaskan kembali pakaian yang baru saja dikenakannya dalam beberapa gerakan cepat, lalu melangkah masuk ke kamar mandi tanpa memedulikan tubuhnya yang telanjang.
Mengenakan sehelai handuk putih di pinggangnya, ia duduk di tepi ranjang dengan wajah suram. Tetesan air dari ujung rambutnya jatuh satu per satu membasahi bahunya yang bidang.
AC sentral mengeluarkan embusan udara dingin, membuat ruangan terasa membeku, namun pria yang sekujur tubuhnya basah itu sama sekali tidak merasakannya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, seolah berusaha meredam emosi yang nyaris meledak di dalam dadanya.
Beberapa ketukan pintu terdengar. Sun Chenghhan mendorong pintu dan menjulurkan separuh kepalanya. Ketika ia melihat Huang Zhuoduo duduk di tepi tempat tidur, barulah ia melangkah masuk dan menutup pintu dengan perlahan.
"Bos, Anda sudah bangun?"
Huang Zhuoduo mengangkat matanya yang memerah dan menyipitkan mata menatap Sun Chenghhan sejenak.
"Siapa yang pergi dari sini pagi tadi? Apakah ada yang melihatnya?"
Sun Chenghhan merasa terkejut di dalam hati, namun ia tetap berdiri dengan tenang seperti biasa dan menjawab, "Sepertinya tidak ada yang melihat."
Ia berhenti sejenak. Mengetahui ada wanita yang menghabiskan malam di ruang kerja Huang Zhuoduo, ia sempat mengira itu adalah Mu Yingying dan merasa heran karena hubungan mereka berkembang begitu cepat. Tak disangkanya, wanita itu ternyata adalah Yan Meina.
Tak kuasa menahan rasa penasarannya, Sun Chenghhan memandang Huang Zhuoduo dengan bingung dan bertanya tanpa sungkan, "Bos, bagaimana bisa Anda tidur dengan Yan Meina? Pesta Wei Lian..."
Huang Zhuoduo mengangkat tangan untuk menghentikan perkataan Sun Chenghhan selanjutnya, lalu memejamkan mata dengan perasaan kesal. Sama seperti dugaannya, wanita itu benar-benar Yan Meina. Giginya bergemeretak di dalam mulut. Ketika mata hitamnya kembali terbuka, tatapannya menyiratkan kekejaman yang mampu meruntuhkan jiwa.
"Kalian tidak usah memanggil yang lain ke atas untuk rapat. Hubungi ponselku jika ada urusan, lalu antarkan aku ke bandara."
"Bos, beberapa proyek ini harus segera dibahas. Pihak Pak Zhang terus mendesak, dan kita belum mendapatkan jatah tender untuk tahap ketiga."
Melihat Huang Zhuoduo telah kembali bersikap profesional, Sun Chenghhan merasa sedikit lega. Ekspresi Huang Zhuoduo tadi tidak tampak seperti sesuatu yang bisa diselesaikan begitu saja. Apakah sungguh telah terjadi sesuatu? Ia sangat penasaran bagaimana cara Huang Zhuoduo menghadapi Mu Yingying, namun ia mengamati ekspresi atasannya itu dengan hati-hati dan tidak punya keberanian untuk terus mendesak.
Dengan sedikit tersentak, Huang Zhuoduo mulai mengenakan pakaiannya kembali, sementara wajahnya tampak begitu dingin tanpa menyisakan emosi apapun.
"Nanti aku akan mengirimimu pesan singkat. Buang tempat tidur itu, dan juga barang-barang ini, buang semuanya."
Huang Zhuoduo menendang pakaian di lantai dengan rasa jijik. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Mu..." ia berhenti sejenak, "Lupakan, tunggu sampai aku kembali baru dibahas. Urusan hari ini, tidak boleh ada celah sedikit pun."
Berada di negeri orang, Huang Zhuoduo terusik oleh kejadian pagi tadi. Wajahnya menyiratkan kekesalan, penyesalan, dan yang lebih dominan adalah sifat dingin yang mengerikan. Sepasang mata hitamnya yang suram tampak begitu menyeramkan bagaikan iblis. Ia terus menerus membolak-balik buku telepon di ponselnya, hingga matanya tiba-tiba memancarkan kilat ketegasan yang kejam. Jarinya dengan ringan menyentuh layar untuk melakukan panggilan.
Begitu panggilan tersambung, Huang Zhuoduo mengobrol dengan santai dan akrab dengan orang di seberang. Sesaat kemudian, ia baru mengarahkannya ke pokok permasalahan. Ketika ia menyampaikan maksudnya, tanggapan yang ia terima adalah keheningan sejenak, sebelum akhirnya orang tersebut menyetujuinya dengan setengah hati dan menambahkan beberapa patah kata yang tidak jelas.
Setelah sambungan telepon diputus, Huang Zhuoduo tersenyum penuh kemenangan. Ia menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya sambil bergoyang perlahan, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan santai. Tangan kanannya kembali memanggil nomor lain, memberikan beberapa instruksi sebelum akhirnya membanting ponselnya begitu saja ke atas meja.
************************
Yan Meina sedang membawakan siaran berita malam di studio. Di dalam layar kaca, ia tampak anggun dan bermartabat, dengan senyuman ramah dan rambut bergelombang panjang yang tergerai lembut di kedua bahunya. Ia mengakhiri siaran tersebut dengan senyuman khasnya.
Melihat pengarah acara melamby-lambaikan tangan padanya, ia dengan cepat menghilangkan senyuman di wajahnya, merapikan naskah di atas meja, berbasa-basi sejenak dengan rekan pembawa berita pria di sampingnya, lalu mengangguk kecil kepada para staf yang sibuk sebagai tanda pamit sebelum berjalan menuju ruang belakang.
Apa arti stasiun televisi kota ini? Bahkan kepala stasiun pun tidak bisa menjanjikan posisi pembawa berita utama untuknya. Jika dilihat-lihat, hanya Huang Zhuoduo yang bisa memberinya apa yang ia inginkan. Memikirkan Huang Zhuoduo, ekspresi Yan Meina menjadi rumit. Seandainya ia bisa melepaskan ambisi kariernya yang terlalu kuat, lebih memerhatikan pria itu, dan tidak menuntut terlalu banyak, mungkin... Selama masa hubungan mereka, bukannya ia tidak memahami tabiat Huang Zhuoduo. Pria itu tadi pagi...
Seandainya Huang Zhuoduo tahu bahwa dirinya telah dijebak, mengingat sifatnya yang kejam... Memikirkan hal ini, Yan Meina bergidik ngeri. Ia memeluk erat folder di dalam pelukannya sambil menggertakkan gigi untuk bertahan, berdoa dalam hati agar Huang Zhuoduo tidak pernah mengetahuinya. Selama ia bisa dengan lancar memasuki keluarga Huang dan menemui orang tua Huang Zhuoduo, segalanya akan terselesaikan dengan mudah. Sekalipun Huang Zhuoduo menolak setengah mati, pria itu tetap harus menikahinya dengan patuh, dan ia akan melangkah masuk ke keluarga Huang dengan penuh kemegahan.
Bayangan pesta pernikahan yang megah dan mewah melintas di benak Yan Meina. Ia harus mengenakan gaun pengantin dan cincin kawin rancangan khusus, yang kemeriahannya melebihi pernikahan para artis, dan ia akan memilih mobil Lamborghini sebagai kendaraan pengantin. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyuman sinis saat ia menyapu pandangan meremehkan ke arah meja-meja bilik di kantor itu. Huh, Wang Xiqing si rubah tua itu benar-benar membuat kebencian di hatinya meluap-luap. Yan Meina tanpa sadar mengelus perutnya sendiri, mengenang kalimat yang diucapkan oleh dokter kepadanya. Ia tidak punya pilihan selain menjebak Huang Zhuoduo, mempertaruhkan seluruh masa depan dan kehidupannya pada pria tersebut.